SEJAHTERA BADMINTON CLUB

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

PENGENDALIAN EMOSI KUNCI MERAIH PRESTASI

Posted by valsus on February 1, 2009

Oleh: Prayoga Ahmadi Triyono

(Bulutangkis.com) – Olah raga bulutangkis (badminton) secara umum adalah termasuk kategori olah raga permainan. Namun seiring dengan berjalannya waktu, bulutangkis berkembang menjadi bukan sekadar sebuah permainan di lapangan, bagi banyak orang bulutangkis adalah olahraga yang mengajarkan berbagai makna filosofis.

Secara individual, permainan bulutangkis mengajarkan kita menguasai diri di lapangan. Kita juga belajar bagaimana mengelola emosi agar tetap tenang dan percaya diri sehingga dapat secara taktis mengubah strategi saat keadaan tertekan atau tertinggal. Sedangkan saat bermain ganda, pemain belajar bagaimana bekerja sama dan berkomunikasi dengan mitranya. Mencoba untuk saling menutupi kelemahan mitra, saling melindungi, saling memberi semangat, saling pengertian dan saling memberi motivasi & apresiasi.

Itulah sedikit filosofi yang banyak bermanfaat di tempat kerja dan kehidupan. Filosofi yang bagus untuk pengembangan diri.

Selain mengajarkan filosofi berharga, banyak manfaat besar dengan turun ke lapangan bulutangkis. Bagi penulis pribadi, bermain bulutangkis merupakan kesenangan yang tidak bisa tergantikan oleh apa pun. Bila berbicara tentang tekanan di pekerjaan, bulutangkis adalah obat penghilang stres. Dengan bermain bulutangkis, penulis juga bisa berteriak sesuka hati tanpa ada yang melarang. Selain itu, bermain bulutangkis membuat stamina tubuh terjaga. Kita jadi jarang sekali sakit (walaupun sakit, sehat rezeki dst itu adalah anugrah dari Yang Maha Kuasa).

Melalui bulutangkis, kita juga bisa memiliki banyak teman. Bukan sembarang teman. Melainkan teman sejati yang memiliki tingkat hubungan kekeluargaan tinggi. Tidak jarang orang yang mencari dan menemukan jodohnya di lapangan bulutangkis (ehem… he..he..he).

Karena begitu cintanya pada bulutangkis, dulu penulis sempat berpikir untuk serius menjadi atlet. Tetapi orang tua tidak mengizinkan. Mereka lebih menekankan di bidang akademik. Saya sendiri lebih mengutamakan sekolah, dengan tidak lupa tentunya mengukur kemampuan. Karena penulis hanya menang bulutangkis pada tingkat daerah (RT khususnya he.. he..).

Pembaca yang budiman, kali ini penulis ingin mengupas sedikit tentang filosofi olah raga bulutangkis khususnya saat kita bermain ganda. Teman-teman, pernahkan anda bermain bulutangkis bermitra dengan pasangan yang sangat temperamen? Kondisi ini sungguh membuat poin demi poin laksana granat yang siap meledak. Secara natural, bermain ganda adalah sebuah permainan yang seimbang dua lawan dua. Namun dalam kondisi pasangan yang emosional kondisi itu berubah menjadi satu lawan tiga, dua lawan di seberang jaring (net) dan satu lawan yang berstatus sebagai mitra. Kejam dan sungguh tidak berperasaan…

Penulis sendiri sering mengalami, kadang hati ini begitu remuk saat mitra melontarkan ejekan atau makian (walaupun itu benar adanya). Jantung ini juga terasa mau lompat ketika mitra membanting raket. Rasanya badan ini yang sedang dibanting.

Dalam kondisi yang demikian tidak menguntungkan biasanya penulis hanya ingat kepada filosofi permainan bulutangkis ganda di atas, lantas diam dan tersenyum. Ingat tersenyum. Karena dengan senyum banyak masalah yang ruwet jadi mudah dan emosi menjadi frustasi, eh, salah maksudnya menjadi pengertian, He.. he.

Pembaca yang budiman, tahukah anda bahwa emosi itu sebenarnya selain sumber malapetaka juga merupakan sumber kekuatan yang sangat dahsyat?

Anthony Dio Martin penulis buku Emotional Quality Managament (2003) dan Audio Book Emotional Power (2004), mengungkapkan bahwa kesuksesan itu ditentukan oleh visi, imajinasi, aksi dan emosi. Emosi berperan penting, karena manusia saling berhubungan satu dengan yang lain.

Seringkali kita menganggap bahwa emosi adalah hal yang begitu saja terjadi dalam hidup kita. Kita menganggap bahwa perasaan marah, takut, sedih, senang, benci, cinta, antusias, bosan, dan sebagainya adalah akibat dari atau hanya sekedar respon kita terhadap berbagai peristiwa yang terjadi pada kita.

Daniel Goleman dalam bukunya, Emotional Intelligence, mendivinisikan emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Sedangkan Anthony Robbins dalam Awaken the Giant Within menunjuk emosi sebagai sinyal untuk melakukan suatu tindakan.

Di sini ia melihat bahwa emosi bukan akibat atau sekadar respon, tetapi justru sinyal untuk kita melakukan sesuatu. Jadi dalam hal ini ada unsur proaktif, yaitu kita melakukan tindakan atas dorongan emosi yang kita miliki. Bukannya kita bereaksi atau merasakan perasaan hati atau emosi karena kejadian yang terjadi pada kita. Padahal sesungguhnya kemampuan kita dalam mengendalikan dan mengelola emosi kita merupakan faktor penentu penting keberhasilan atau kesuksesan dalam berbagai aspek kehidupan kita.

Sejak diperkenalkan Kecerdasan Emosi (Emotional Intelligence – EQ) oleh Daniel Goleman pada 1995 tersebut, perhatian masyarakat mulai beralih dari kecerdasan intelektual (IQ) semata kepada kecerdasan emosional. Dan tahukah anda bahwa kesuksesan seseorang itu 80% ditentukan oleh EQ ketimbang IQ.

Pembaca yang budiman, jelas bukan, seandainya mitra bulutangkis kita yang emosional tersebut tahu bahwa emosinya itu merupakan sumber kekuatan yang sangat dahsyat maka sebenarnya kelemahannya merupakan kekuatannya, tentu dengan catatan jika dia dapat mengelolanya dengan baik.

Lantas timbul satu pertanyaan, bagaimana mengelola emosi?

Dr. Patricia Patton dalam bukunya Emotional Quotient mengungkapkan bahwa untuk mampu mengatur emosi adalah dengan cara belajar.

  1. Belajar mengidentifikasikan apa saja yang bisa memicu emosi kita dan respon apa yang biasa kita berikan.
  2. Belajar dari kesalahan, belajar membedakan segala hal di sekitar kita yang dapat memberikan pengaruh dan yang tak dapat memberikan pengaruh pada diri kita.
  3. Belajar selalu bertanggung jawab pada setiap tindakan kita.
  4. Belajar mencari kebenaran, belajar memanfaatkan waktu secara maksimal untuk menyelesaikan masalah.
  5. Belajar menggunakan kekuatan sekaligus kerendahan hati.

Kelima hal inilah yang apabila kita pelajari akan memudahkan diri kita dalam menjalin hubungan dengan orang lain.

Dengan kelima hal inilah maka dengan mudah kita mampu mengendalikan emosi itu. Kita mampu mengelola emosi itu sehingga bisa kita endapkan dalam hati. Jika kita mampu mengelolanya maka jadilah emosi itu sebagai energi untuk memajukan diri. Contohnya, seorang Peter Gade yang mampu mengelola emosinya, menggunakan semangat dari kemarahan karena sering disepelekan karena usianya yang sudah tua) menjadi pemicunya dalam mengejar prestasi sehingga dia bisa membuktikan kalau dia bukan si pecundang tua yang dapat disepelekan dalam TUC kemarin.

Tetapi yang tak boleh dilupakan, sebagai makhluk sosial, manusia tak bisa menghindarkan diri untuk berinteraksi dengan manusia yang lain, dalam hal ini dengan kemampuan menggunakan emosi sebagai pembawa informasi, kita bisa melihat sisi, kadar intensitas emosi orang lain yang muncul dari komunikasi non-formalnya, berupa ekspresi, tekanan nada suara, gerakan ataupun bahasa tubuh yang dipakainya. Jika kita mampu membaca bahasa-bahasa itu maka bisa diupayakan tindakan kontra reaksi dari emosi orang tersebut. Umpamanya, jika kita lihat ada gejala mitra atau lawan bicara kita kurang suka, maka kita antisipasi dengan dengan berbicara yang bersifat menetralkan perasaan orang tersebut. Setelah kita pahami masalah emosi diri maupun emosi orang lain, maka secara mudah kita menjalin hubungan interpersonal dengan orang lain. Sehingga diharapkan muncul pribadi yang menyenangkan. Seseorang yang memiliki kecerdasan emosi yang baik akan peka terhadap situasi apapun yang sedang terjadi, serhingga dengan mudah menyiapkan strategi kontra situasi terhadap suatu konflik yang ada, termasuk dalam bermain bulutangkis.

Pembaca yang budiman, terakhir pesan yang ingin penulis sampaikan adalah, bulutangkis adalah sebuah olah raga permainan yang melibatkan fisik dan emosi, dengan pengelolaan emosi yang baik maka kita akan mendapatkan seluruh filosofi dalam olah raga. Tubuh yang sehat, tenang dan percaya diri, terbiasa bekerja sama dan berkomunikasi dengan mitranya. Terlatih untuk saling menutupi kelemahan mitra, saling melindungi, saling memberi semangat, saling pengertian dan saling memberi motivasi & apresiasi.

Sehingga bulutangkis tidak sekedar menjadi olahraga obat penghilang stress saja tetapi dengan bulutangkis kita bisa memiliki banyak teman sejati yang memiliki tingkat hubungan kekeluargaan tinggi serta prestasi. Dan tidak lupa sambil ngecengin si Suiti tentunya. He he he.

Salam olah raga dan tetap jaga emosi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,802 other followers