Atik Jauhari Susun rencana menjelang pensiun
Posted by valsus on March 8, 2009
Sigit Purnomo
Produser BBC Siaran Indonesia
Ditemui di National Indoor Arena Birmingham disela-sela perhelatan kejuaraan All England Atik Jauhari memakai jaket berwarna merah, tapi di belakangnya bukan bertuliskan Indonesia, melainkan India.
Dengan logat Sunda yang masih kentara, Atik bercerita kalau sejak 19 Agustus 2008 dia melatih tim nasional India.
”Persatuan bulutangkis India memang secara khusus meminta saya untuk melatih pemain mereka” ujar Atik.
”Kebetulan saat itu kontrak saya dengan Thailand juga sudah berakhir, jadi saya terima tawaran India itu” tambah Atik.
Atik melatih Thailand pada periode 2006-2008. Dan, sebelum itu, lelaki yang kini berusia 59 tahun itu juga pernah melatih tim nasional Swedia.
”Tapi disela-sela itu saya juga pernah kembali menangani pemain di Cipayung sekitar tahun 2004 hingga 2006,” tambah Atik.
”Totalnya sekitar 27 tahun saya melatih pebulutangkis nasional Indonesia, pemain-pemain seperti Liem Swie King, Icuk Sugiarto sampai Ricky/Rexy dan Chandra/Tony itu, saya yang ikut menangani,” ceritanya.
”Sebagai pelatih yang sudah banyak menelurkan banyak pemain dunia tentu menjadi tantangan bagi saya untuk bisa membagi ilmu terutama bagi negara lain yang membutuhkan,” kata Atik saat mengenai keputusan pertanyaan mengenai kenapa dia mau melatih India.
Selain itu menurut Atik, faktor lain yang menjadi pertimbangannya alasan dia bersedia melatih India adalah kelengkapan sumber daya di negara itu.
”India cukup menjanjikan dari sisi pemain dengan kualitas yang lumayan dan mereka juga memiliki fasilitas yang bagus,” kata Atik yang sambil tertawa ia menambahkan ”nilai kontrak yang mereka tawarkan juga bagus”, tapi dia enggan menyebutkan seberapa besar nominal yang dia terima dari Pengurus Bulutangkis India.
Ketika ditanya mengenai seperti apa kualitas pemain India, Atik menjawabnya dengan mengatakan kualitas pemain India masih kalah jauh dari Indonesia
”Jangan dibandingkan dengan kualitas pebulutangkis Indonesia, perlu diketahui kalau di India orang yang mau menjadi atlit bulutangkis berasal dari kalangan menengah ke atas, beda dengan Indonesia, jadi penanganannya juga beda,” tuturnya.
”Tapi India saat ini memiliki pemain potensial, seperti tunggal putri Saina Nehwal yang bisa mencapai babak perempatfinal Olimpiade Beijing, dan di sektor putra ada Chetan Anand yang kini masuk dalam top 15,” katanya.
Target medali
Atik mangaku sistem pelatihan yang diterapkannya di India tidak jauh berbeda dengan pola yang dia lakukan semasa melatih di Indonesia.
Oleh Persatuan Bulutangkis India Atik Jauhari dikontrak dua tahun setengah dan ditargetkan membawa tim bulutangkis negara itu menjadi juara umum cabang olahraga ini di ajang Commonwealth Games 2010 nanti.
”Setidaknya merebut 4 medali emas di ajang itu,” kata Atik.
Menurut Atik secara pribadi dia memiliki target sendiri, yaitu membawa tunggal putra India Chetan Anand sebagi pemain kelas dunia dengan target mencapai peringkat 5 dunia.
Menanggapi pertanyaan apakah kontraknya akan diperpanjang jika target itu dicapai, dengan lugas Atik menjawab akan menolaknya.
”Saya akan menolaknya, setelah ini saya akan pensiun sebagai pelatih tim nasional, di rumah saya ada lapangan bulutangkis, saya akan melatih disana mencari bibit baru di daerah,” tambahnya.
Menurut Atik, menjadi pelatih di luar negeri bagi saya seperti mendapat tugas sebagai duta negara, kami orang Indonesia yang sekarang melatih di luar negeri tetap memiliki rasa nasionalisme dan mengedepankan Indonesia.
”Tapi, tentunya tetap menjunjung tinggi profesionalisme sebagi pelatih yang dikontrak oleh negara asing dengan menjadikan pebulutangkis negara itu menjadi lebih baik, dan jika itu tercapai tentunya menjadi hal yang membanggakan,” jelas Atik ketika ditanya mengenai apakah bangga menjadi pelatih Indonesia di luar negeri.
(Sumber: BBCIndonesia.com)







