PIALA SUDIRMAN, KEBANGGAAN YANG BELUM PERNAH KEMBALI
Posted by valsus on February 15, 2009
(Disadur dari kompas dengan sedikit editing dengan tanpa mengurangi maksud pemberitaannya)
Piala Sudirman, Kebanggaan yang Belum Pernah Kembali
Cabang olahraga bulu tangkis adalah salah satu cabang lain yang memiliki kejuaraan beregu campuran, selain tenis. Memperebutkan Piala Sudirman, kejuaraan bulu tangkis beregu campuran ini secara rutin diselenggarakan dua tahun sekali sejak 1989.
Terlihat dari namanya, Piala Sudirman memang berasal dari Indonesia. Nama piala ini diambil dari nama mantan pemain di era tahun 1940-an, Dick Sudirman (1922-1986).
Dick juga pernah menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PB PBSI) selama 22 tahun, pada periode 1952-1963 dan 1967-1981. Suharsono Suhandinata, yang merupakan rekan almarhum dalam lobi bulu tangkis internasional, adalah orang pertama yang mengusulkan agar nama Sudirman dijadikan sebagai nama kejuaraan.
Namun, ketika mengajukan ide itu ke dunia bulu tangkis internasional pada 1986, belum diketahui pasti nama Piala Sudirman akan digunakan sebagai lambang kejuaraan seperti apa.
Ide untuk menjadikan Piala Sudirman sebagai supremasi kejuaraan beregu campuran kemudian muncul pada sidang Dewan Federasi Bulu Tangkis Internasional (IBF)-sekarang telah berganti nama menjadi Federasi Bulu Tangkis Dunia/WBF-pada 1987, di sela-sela kejuaraan dunia yang berlangsung di Beijing, China. Format yang digunakan adalah dengan mempertandingkan lima nomor yang selama ini dimainkan dalam turnamen individu, yaitu tunggal putra dan putri, ganda putra dan putri, serta ganda campuran.
Usul tersebut muncul tak lain karena telah ada kejuaraan beregu putra Piala Thomas, yang diambil dari nama Sir George Thomas dan kejuaraan beregu putri Piala Uber dari Betty Uber.
Indonesia kemudian diputuskan menjadi tuan rumah kejuaraan Piala Sudirman yang pertama pada 24-29 Mei 1989, setelah menang dalam persaingan dengan Denmark. Digelar di Istora Senayan Jakarta, kejuaraan ini diikuti 28 tim.
Dalam perjalanannya, tim peserta terus bertambah dan hingga saat ini dalam setiap penyelenggaraannya, Piala Sudirman selalu diikuti tak kurang dari 50 negara. Tidak seperti Piala Thomas dan Uber, kejuaraan Piala Sudirman tak mengenal babak kualifikasi, melainkan menggunakan sistem promosi dan degradasi.
Tim peserta yang menempati posisi teratas di setiap grup, kecuali Grup I, mendapat promosi untuk berkompetisi pada dua tahun berikutnya. Sebaliknya, peserta terbawah di setiap grup, kecuali Grup 7, akan terdegradasi. Setelah Sepuluh kali terselenggara, hanya ada tiga negara yang pernah membawa pulang piala yang terbuat dari emas 22 karat tersebut dan ketiganya berasal dari Asia, yaitu Indonesia, Korsel, dan China.
Indonesia menjadi juara pada penyelenggaraan pertama, setelah itu pada dua penyelenggaraan berikutnya piala direbut Korsel yang juga menjadi juara pada tahun 2003.
Dalam enam kali pelaksanaan lainnya, China mendominasi dengan lima kali memboyong piala tersebut.
Dengan demikian, hingga saat ini Piala Sudirman hanya menjadi kebanggaan supremasi kejuaraan dunia dari Indonesia dan belum lagi menjadi kebanggaan prestasi bulu tangkis Tanah Air. Bagaima di tahun 2009 ini ? Mudah mudahan keberuntungan di kandang harimau terus berlanjut … Semoga.







