SEJAHTERA BADMINTON CLUB

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

Wilson Badminton Swiss Open 2009 Team MBI dan staff KBRI Swiss bertemu dengan Team Indonesia

Posted by valsus on March 10, 2009

Oleh: Sudarnianto Bin Mat Sarjo
Langsung dari Basel, Swiss

(Bulutangkis.com) – Senin 09 Maret 2009 jam 11.45, cuaca dingin dengan suhu 3 derajat seakan menghalangiku untuk meninggalkan apartment menuju station kereta api Basel. Saya bulatkan niatku sambil kuraih jacket tebal dan pakaian musim dingin. SMS dari staff KBRI Swiss Bapak Hubertus Djatmiko Witjaksono (yang lebih akrab dipanggil Pak Miko) tentang jadwal tiba di basel saya terima.

Dengan semangat 45, saya menuju stasiun kereta api Basel dan menemui Pak Miko. Hujan yang bercampur butiran es kecil (bhs Jerman: der Hagel) mengguyur kota Basel. Kami berdua naik tram nomor 8 dan berganti nomor 6 menuju hotel Ramada. Saya mewakili team MBI (Masyarakat Bulutangkis Indonesia) bersama Pak Miko menemui Team Indonesia di Lobby Hotel Ramada.

Sewaktu kami berdua tiba di Lobby Hotel tersebut, terlihat para atlit, pelatih sedang ngantri check in di depan counter reception. Kami berdua duduk di kursi warna merah yang menjadi warna utama lobby hotel tersebut sambil melihat isi lobby.

Setelah beberapa menit berlalu, para atlit dan pelatih saling berdiskusi. Saya mengucapkan selamat datang kembali di Basel kepada para atlit yang kebanyakan sudah saya temui tahun lalu. Kemudian para atlit menuju lift dan meninggalkan lobby, sedang para pelatih dan team lain masih duduk-duduk dan ngobrol bersama kami berdua.

Saya juga sempat diperkenalkan oleh Bapak I Gusti Made Oka selaku Wakil Ketua II PBSI kepada para team Indonesia. Kami memisahkan diri dari team saat mereka sedang diskusi internal. Setelah mereka usai berdiskusi internal, saya banyak ngobrol dengan I Gusti Made Oka beserta Kasubid. Psikologi PBSI Ibu Lilik Sudarwati A.S.Psi.

Terlihatlah cerah muka yang ramah beliau mengawali obrolan sekitar badminton dan tentunya tentang hasil All England yang kurang menyenangkan. Di sela-sela obrolan, saya sesekali menanyakan hal tentang target di Swiss Open 2009 ini. Bapak Gusti mengharapkan hasil maksimal dari penampilan para atlit-atlit kita. Juga harapan terhindar dari cidera oleh Ibu Lilik seperti kejadian yang menimpa Sony Dwi Kuncoro tidak menimpa di Swiss Open ini.

Ibu Lilik menjelaskan bahwa Sony cidera urat syaraf di pinggang saat bangun tidur yang menyebabkan dia benar-benar tidak bisa bergerak sama-sekali, sehingga menang W.O diberikan kepada Ville Lang. Bahkan rencana diterbangkannya Sony langsung ke Jakarta harus dibuat karena cideranya lumayan berat, tetapi rencana itu urung karena sulitnya mengurus ticket balik lebih awal (early departure). Mau tidak mau Sony harus mengikuti rombongan ke Swiss dan besok baru bisa terbang ke Jakarta.

Selanjutnya pertanyaan saya kepada Bapak Gusti tentang dimasukkannya badminton ke kurikulum sekolah untuk bisa menghasilkan masa depan badminton Indonesia yang lebih bagus, Pak Gusti menjawab bahwa idenya sangat bagus akan tetapi untuk mewujudkan hal tersebut harus ada koordinasi yang bagus dari Pengda. Apakah Pengda siap memberikan fasilitas bagi pemain daerah? Memberi fasilitas bukan hanya memberi kesempatan bermain dalam GOR setempat, akan tetapi juga mengirim pemain daerah untuk mengikuti kejuaraan-kejuaraan nasional, mencarikan sponsor, dll.

Akhirnya setelah ngobrol panjang lebar, saya menunjukkan tempat untuk naik tram menuju ke St. Jakobshalle biar tidak ada yang tersesat. Acara kemudian berlanjut dengan MakBar alias Makan Bareng di restaurant Lily’s yang menyediakan bermacam-macam menu Asia. Para atlit dan pelatih banyak yang memesan nasi goreng udang. Saya memesan Ayam Tandoori, Pak Gusti memesan menu Thailand yatu Bai Kapao, sedang Ibu Lilik terkena rayuan para atlit dan pelatih untuk mencoba nasi goreng udang.

Satu persatu para atlit dan pelatih meninggalkan Lily’s dan menuju hotel untuk beristirahat.

Pesanan kami datang dan obrolan berlanjut sambil menikmati menu makan siang itu. Kalau team China menyapu bersih gelar juara di All England, kami bertiga tidak kalah dengan menyapu bersih menu yang kami pesan. Puas dan lega perut kami.

Beberapa menit sebelum kami membayar bill, tampak Taufik Hidayat beserta Pak Mulyo Handoyo menuju Lily’s. Kami bertiga menyapa dan ngobrol sebentar. Akhirnya kami meninggalkan restoran dan menuju Super Market Migros untuk membeli air mineral untuk dibawa ke hotel. Akhirnya kami berpisah dan saya harus pulang untuk membuat rangkuman berita ini.

Besok kami akan berjumpa di St.Jakobshalle. Marilah kita berdo’a semoga Tuhan memberikan perlindungan dari cidera dan kemenangan lewat permainan bagus dari para atlit kita di St. Jakobshalle nanti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,802 other followers