HASIL ALL ENGLAND CERMIN KEKUATAN DI PIALA SUDIRMAN
Posted by valsus on March 12, 2009
Jakarta, 11/3 (Sports.Roll) – Pada turnamen All England pekan lalu, Indonesia kembali tanpa gelar, kondisi yang sudah berlangsung sejak 2003 ketika pasangan Candra Wijaya/Sigit Budiarto mempersembahkan gelar juara terakhir bagi Merah Putih.
Bahkan pemain di bawah Merah Putih yang berhasil mencapai semifinal adalah Taufik Hidayat dan Flandy Limpele –yang berpasangan dengan pemain Rusia Anastasia Russkikh– yang sudah berada di luar Pelatnas.
Sedang hasil terbaik yang diraih anak-anak Pelatnas Cipayung adalah terhenti di perempatfinal seperti yang terjadi pada unggulan pertama ganda campuran Nova Widianto/Liliyana Natsir, pasangan Devin Lahardi/Lita Nurlita, dan Bona Septano/Muhammad Ahsan.
Lebih menyakitkan lagi, kelima gelar dalam turnamen yang sudah diselenggarakan sejak 1899 itu, disapu bersih oleh China, negara bulutangkis terkuat di dunia.
Melihat kenyataan tersebut, satu-satunya tunggal putri Indonesia yang pernah menjadi juara All England mengaku prihatin.
“Bagi setiap pemain bulutangkis, All England adalah satu cita-cita untuk suatu saat bisa menjuarainya, sehingga kalau melihat hasil kemarin, sedih, Indonesia tidak mendapat apa-apa, bahkan masuk final pun tidak,” ujar Susy Susanti yang menjadi juara All England pada 1990-1991 dan 1993-1994, saat dihubungi di Jakarta, Rabu.
Susy memperkirakan masalah regenerasi yang kurang baik menjadi penyebab mandegnya prestasi bulutangkis di Tanah Air.
“Ini pekerjaan rumah bagi PBSI untuk melakukan regenerasi pemain dengan cepat, namun semua itu tidak bisa diperoleh secara instan, perlu pengorbanan dan dana yang tidak sedikit,” katanya.
“Karenanya pemerintah seharusnya ikut berperan melakukan pembinaan, jangan hanya bisa menuntut prestasi tetapi tidak mau membina. Kalau menanam pasti akan menuai hasilnya,” tambah istri mantan pebulutangkis nasional Alan Budikusuma itu.
Peta kekuatan
Susy juga mengatakan, apa yang terjadi selama sepekan di National Indoor Arena, Birmingham itu bisa mencerminkan peta kekuatan pada kejuaraan dunia beregu campuran, Piala Sudirman yang akan berlangsung di Guangzhou,China, 10-17 Mei.
“Pasti, karena di All England semua negara, semua pemain kumpul, jadi kita bisa melihat peta kekuatan masing-masing. Kita bisa lihat kemajuan negara lain dan kekurangan kita seperti apa,” paparnya.
China yang berhasil memenangi kelima nomor, di sisi lain, Indonesia yang bahkan mencapai final pun tidak, sementara negara-negara lain seperti Malaysia, Denmark dan Korea mengalami peningkatan pesat.
Dilihat dari masing-masing nomor, Susy yang tahun lalu berhasil membawa tim putri Indonesia mencapai final Piala Uber, berkesimpulan bahwa untuk saat ini, satu-satunya nomor yang bisa diandalkan adalah ganda campuran melalui pasangan nomor satu dunia Nova Widianto/Lilliyana Natsir.
Untuk tunggal putra, Susy mengakui Taufik masih yang terbaik, namun karena sudah di luar tim nasional ia tidak tahu apakah juara Olimpiade Athena itu akan dipasang atau tidak.
Adapun Sony Dwi Kuncoro, katanya, sedang mengalami peningkatan, namun sering cedera seperti yang dialaminya saat ini, cedera pinggang memaksanya mundur dari babak kedua All England dan absen di Swiss Super Series. Sedang Simon Santoso dinilainya masih belum konsisten.
Andalan tunggal putri, peraih medali perunggu Olimpiade Beijing, Maria Kristin juga sedang terganggu cedera lutut kanan yang membuatnya absen di All England dan Swiss. Begitu pula andalan ganda putra, juara Olimpiade Markis Kido/Hendra Setiawan yang masih terkendala cedera lutut kiri Kido.
Padahal All England dan Swiss adalah dua turnamen Super Series terakhir sebelum Piala Sudirman digelar.
“Ganda putri apalagi, kosong banget. Dulu kita punya Vita Marissa/Liliyana Natsir tetapi sekarang tumpuan harapan hanya pada Greysia Polii/Nitya Krishinda yang masih perlu jam terbang dan penyesuaian karena belum lama berpasangan,” katanya.
Sementara beberapa pemain lain seperti Tommy Sugiarto, Adriyanti Firdasari, Pia Zebadiah, pasangan Bona Septano/Muhammad Ahsan dan Shendy Puspa/Meiliana Jauhari, Susy mengatakan mereka masih belum teruji dan membutuhkan jam terbang lebih banyak.
“Di lihat dari hasil kemarin, masih cukup jauh bagi mereka untuk mengemban tanggung jawab besar bermain dalam kejuaraan beregu yang menuntut setiap pemain harus menang, tidak bisa coba-coba karena akan mempengaruhi anggota tim lainnya. Tetapi tetap masih ada peluang,” ujarnya.







