Ketika Pasar Bebas Kalahkan PB PBSI Mempertahankan Pelatih Terbaik
Posted by valsus on May 30, 2009
Kalah Uang, Tidak Ada Regulasi yang Bisa Menahan
Kepergian Hendrawan ke Malaysia menjadi tamparan bagi PB PBSI. Karena tidak mampu memberikan kesejahteraan yang setara, Cipayung kehilangan salah seorang pelatih terbaik. Seberapa lemahkah PB PBSI dalam pasar pelatih ?
KEPERGIAN pelatih bulu tangkis Indonesia ke luar negeri sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Sejak 1990-an, “ekspor” juru latih sudah terjadi.
Halim Heryanto dan pasangannya, Tony Gunawan, memilih Amerika Serikat (AS) untuk menularkan ilmu. Rexy Mainaky menggarap nomor ganda di Malaysia. Atik Jauhari berlabuh di India setelah sempat membesut Thailand. Beberapa nama lain masih tersebar di negara-negara lain.
Selain mereka, ada Fuad Nurhadi yang memiliki nama lahir Tong Sin Fu. Berbeda dengan empat nama sebelumnya, Fuad memilih melatih di negara lain setelah melatih di pelatnas PB PBSI di Cipayung. Dia menjadi pelatih timnas Merah Putih selama sepuluh tahun pada 1987-1997.
Fuad yang merupakan keturunan Tionghoa memilih pulang ke negara asalnya karena tak kunjung mendapatkan status warga negara Indonesia. Padahal, selain mengabdikan hidup untuk tim Merah Putih, dia lahir di Indonesia, yaitu di Teluk Betung, Lampung. Sekolahnya pun di SMA Muhammadiyah, Semarang.
Setelah kembali ke Tiongkok, Fuad ganti nama menjadi Tang Xianhu. Siapa sangka, beberapa tahun kemudian, dia menjadi kunci sukses Tiongkok dalam merajai bulu tangkis dunia. Lin Dan, tunggal pria terbaik dunia dan juara Olimpiade Beijing 2008, merupakan pemain yang lahir berkat tangan dinginnya.
Sejalan dengan perubahan zaman, cerita kepergian pelatih seperti kasus Fuad tidak lagi terjadi. Indonesia sudah bisa menyetarakan semua golongan. Namun, di era pasar bebas saat ini, muncul masalah lain. Hendrawan memutuskan pergi ke Malaysia bukan karena mendapatkan kesulitan terkait dengan status sebagai keturunan Tionghoa. Melainkan, upayanya mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Ya, di Malaysia, pria asal Malang, Jawa Timur, itu mendapatkan gaji yang jauh lebih besar daripada di Cipayung.
Dalam kasus Hendrawan, hukum pasar berbicara. Siapa yang punya uang lebih besar, dia yang menjadi pemenang. Dengan kondisi keuangan PB PBSI yang belum sepenuhnya lepas dari masalah, tentu saja kondisi itu kurang menguntungkan. Bisa jadi, Hendrawan hanya akan menjadi awal. Berikutnya, mungkin saja banyak pelatih pelatnas lain yang pergi.
Sebagai gambaran, PB PBSI baru bisa membayar pelatih pelatnas sekitar Rp 15 juta-Rp 20 juta atau sekitar Rp 240 juta setahun. Malaysia sudah bisa membayar Rexy dengan angka Rp 100 juta per bulan yang berarti mencapai Rp 1,2 miliar setahun. Kabarnya, Hendrawan juga bakal menerima kisaran angka yang tak jauh beda.
PB PBSI mengaku tidak bisa melawan pasar bebas itu. BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) maupun PB PBSI tidak memiliki regulasi untuk mengatur kepindahan pelatih dari satu negara ke negara lain. Yang diatur dalam AD/ART PB PBSI adalah pembagian dan besarnya penggantian pembinaan dalam perpindahan anggota perkumpulan bulu tangkis ke luar negeri.
“Tapi bagaimanapun, keputusan ada pada personal yang bersangkutan. Saya rasa sangat manusiawi jika mereka memikirkan kesejahteraan untuk masa depan,” ujar Jacob Rusdiyanto, sekretaris jenderal (Sekjen) PB PBSI, penuh kepasrahan.
Namun, berkaca pada Tiongkok, sebenarnya ada yang bisa dilakukan untuk melawan pasar bebas itu. Mereka memiliki peraturan yang melarang pelatih untuk pergi membela negara lain jika masih dibutuhkan di dalam negeri. Konsekuensinya, agar pelatih yang dipertahankan tetap bekerja dengan semangat, kesejahteraannya harus ditingkatkan.
“Cara itu tidak mudah. Karena kami menjalankan organisasi ini sendiri dengan mandiri. Jangan disamakan dengan Tiongkok, mereka disokong penuh oleh pemerintah,” terang Jacob.
Jika bulu tangkis dipandang sebagai jalan Indonesia untuk berbicara di level dunia, seharusnya segera ada tindakan nyata untuk memperbaiki kondisi sekarang. Nasionalisme saja sangat sulit untuk menahan insan bulu tangkis terbaik tanah air untuk tetap membela Merah Putih. PB PBSI dan pemerintah harus segera merumuskan regulasi serta pola pembinaan baru di pelatnas yang mampu melindungi aset bulu tangkis terbaik Indonesia. (femi diah/ang)








Mutiara said
Jaman sekarang orang butuh duit, bukan nasionalisme.
cws said
makan pake uang bos..bukan pake nasionalisme
agoes said
dari dulu indonesia emang payah dalam hal olah raga… pengennya juara tapi ga mau modal…cape deh
cool said
gimana mau bicara nasionalisme, atlit yang banjir keringat saat latihan, demi membela dan membangkitkan rasa nasionalisme rakyat saat menonton mereka bertanding dengan susah payah, tak kunjung mendapat status warga negara Indonesia. bah!
dalam kondisi seperti itu ditawarin gaji tinggi dan status warga negara di negara negara maju, siapa yang tidak mau! saya bukan warga keturunan tionghoa, tapi jika saya jadi mereka, saya jamin saya orang pertama yang lari terbirit birit ke luar negeri.
David R said
Bulutangkis indonesia kalau mau maju harus bisa melihat contoh dari negara lain seperti tiongkok , kalau nggak mau maju ya dihapusin aja bultang dari negeri ini jangan bikin pusing