FUNG PERMADI : Sempat Putus Asa
Posted by valsus on February 6, 2009
Radar Tarakan, Jumat, 6 Februari 2009
Sempat Putus Asa Karena Cedera Punggung Berkepanjangan
Fung Permadi, Mantan Pemain Pelatnas yang Raih Prestasi Tingkat Internasional
TARAKAN – Fung Permadi, membaca sekilat nama ini, mungkin tidak asing bagi sebagian orang terutama yang hobi dengan olahraga bulu tangkis. Ya, beliau salah satu mantan atlet bulu tangkis pelatnas Indonesia di era 90-an. Kiprahnya di kancah perbulu tangkisan pun tidak diragukan lagi. Sejumlah prestasi berhasil diraihnya, tidak hanya di tingkat nasional, namun juga internasional.
Diantaranya juara II kejuaraan bulu tangkis dunia tahun 1999 di Denmark, Juara I, Swiss Open di Basel, Swiss tahun 1999 dan juara 1 Gran Prik Final tahun 1996 di Bali, Denpasar. Sedangkan di tingkat nasional salah satunya juara I Kejurnas Palembang tahun 1992.
Siapa sangka, mantan pebulu tangkis Indonesia itu hadir juga di sirnas bulu tangkis Kalimantan Wali Kota Tarakan Open 2009, Tarakan. Statusnya memang bukan sebagai atlet. Melainkan tim pemandu bakat yang di utus PB PBSI untuk memantau pebulu tangkis muda berbakat.
Saat ditemui Radar Tarakan kemarin, Fung Permadi mengaku sangat bangga diri bisa memberikan yang terbaik bagi keluarga dan klub bulu tangkis yang pernah mendidik dirinya sampai bisa menjadi atlet bulu tangkis senior, yakni Djarum Kudus. Juga kepada negara.
“Mereka-mereka inilah yang memberikan saya semangat serta upaya untuk bisa menjadi atlet bulu tangkis dengan berhasil meraih sejumlah prestasi baik tingkat nasional maupun internasional,” kata pria kelahiran Purwokerto, 30 Desember 1967 itu.
Pria yang kini dikaruniai 2 anak, yakni Jason dan Erin hasil perkawinannya dengan Sisilia, mengakui dibalik kesuksesannya itu banyak cobaan yang dialaminya mulai dari menghadapi kejenuhan, capeknya saat latihan, tekanan mental sampai biaya, menjadi tantangan beratnya saat itu.
“Kejenuhan yang saya maksud adalah, saat awal bergabung dengan klub olahraga, semangatnya memang tinggi. Namun lama-kelamanan jenuh dan berhenti dari klub itu untuk mencari profesi baru. Sedangkan tekanan mental terkadang atlet ditargetkan harus bisa juara dalam setiap mengikuti kejuaraan. Kalau tercapai tidak jadi masalah, kalau kalah menjadi beban besar,” terang pria yang mengaku mulai menekuni dunia bulu tangkis sejak usia 8 tahun.
Mengenai biaya, dirinya mengakui awalnya saat bergabung dengan klub bulu tangkis Tunas, di Purwokerto, Jawa Tengah, semua dibiayai orang tua. “Orang tua saya sangat mendukung saat saya masuk klub bulu tangkis untuk berlatih. Kurang lebih 7 tahun, saya pindah ke Djarum Kudus saat usiapada saat berumur 15 tahun. Itu pun karena keinginan orang tua saya. Bukan saya,” tuturnya.
Ia menceritakan salah satu pengalamanya yang hampir membuat putus asa dan hendak berhenti dari olahraga bulu tangkis adalah saat mengalami cedera punggung yang berkepanjangan. Berbagai upaya dilakukan dengan cara berobat kemana-mana.
“Karena saya memiliki keyakinan yang kuat, punya mimpi untuk menjadi atlet bulu tangkis yang handal, serta dorongan semangat dari pelatih akhirnya itu bisa teratasi, saya terus berobat kemana-mana dan akhirnya bisa sembuh juga,” ceritanya.
Ia berharap bagi atlet bulu tangkis maupun olahraga lainnya yang masih muda, jika ingin menjadi atlet yang mempunyai keahlian bermain baik dan bisa banyak raih prestasi agar bisa harus memiliki keinginan yang besar untuk mendalami olahraga yang digeluti, punya impian yang kuat jadi juara dan konsentrasi baik terhadap masalah yang kecil terlebih lagi yang besar. “Artinya jangan pernah mengganggap remeh suatu masalah, jika ada masalah cepat selesaikan agar jangan menambah beban nantinya,” tegasnya. (kik)







