SEJAHTERA BADMINTON CLUB

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

Kejuaraan Dunia 2009 : Pijakan Masa Depan Nova/Liliyana Natsir

Posted by valsus on June 4, 2009

DuoJAKARTA – Kejuaraan Dunia 2009 di India pada Juli mendatang menjadi turnamen mahapenting bagi karir Nova Widianto/Liliyana Natsir. Agenda tahunan BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) itu tak hanya menjadi kesempatan untuk mencetak gelar juara kali ketiga. Tapi, agenda tersebut akan menentukan kelanjutan pasangan nomor satu dunia itu menuju Asian Games XVI/2010 Guangzhou, Tiongkok.

Rupanya, hasil kurang optimal pada kejuaraan beregu campuran PialaSudirman yang berakhir 17 Mei lalu menjadi salah satu indikasi takadanya kenaikan kualitas penampilan Nova/Liliyana. Meski demikian, penampilan mereka juga dinilai tak menurun.

Hanya, lawan-lawan yang dihadapi Nova/Liliyana memiliki kualitas yang kian meningkat. Apalagi, ada amunisi pemain muda. Saat itu, mereka harus mengakui ketangguhan wakil Tiongkok Zheng Bo/Ma Jin pada babak penyisihan dan pasangan Korsel Lee Yong Dae/Lee Hyu Jung di semifinal.

Zheng Bo bukanlah musuh baru. Sejak berpasangan dengan Gao Ling, dia kerap merepotkan Nova/Liliyana. Begitu pula Yong Dae/Hyu Jun yang menggagalkan Nova/Liliyana merebut medali emas pada Olimpiade Beijing 2008. Hasil tersebut sekaligus membuktikan kekuatan lawan yang belum bergeser. Korsel dan Tiongkok masih tetap menjadi pesaing terberat.

Pelatih ganda campuran Richard Mainaky telah menyiapkan strategi baru bagi anak asuhnya itu. Dua turnamen super series terdekat dijadikan ajang uji coba juara dunia 2005 dan 2007 tersebut. Yakni, Singapura Super Series (9-14 Juni) dan Indonesia Terbuka (14-21 Juni). “Nova dan Butet (sapaan karib Liliyana, Red) sudah harus memiliki pola permainan yang baru. Jika mereka menggunakan strategi lama, lawan gampang membaca kekuatan,” jelas Richard di Jakarta kemarin (2/6).

Butet diharapkan bisa lebih banyak mengambil peran di lapangan. Dia tak boleh hanya mempertahankan pola permainan yang sama dengan penampilan sebelumnya. Usia Nova yang sudah melewati 30 tahun menjadi pemantiknya.

Latihan fisik di pelatnas Cipayung memang masih bisa dilahap habis Nova dengan frekuensi dan volume yang serupa dengan para pemain muda. Tapi, kecepatan pemain yang besar di PB Tangkas Jakarta tersebut sudah jauh berkurang jika dibandingkan 2007.

Di atas kertas, kemampuan Nova/Butet masih disegani. Nah, jika tak segera merombak strategi, Richard khawatir karir Nova/Butet akan menurun. “Selama ini, kami terlalu banyak mengandalkan bakat. Itu sangat berbeda dari Tiongkok dan Korsel. Mereka memiliki banyak pola permainan. Sudah waktunya kami mengikuti langkah mereka,” tegasnya.

Jika hasil Kejuaraan Dunia nanti masih cukup apik, keduanya akan terus dipoles untuk menghadapi Asian Games. Jika tidak, besar kemungkinan, menurut Richard, akan ada perubahan pasangan di sektor ganda campuran. “Saya sudah menyiapkan skenario itu. Tapi, untuk sekarang, sebaiknya saya simpan dulu. Mereka harus berkonsentrasi menghadapi turnamen terdekat lebih dulu,” jelasnya.

Kebetulan, penampilan pasangan ganda campuran lainnya, Devin Lahardi/Lita Nurlita, makin berkembang. Mereka hanya membutuhkan lebih banyak pertemuan dengan pasangan top dunia selain Nova/Butet. Richard berharap dua pasangan anak asuhnya tersebut bisa tampil lebih baik. Minimal, semifinal bisa dicapai. Karir Devin/Lita mulai berkembang sejak menjadi juara Taiwan Open Gold Grand Prix 2008. Setelah itu, mereka mulai menunjukkan taji pada turnamen super series.(vem/diq)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,801 other followers