Mengenal Lebih Jauh Pelatnas Pratama PB PBSI di Akademi Militer Magelang
Posted by valsus on June 11, 2009
Harus Bangun Pukul 04.00
Masalah disiplin dan semangat juang dianggap salah satu kelemahan pebulu tangkis Indonesia. Untuk menjawabnya, Ketua Umum PB PBSI Djoko Santoso mengambil langkah berani. Menempa atlet pelatnas ala taruna di Akademi Militer (Akmil) di Magelang.
—
SETIAP ketua umum PB PBSI pasti dihadapkan pada tanggung jawab yang berat. Yakni, mempertahankan tradisi emas Olimpiade yang diretas sejak 1992 di Barcelona. Termasuk ketua umum periode 2008-2012 Djoko Santoso di Olimpiade London 2012 mendatang.
Melihat hasil Olimpiade Beijing 2008, Djoko merasa harus melakukan gebrakan untuk mewujudkan misi itu. Taufik Hidayat tidak bisa diharapkan lagi. Sony Dwi Kuncoro belum juga menunjukkan kehebatan, padahal usianya sudah dalam periode emas. Ganda pria Markis Kido/Hendra Setiawan yang sukses merebut emas sulit diharapkan di London. Kido sering cedera.
Selain membentuk pemain yang memiliki skill hebat, Djoko merasa perlu untuk membentuk pemain yang tangguh secara mental. Dalam arti, dia memiliki disiplin dan semangat juang tinggi. Dua hal itu dirasa sebagai salah satu penyebab mundurnya prestasi bulu tangkis Indonesia belakangan. Terutama jika dibandingkan dengan Tiongkok dan Koera Selatan.
Nah, Djoko yang panglima TNI menilai bahwa Akmil adalah tempat yang tepat untuk mematrikan nilai-nilai disiplin dan nasionalisme kepada para pebulu tangkis muda. Sejak 15 April, 39 atlet pratama yang terdiri atas 23 pria dan 16 wanita dikirim ke Akmil. Mereka akan melakoni pendidikan ala taruna selama enam bulan penuh di sana.
“Kami tak memberikan perbedaan kepada anggota taruna dan atlet pelatnas PBSI. Mereka tinggal di sini, maka mereka juga harus mengikuti peraturan di sini,” ujar Kapten Joko Purwanto, komandan kompi pelatnas pratama PB PBSI, di Akmil beberapa waktu lalu.
Pada satu minggu pertama, para pemain hanya mendapatkan pelatihan dari TNI. Materinya pengenalan lingkungan Akmil, peraturan urusan dinas dalam (PUD) yang isinya mengatur lipatan baju, merapikan kamar dan isinya, serta lain-lain. Di samping itu, masih ada pelajaran peraturan penghormatan militer dan PBB serta kebangsaan dan nasionalisme.
“Kami bertekad untuk memberikan bekal kepada mereka bahwa saat masuk lapangan, yang ada hanya keinginan untuk membunuh lawan,” tegas Joko.
Jika dibandingkan dengan pelatnas utama di Cipayung, kegiatan pelatnas pratama di Magelang memang sangat padat. Mereka harus bangun pukul 04.00 untuk bersiap mengikuti senam pagi pukul 05.00 selama kurang lebih setengah jam. Dilanjutkan dengan mandi pagi dan beres-beres kamar. Mereka sarapan pukul 06.00 untuk kemudian mengikuti apel pagi setengah jam kemudian dan latihan pukul 08.00-pukul 12.00. Diikuti apel dan makan siang sebelum waktu istirahat, yang lebih sering mereka manfaatkan untuk mencuci pakaian.
Pukul 15.00-18.00 mereka kembali berlatih sebelum waktu makan malam. Apel malam dan segala kegiatan dihentikan pada pukul 22.00 untuk tidur.
Jika sampai alpa, hukuman push-up, lari, atau hukuman lain sudah menanti. Segala kegiatan yang padat itu masih ditambah pembatasan menggunaan telepon seluler, internet, dan sarana komunikasi lain. Alhasil, atlet-atlet tersebut bisa dipastikan hanya fokus pada latihan.
Setelah 1,5 bulan berjalan, sudah tak ada lagi selebor meletakkan handuk bekas pakai di sembarang tempat, lemari pakaian lebih tertata, dan mereka bisa merawat kamar yang disediakan dengan baik. Di lapangan, latihan fisik dilahap dengan mudah oleh mereka.
Dalam waktu dekat, hasil latihan selama di Akmil itu akan diuji di tiga rangkaian kejuaraan nasional dan internasional. Mulai kejuaraan Asia Junior di Malaysia pada 12-19 Juli, Sirkuit Nasional (Sirnas) Tegal (12-19 Juli), serta satu kejuaraan di Surabaya (27 Juli-1 Agustus).
“Anak-anak ini pasti sudah rindu sekali turun ke lapangan untuk bertanding. Mereka pasti berjuang sekuat tenaga untuk menang,” yakin pelatih ganda Bambang Supriyanto. (femi diah/ang)







