SEJAHTERA BADMINTON CLUB

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

Archive for June, 2009

DJOKO SANTOSO : BULUTANGKIS INDONESIA SEDANG VAKUM

Posted by valsus on June 30, 2009

Pontianak, 30/6 (Roll News) – Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PB PBSI), Jenderal TNI Djoko Santoso, mengatakan olah raga bulutangkis di Indonesia, kini sedang mengalami vakum atau tanpa kegiatan, sehingga berdampak pada turunnya prestasi baik tingkat nasional maupun internasional.

“Kevakuman terjadi karena mata rantai pencarian atlet bulutangkis kita ada yang terputus,” kata Djoko Santoso, usai melantik Pengurus Provinsi PBSI Kalimantan Barat, di Pontianak, Selasa.

Untuk itu, ia meminta semua Pengprov seluruh Indonesia membantu PBSI dalam pencarian bibit atlet bulutangkis yang punya kemampuan.

“Dalam kepengurusan PB PBSI periode 2008-2012 kita mempunyai visi meningkatkan prestasi bulutangkis di tingkat internasional,” katanya.

Djoko menjelaskan, masa kevakuman bulutangkis dimaksudkan banyak pemain bulutangkis Indonesia, seperti Taufik Hidayat, Nova Widianto, Liliana Natsir, Windu Hanggoro, yang prestasinya sudah jauh menurun sehingga perlu dicarikan atlet pengganti.

Sementara atlet bulutangkis level kedua Indonesia, seperti Tommy Sugiarto dan teman-teman hingga saat ini masih belum bisa menunjukkan prestasi di kancah internasional.

“Untuk level ketiga kita baru tahap mempersiapkan bibit-bibit atlet baru pengganti pemain senior di masa mendatang,” ujarnya.

Langkah pendek PBSI hingga saat ini tetap mempertahankan atlet senior sampai batas waktu tertentu secara maksimal. “Langkah untuk meningkatkan atlet level dua selanjutnya yaitu memberikan pengalaman kepada atlet itu dengan mengikutsertakan mereka pada kejuaraan nasional dan internasional,” katanya.

Djoko mengatakan, saat ini PBSI sedang melakukan pelatihan dasar kepada sebanyak 39 orang atlet level tiga di Akademi Militer selama enam bulan. “Sekarang mereka baru latihan selama dua bulan, alasan dilakukan pelatihan di Akmil agar para atlet tersebut nantinya punya kedisiplinan yang tinggi, dan punya patriotisme dan semangat untuk berprestasi,” kata Djoko.

Sementara target perolehan mendali di SEA Games 2009 Desember di Laos, PBSI menargetkan memperoleh mendali emas sebanyak-banyaknya. “Terutama untuk pasangan ganda putra dan perorangan putra,” katanya.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Hendrawan believes that staying together is the best way to know the players

Posted by valsus on June 30, 2009

KUALA LUMPUR : Staying together with the players is the best way to get to know them better.

And for this reason, Malaysia’s newly-appointed singles coach Hendrawan checked into one of the rooms in the Rakan Muda Sports Complex in Bukit Kiara yesterday. The complex houses senior and junior players in the Badminton Association of Malaysia’s (BAM) set-up.

The Indonesian said that good rapport with the players was the first step in winning their hearts to get them to strive for excellence in the sport.

“I will know the players better by staying with them and spending more time with them. I can establish a good relationship with them and also keep an eye on them,” said the 37-year-old Hendrawan.

“Besides, my family is not with me here at the moment and for the time being, this is the best arrangement.”

Hendrawan flew in yesterday without fanfare and the modest former world champion was all excited over reporting for duty with the team tomorrow.

National chief coach Rashid Sidek said on Sunday that for a start, Hendrawan would take charge of the elite back-up singles shuttlers, among them Tan Chun Seang, Mohd Arif Abdul Latif, Chong Wei Feng and Liew Daren.

“I am looking forward to coaching these back-up players. I am here with good intentions and I want to help raise their standard,” said Hendrawan.

“There is a difference in coaching the seniors and juniors. It will take a little more time to see results among the juniors and I hope that I will be given time.”

He reiterated that he would want the players to have dreams and to set targets.

“They will have to set their own goals and be motivated to achieve them. I can help them to build this up as I have do so with the Indonesian women’s singles players,” said Hendrawan.

The BAM general manager, Kenny Goh, said that a meeting between all the singles coaches would be held today to redefine their roles.

“It will be best for the coaches to sit down together and decide on who and how they want to go about coaching the players,” he said.

Besides Rashid, the others expected to attend the meeting are Misbun Sidek and Teh Seu Bock.

A decision on whether Hendrawan takes charge of two senior players as well, Mohd Hafiz Hashim and Kuan Beng Hong, will also be decided today.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Ujian Kontra Eks Pelatnas

Posted by valsus on June 30, 2009

Pemain pelatnas utama lapis kedua PB PBSI mendapat kesempatan merasakan atmosfer kompetisi. Tommy Sugiarto dkk bakal bersaing pada Filipina Grand Prix yang dimulai besok (30/6).

Meski berlabel pemain pelatnas utama, beberapa pemain Cipayung harus merangkak melalui babak kualifikasi pada turnamen berhadiah total USD 120 ribu itu. Sebab, banyak pemain papan atas yang ambil bagian dalam pertandingan yang dihelat di Philippine Sports Multi-Purpose Arena (ULTRA) tersebut. Di antaranya, Zhou Mi dan Wang Cheng dari Hongkong. Mereka menjadi unggulan pertama dan kedua pada nomor tunggal wanita.

Tantangan lain datang dari beberapa pemain eks pelatnas Indonesia maupun Tiongkok. Misalnya, Fauzi Adnan/Tri Kusharjanto, Hendra A. Gunawan/Alvent Yulianto, Gao Ling/Wei Yili. Wakil pelatnas di tunggal wanita harus melewati babak penyisihan. Yakni, Linda Weni Fanetri dan Rizki Amelia Pradipta. Hanya Aprilia Yuswandari yang bisa langsung melenggang ke babak utama.

Pada sektor tunggal pria, wakil pelatnas tak perlu berjuang melalui babak penyisihan. Pada putaran pertama, sebagai unggulan keenam, Tommy Sugiarto malah mendapatkan bye. Yoga Pratama ditantang pemain tuan rumah Kelvin Ang. Nugroho Andi Saputro harus menghadapi pemain Filipina Ramon Jr Dalo.

Yoga berjanji bakal tampil lebih baik daripada hasil yang dituainya pada Vietnam Challenge beberapa waktu lalu. Saat itu, dia terhenti pada putaran pertama. “Saya belum pernah bertemu Kevin. Sudah seharusnya, saya tidak mau hanya merasakan putaran pertama,” ungkap pemain asal PB Tangkas Jakarta tersebut.

Kesempatan untuk membawa pulang gelar dimiliki ganda pria dan ganda wanita. Bona Septano/Mohammad Ahsan menjadi unggulan pertama pada sektor ganda pria. Meiliana Jauhari/Shendy Puspa Irawati menjadi unggulan pada nomor ganda wanita. “Anak-anak harus bisa mengatasi pemain eks pelatnas Tiongkok maupun jebolan Cipayung,” tegas pelatih ganda wanita pelatnas Cipayung Aryono Miranat. (vem/ang)

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Pelatnas Cipayung setelah Gagal di Indonesia Open Genjot Fisik di Mabes TNI

Posted by valsus on June 30, 2009

JAKARTA - Hasil buruk pemain Pelatnas Cipayung pada dua super series, Singapura Open dan Indonesia Open, benar-benar disayangkan. Karena itu, PB PBSI merasa perlu melakukan gebrakan untuk meningkatkan kembali prestasi Sony Dwi Kuncoro dkk.

Mulai hari ini, pelatnas menetapkan jadwal latihan yang berbeda untuk Sony dkk. Jika biasanya mereka berlatih teknik di Cipayung, mulai hari ini fisik mereka bakal digenjot. Tempat yang dipilih pun cukup istimewa. Mereka akan digenjot di Markas Besar (Mabes) TNI di Cilangkap.

Jadwal latihan di Cilangkap akan diselenggarakan setiap Senin dan Kamis. Jadwalnya cukup panjang, mulai 07.00 sampai tengah hari. Sesi latihan sore hari kembali diselenggarakan di Cipayung. Dengan jadwal tersebut, para pemain wajib berkumpul sebelum pukul 06.00 untuk bersiap-siap berangkat bersama.

Perubahan lain juga terjdi pada jadwal latihan Rabu siang. Sebelumnya, penggawa Cipayung beristirahat latihan. Namun, mulai pekan ini, latihan tetap digeber dengan porsi yang lebih ringan.

Richard Mainaky, pelatih ganda campuran Pelatnas Cipayung, menyambut baik program itu. Maklum, nomor ganda campuran boleh dibilang selalu menjadi andalan. Meski, penampilan Nova Widianto saat ini mulai menurun seiring bertambahnya usia. “Ini perubahan besar karena sebelumnya tidak ada. Kalau tujuannya bagus, kenapa tidak dilaksanakan?” ujar Richard kepada Jawa Pos kemarin (28/6).

Kesempatan anak asuhnya berlatih di Mabes TNI dianggap sebagai latihan yang ideal. Maklum, tidak ada trek lari yang panjang di Cipayung. Malah, biasanya para pemain berlari di dalam gedung latihan. Tentu, mereka tak bisa maksimal karena lintasan cukup pendek dan berbentuk segi empat. Trek lari di luar gedung pun cukup bergelombang yang membuat lari tak bisa kencang.

Malah, seluruh anak asuhnya, Liliyana Natsir, Lita Nurlita, Richi Puspita Dili, Pia Zebadiah, Debby Susanto, Muhammad Rijal, Fran Kurniawan, dan Tantowi Ahmad, diwajibkan melahap seluruh porsi latihan. “Hanya Nova yang saya beri perhatian khusus. Sebab, kondisinya justru akan drop jika dibebani latihan berat,” jelas Richard.

Program anyar itu, menurut dia, juga tak akan menganggu persiapan menuju Kejuaraan Dunia di Hyderabag, India, Agustus nanti. “Sekarang, memang saya fokuskan untuk berlatih fisik lebih dulu bagi pemain utama yang mau berangkat ke India. Bagi yang muda, mereka malah harus menambah ketrrampilan,” bebernya.

Aryono Miranat, pelatih ganda wanita pelatnas Cipayung, juga setuju dengan program tersebut. Maklum, dia memiliki pekerjaan rumah (PR) yang tidak ringan. Apalagi, sektor itu memang sering dipandang sebelah mata.

“Kalau melihat antusiasme anak-anak saat ini, tak ada masalah. Sebab, mereka malah tak segan menambah latihan sendiri selama ini. Lagi pula, Senin dan Kamis pagi memang jatah berlatih anak-anak di lapangan Cipayung,” ujar Aryono. (vem/ang)

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | 1 Comment »

Hendrawan will handle the back-up boys, says Rashid

Posted by valsus on June 29, 2009

NATIONAL singles chief coach Rashid Sidek will hand over all his elite back-up players to come under the charge of Hendrawan so that he can play a more prominent role as an overseer.

The Indonesian former world champion will arrive today and begin work on Wednesday. And Rashid will meet Hendrawan tomorrow and lay out plans for him.

If the plans are agreeable to all parties, four elite back-up players — Tan Chun Seang, Mohd Arif Abdul Latif, Chong Wei Feng and Liew Daren — will immediately come under the charge of Hendrawan.

Rashid has worked with these players since 2004 and none of them has managed to win an Open title this far.

“All my players will be handed to Hendrawan. I will help out during training as and when is required,” said Rashid.

“I am not giving up my responsibilities but I think that it will be good for Hendrawan to have a shot at taking these players to another level.”

By giving Hendrawan the role to coach the second stringers, Rashid said that he would be able to monitor and help out with Misbun Sidek’s group of players and the women’s singles department.

Currently, the players under Misbun’s care are world No. 1 Lee Chong Wei, Mohd Hafiz Hashim, Kuan Beng Hong, Wong Mew Choo, Chan Kwong Beng and Lok Chong Chieh.

And those under the charge of Teh Seu Bock are Julia Wong (who is recovering from a knee injury), Lydia Cheah, Sannatasah Saniru, Tee Jing Yee, Ooi Swee Wern, Ng Sin Zou and Stephanie Shalini Sukumaran.

“I can oversee all these three groups. I will be more mobile to move around, depending on the needs of each group,” said Rashid.

“What is more important is for all of us to work together. My main goal is to add depth to the singles department and make sure that there is always quality supply of players for the national team.”

On moving more players from Misbun’s group to Hendrawan’s squad, Rashid said that it would be left to his elder brother to make a decision.

“I will let Misbun decide on who he wants to move over. A decision to send Hafiz and Beng Hong to Hendrawan is still pending. We will discuss this,” said Rashid.

Hendrawan is the third Indonesian coach to join the Malaysian national team. Rexy Mainaky is now the chief coach of the doubles department.

And the late Indra Gunawan was in Malaysia for two years (2001-2002) and he was in charge of the singles department.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

YONEX SUNRISE MALAYSIA OPEN GRAND PRIX GOLD 2009 : Chong Wei Juara Lagi, China Dominasi

Posted by valsus on June 29, 2009

JOHOR, Kompas.com – China membawa pulang tiga gelar juara dari turnamen Malaysia Terbuka Grand Prix Gold, dua di antaranya diperoleh melalui final antara pemain China, sementara Malaysia meraih dua gelar.

China memenangi gelar ganda campuran, serta tunggal dan ganda putri. Unggulan kedua ganda campuran Zheng Bo/Ma Jin memenangi gelar keempat dengan mengalahkan rekan senegara mereka Xu Chen/Zhao Yunlei setelah unggulan ketiga itu tidak melanjutkan pertandingan saat kedudukan 5-5 pada game pertama, karena cedera lutut kanan Zhao Yunlei kambuh.

Sebelumnya, Zheng Bo/Ma Jin telah memenangi tiga gelar di turnamen Super Series, Swiss, Singapura dan Indonesia terbuka.

Juara tunggal putri diperoleh Wang Shixian yang juga menyisihkan sesama pemain China Wang Xin 21-16, 18-21, 21-10.  Adapun Ma Jin yang berpasangan dengan Wang Xiaoli berhasil mengungguli pasangan Malaysia, unggulan pertama Chin Eei Hui/Wong Pei Tty untuk merebut mahkota ganda putri dengan kemenangan 21-9, 21-11.

Tuan rumah Malaysia memenangi nomor tunggal dan ganda putra, setelah unggulan pertama Lee Chong Wei  menundukkan pemain China Chen Long 21-16, 21-9, dan pasangan unggulan kedua Koo Kien Keat/Tan Boon Heong menang atas ganda Malaysia lainnya Gan Teik Chai/Tan Bin Shen 21-11, 21-13.

Bagi Lee Chong Wei, kemenangan pada turnamen di kandang sendiri yang berhadiah total 120.000 dolar AS itu adalah gelar keempat tahun ini setelah ia juga memenangi Malaysia, Swiss dan Indonesia Super Series.

Tidak ada pemain Indonesia yang lolos ke final setelah dua pasangan yang tersisa, Hendra Aprida Gunawan/Vita Marissa dan Hendra/Alvent Yulianto semuanya tumbang di semifinal, Sabtu (27/6).

Final of Malay

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Kontrak PB PBSI-PAL Belum Beres

Posted by valsus on June 29, 2009

JAKARTA – Keluhan dari salah seorang pengurus PB PBSI soal belum cairnya uang saku atlet Program Atlet Andalan (PAL) langsung direspons. Program percepatan prestasi olahraga gagasan Menpora itu membantah anggapan bahwa mereka tidak mencairkan uang saku pebulu tangkis PAL. Yang terjadi adalah proses kontrak kedua belah pihak belum tuntas sehingga uang saku dan akomodasi lainnya belum bisa dicairkan.

PB PBSI telah memasukkan enam pemain untuk mengikuti PAL. Yakni, Maria Kristin Yulianti, Sony Dwi Kuncoro, Markis Kido, Hendra Setiawan, Nova Widianto, dan Liliyana Natsir. “PB PBSI belum menerima (uang saku, Red) karena proses kontraknya belum selesai. Saat ini, belum ada tanda tangan kedua pihak, antara PAL dengan atlet,” jelas Setia Dharma Madjid, wakil ketua umum PAL, di Jakarta Sabtu lalu (26/6).

Saat ini, PB PBSI baru memberikan persetujuan enam atlet untuk mengikuti PAL. Status seperti itu sama dengan cabang olaharaga (cabor) voli indoor dan voli pantai. Jika nanti urusan kontrak selesai, PB PBSI mendapatkan suntikan dana yang lumayan besar.

Setiap bulan, para atlet itu akan mendapatkan Rp 30 juta. Sebab, enam pebulu tangkis yang masuk PAL lolos kualifikasi kelompok utama. Karena itu, keenamnya berhak mendapatkan Rp 5 juta per bulan.

Itu belum termasuk biaya kompetisi. Termasuk, biaya peralatan dan perlengkapan, transportasi, akomodasi, dan lain-lain. Dharma belum bisa mengestimasi besaran dana untuk setiap kompetisi yang bakal diikuti.

Hanya, tentu cabor bulu tangkis, selam, dan voli tidak akan menerima jadwal tryout tiga kali. “Kalau gabungnya belakangan, tentu ada konsekuensinya. Yakni, bisa saja hanya dua kali tryout untuk tim mereka,” jelas pria berkumis itu.

Jika ditilik dari agenda super series yang tersisa, para pemain pelatnas utama PB PBSI itu bisa tampil di Tiongkok Masters Super Series (15-20 September 2009), Jepang Super Series (22-27 September 2009), serta Denmark Super Series dan Prancis Open Super Series yang berurutan mulai 20 Oktober-1 November 2009.

Selain itu, masih ada dua sisa turnamen super series di Hongkong dan Tiongkok mulai 10 November-22 November nanti. Jika dirata-rata seorang pemain membutuhkan dana sekitar Rp 20 juta pada satu turnamen di Eropa, pengeluaran di Asia bisa lebih irit.

Jika benar PAL akan mengucurkan dana untuk mengikuti kompetisi, paling tidak hal itu bisa mengurangi beban keuangan PBSI yang memiliki 38 pemain pelatnas utama di Cipayung dan 39 pemain pratama di Akademi Militer (Akmil) Magelang. Dua sektor tersebut tentu membutuhkan pendanaan yang tak sedikit. Apalagi, tuntutan prestasi bulu tangkis cukup tinggi. Salah satunya, menjaga tradisi emas Olimpiade.

“Mungkin, bulu tangkis, selam, dan voli menerima uang saku mulai Juli nanti. Dengan catatan, kontrak selesai,” tegas Dharma. (vem/ang)

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Liem Swie King, dari “Jumping Smash” ke Griya Pijat

Posted by valsus on June 29, 2009

Jakarta (ANTARA News) – Meski sudah sejak 21 tahun silam meninggalkan dunia bulutangkis, kecintaan Liem Swie King terhadap olahraga ini tidak pernah pudar.

Di sela-sela kesibukan mengurus usaha hotel dan spa, King mengaku masih suka bermain bulutangkis dan sesekali mengunjungi klub lamanya, PB Djarum, di Kudus, Jawa Tengah.

Juara All England tiga kali ini mengaku sulit melepaskan diri dari bulutangkis karena memiliki kenangan pahit dan manis ketika meniti karir di masa mudanya.

Lahir di Kudus, 28 Februari 1956, King adalah anak dari keluarga yang membuka usaha reparasi sepeda di kota kelahirannya. Seperti kebanyakan masyarakat disana, ayah dan kakaknya juga menyukai bulutangkis. Bisa dikatakan, dia memang sudah mengenal olahraga ini sejak kecil.

“Saya tidak ingat usia berapa persisnya mulai suka bermain bulutangkis, saya hanya ingat sering berlatih di lapangan belakang rumah,” katanya ketika dihubungi di Jakarta, Selasa (9/6).

King menyatakan motivasi awal dia bermain bulutangkis adalah ayahnya yang sangat keras dan disiplin mendidik dia dan kakaknya. Ayahnya akan marah bila dia kalah dalam satu pertandingan kejuaraan junior. Hal inilah yang memacunya untuk selalu berusaha menjadi yang terbaik dalam bulutangkis.

Namun, di klub PB Djarum-lah karir profesionalnya sebagai atlet dimulai. Pada 1972, King meraih meraih gelar juara tunggal putra junior Piala Munadi.

Pada 1973 ketika usianya baru 17 tahun, ia menjadi juara kedua Pekan Olahraga Nasional. Setelah itu, King direkrut masuk pelatnas dan ia pun meraih juara pada kejurnas 1974 dan 1975.

Tiga tahun kemudian, tepatnya 1978, King yang berusia 20 tahun menjuarai All England setelah mengalahkan Rudi Hartono di babak final. Kemudian dia memenangi gelar itu lagi sebanyak dua kali, yakni pada 1979 dan 1981.

“Bagi saya, mengalahkan Rudy di All England adalah prestasi terbaik karena saya sangat mengidolakan dia,” katanya.

Selama karirnya, King dikenal memiliki senjata pamungkas yang menjadi ciri khasnya, yakni pukulan smash yang dilakukan sambil meloncat dan kemudian terkenal dengan sebutan “jumping smash” atau “King Smash”.

Disinggung mengenai hal ini, Lim menjawab dengan rendah hati bahwa pukulan itu baginya sama seperti pemain lain. “Wartawanlah yang mempopulerkannya dan memberi julukan King Smash pada saya” ungkapnya sambil tertawa.

Menurutnya, dia memang memiliki tipe permainan menyerang dan cepat. Maka dari itu, smash dengan meloncat akan membuatnya mengambil bola lebih cepat dan mematikan langkah lawan.

Selain turnamen individu, Lim juga ikut menyumbangkan kemenangan tim putra Indonesia dalam kejuaraan Piala Thomas 1976, 1979 dan 1984.

Pengusaha Griya Pijat

Sejak 1988, King secara resmi mundur sebagai pemain bulutangkis dan memilih membantu mertuanya menjalankan bisnis hotel keluarga di Jalan Melawai, Jakarta Selatan. Di awal karir barunya itu, dia mengaku tidak langsung bisa menyesuaikan diri karena selama ini hanya mengerti soal bulutangkis.

Namun, perlahan-lahan dia mulai menguasai dunia bisnis dan malah membuka usaha griya pijat kesehatan dengan nama Sari Mustika. Kini usahanya tersebut telah mempekerjakan lebih dari 200 karyawan dan memiliki tiga cabang yakni di Grand Wijaya Centre, Jalan Fatmawati Jakarta Selatan dan Kelapa Gading Jakarta Utara.

Ketika ditanya mengapa membuka bisnis griya pijat, King menyatakan sebenarnya dia terinspirasi dari kegiatan pemijatan yang selalu dilakukannya ketika masih menjadi atlet.

“Dulu setiap habis berlatih atau bertanding, biasanya saya mengunjungi tempat pijat kesehatan di kawasan Mayestik, Jakarta Selatan. Penataan ruang dan layanannya yang begitu bagus membuat saya terinspirasi membuka usaha yang sama,” katanya.

Pelanggan griya pijatnya pun bukan orang sembarangan. Tercatat sejumlah pengusaha lokal, usahawan, keluarga menengah atas dan ekspatriat yang tinggal di Jakarta menjadi pengunjung tetap.

Ditanya mengenai usahanya yang semakin berkembang itu, dia menjawab hanya berusaha semampunya setelah tidak lagi menjadi atlet.

“Gaji sebagai atlet sebenarnya sudah cukup untuk membiayai kehidupan keluarga, tapi saya juga harus realistis karena bidang ini tidak bisa dijalani selamanya,” katanya.

King menyatakan saat menjadi atlet, dirinya berusaha memanfaatkan sebagian uang yang didapatnya sebagai atlet untuk ditabung. Simpanan inilah yang kemudian dijadikannya modal untuk membuka usaha sendiri.

Memang, untuk ukuran mantan atlet, dia termasuk salah satu yang sejahtera setelah tidak lagi membela nama Indonesia di bidang olahraga.

Namun, King tidak lantas lupa pada teman-temannya sesama mantan atlet. Bersama Ivana Lie, Tan Joe Hok dan G Sulistyanto, King mendirikan Komunitas Bulutangkis Indonesia (KBI) yang beranggotakan mantan atlet mapupun pelatih bulutangkis se-Indonesia.

“Organisasi ini adalah wadah bagi para mantan atlet untuk membantu meningkatkan kesejahteraan anggota,” katanya.

KBI, katanya, berusaha menolong anggota dengan mencarikan pekerjaan ataupun bantuan modal dengan harapan para mantan atlet dapat menikmati hari tua mereka tanpa masalah keuangan yang menjerat.(*)

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Misbun welcomes Hendrawan’s inclusion in the coaching set-up

Posted by valsus on June 29, 2009

THE more, the merrier. That was the positive reaction from national singles coach Misbun Sidek on the inclusion of former world champion Hendrawan in the coaching set-up.

Indonesian Hendrawan, the 2001 world champion, will start his duty as Malaysia’s singles coach on Wednesday.

Hendrawan, Misbun and women’s singles coach Teh Seu Bock are all under the charge of national singles chief coach Rashid Sidek.

Misbun said he would leave it to Rashid to decide on the players to be put under the charge of Hendrawan.

“For now, there has not been any discussion on that. But I am willing to accept any decision,” said Misbun.

“Hendrawan’s presence will be good for us. In fact, it will be good for some of our players to be trained by him. They will then be exposed to a different style of coaching.

“I will work with Hendrawan because, ultimately, our goal is to groom good players who can bring glory to the country.”

Misbun is likely to continue coaching Lee Chong Wei and Wong Mew Choo while Hendrawan is expected to take over the training of Mohd Hafiz Hashim and Kuan Beng Hong.

Several back-up players are also expected to be trained by Hendrawan.

On his return to coaching after being away for almost two months, Misbun said: “I was feeling quite nervous when I watched Chong Wei play (against Kenichi Tago of Japan on Friday). It has been quite a while since I last felt such excitement …

“But I am glad to be back. I will pick up the pace with Chong Wei after this tournament. We will be fully focused on getting him in top shape for the World Championships (to be held in Hyderabad, India, from Aug 10-16).”

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

WORLD CHAMPIONSHIP – Tanda `Bahaya` Jelang Kejuaraan Dunia

Posted by valsus on June 28, 2009

Oleh J WASKITA UTAMA

Akhir tahun 2008 hingga awal 2009, bulu tangkis nasional disibukkan dengan pergantian Pengurus Besar Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia,berakhirnya kontrak dengan Yonex, pembubaran sementara pelatnas, dan hengkangnya sejumlah pemain senior dari pelatnas Cipayung.

Hampir enam bulan berlalu, kepengurusan baru telah terbentuk, kontrak dengan Yonex diperbarui, dan pelatnas kembali bergulir. Namun, perbaikan prestasi yang dinanti tampaknya masih harus ditunggu lebih lama lagi.

Indikator paling sederhana adalah hasil pemain Indonesia pada enam turnamen Super Series di paruh pertama 2009. Dari kemungkinan 30 gelar juara, hanya satu gelar yang bisa dibawa pulang pemain Cipayung, yaitu lewat Nova Widianto/Liliyana Natsir di Malaysia Super Series.

Di luar satu-satunya gelar itu, pemain pelatnas hanya lolos ke final di dua nomor lain, masing-masing ganda putri Greysia Polii/Nitya Krishinda dan ganda putra Markis Kido/Hendra Setiawan di Singapura Super Series. Dua nomor final lain diraih mantan pemain pelatnas, yaitu ganda putra Hendra AG/Alvent Yulianto di Malaysia dan Taufik Hidayat di Indonesia.

Pada tiga Super Series lainnya di Korea Selatan, All England, dan Swiss, hasilnya nihil. Jangankan gelar juara, tak satu pun pemain Indonesia, baik yang berstatus pelatnas maupun bukan, yang melaju ke final.

Bandingkan prestasi ini dengan hasil yang diperoleh China. Absen di Malaysia dan Korsel karena menjalani latihan militer, Lin Dan dan kawan-kawan langsung memborong lima gelar juara di All England. Mereka juga masih mendulang tujuh gelar lainnya dari Swiss, Singapura, dan Indonesia.

China semakin berkilau dengan sukses mempertahankan Piala Sudirman, lambang supremasi kejuaraan beregu campuran dunia. Pada saat yang sama, Indonesia gagal mengulang hasil dua tahun sebelumnya untuk maju ke final karena ditundukkan Korsel di semifinal.

Harapan sempat terbit dari sektor ganda putri dengan lolosnya Greysia/Nitya ke final Singapura Super Series. Setelah sukses Vita Marissa/Liliyana Natsir di China Master 2007 dan Indonesia 2008, belum ada lagi ganda putri Indonesia yang berprestasi serupa. Namun, penampilan Greysia/Nitya juga tak stabil dan tak bisa berbuat banyak sepekan kemudian di Jakarta.

Di tengah menurunnya prestasi pemain utama, pelapis mereka tak kunjung memberi harapan. Ganda campuran Devin Lahardi Fitriawan/Lita Nurlita, ganda putra Bona Septano/M Ahsan, Rian Sukmawan/Yonathan Suryatama Dasuki, tunggal putra Simon Santoso, dan Tommy Sugiarto tidak juga mentas ke papan atas.

Lapisan di bawahnya, seperti tunggal putri Linda Wenifanetri, Riski Amelia Pradipta, ganda putri Anneke Feinya Agustine/Annisa Wahyuni, Komala Dewi/Keshya Nurvita Hanadia, serta ganda campuran M Rijal/Debby Susanto, Fran Kurniawan/Pia Zebadiah, dan Ahmad Tantowi/Richi Puspita Dili masih perlu banyak menimba pengalaman bertanding internasional.

Ironisnya, mereka justru kehilangan kesempatan bertanding di Grand Prix Gold Malaysia Terbuka, pekan ini, karena alasan yang tak mampu dijelaskan oleh pejabat teras PBSI sendiri.

Hal ini sangat disayangkan mengingat turnamen di bawah level Super Series yang sesuai kemampuan mereka lebih banyak berlangsung di Eropa. Praktis, butuh biaya lebih banyak sehingga tak banyak pula pemain yang bisa dikirim.

Tanda bahaya

Minimnya prestasi di paruh pertama tahun ini patut menjadi perhatian PBSI mengingat turnamen paling bergengsi tahun ini, yaitu Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2009, sudah di depan mata. Sebanyak 18 pemain pelatnas ditambah Taufik Hidayat dipastikan lolos pada kejuaraan yang berlangsung di Hyderabad, India, 10-16 Agustus.

Para pemain dunia pun telah mengarahkan fokus mereka ke Hyderabad. Pemain kawakan Denmark, Peter Gade, mengaku dalam kondisi fisik terbaik setelah kerap didera cedera. Ganda campuran baru China, Zheng Bo/Ma Jin, dan harapan terbesar India, Saina Nehwal, sepakat menyebut gelar mereka di Indonesia Super Series sebagai modal berharga menuju kejuaraan dunia.

Bagaimana dengan Indonesia? Hingga angka terakhir dimainkan, semua kemungkinan masih bisa terjadi. Namun, melihat hasil para pemain Indonesia akhir-akhir ini, sulit mengharapkan sukses ganda seperti yang dibukukan Kido/Hendra dan Nova/Liliyana pada Kejuaraan Dunia 2007 di Kuala Lumpur.

Prestasi Nova/Liliyana mulai menurun seiring usia Nova yang mendekati 32 tahun. Adapun meski bersama Hendra masih menjadi nomor satu dunia, kondisi Kido rentan cedera dan pasangan ini kerap kesulitan menghadapi pasangan Korsel Jung Jae-sung/Lee Yong-dae.

Kondisi fisik pemain menjadi sorotan utama pada Indonesia Super Series. Jika laga berakhir dengan rubber game, jelas terlihat kondisi fisik tak lagi sebugar game pertama.

Sejumlah pemain juga rentan cedera, seperti Kido dan Maria Kristin Yulianti, yang tak tampil maksimal di ajang Piala Sudirman. M Ahsan batal tampil di Singapura karena cedera punggung dan Nitya Krishinda juga tak tampil dengan kemampuan terbaik di Indonesia Open.

Semangat juang pemain juga perlu terus dipelihara dan ditingkatkan. Tak banyak pemain pelatnas yang mampu memperlihatkan semangat juang yang sama hingga poin terakhir selesai diperebutkan.

PBSI lewat Ketua Bidang Pembinaan Prestasi Lius Pongoh mengakui, pelatnas Cipayung dalam masa transisi untuk regenerasi. Ketua Subbidang Pelatnas Christian Hadinata dalam satu kesempatan bahkan sempat mengatakan, Indonesia harus siap menghadapi paceklik gelar untuk jangka waktu tertentu hingga pemain pelapis siap untuk menggantikan seniornya.

Dengan keterbatasan materi, mau tak mau para pemain utama harus siap berjuang sendiri tanpa pelapis yang bisa membantu menjegal lawan di babak awal.

Bulu tangkis adalah harapan terakhir bangsa ini untuk meraih prestasi. Siapkah kita kehilangan kebanggaan ini ?

Sumber : http://badmintonpage.blogspot.com

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,801 other followers