Pelatnas Pratama Harapan dari Lembah Tidar
Posted by valsus on June 13, 2009
Matahari di Stadion Sapta Marga, Akademi Militer, Magelang, terasa panas terik, Jumat (5/6), saat pagi menjelang siang. Di trek lari beralas tartan standar internasional, sejumlah pemain tunggal pelatnas pratama tengah berlari.
Pelatih Rony Agustinus berdiri di tepi lapangan sambil memegang stop watch dan memberikan instruksi berapa putaran lagi yang harus dilahap Ari Trisnanto dkk.
Sudah dua bulan 39 pemain pelatnas pratama berlatih di kompleks Akmil Magelang. Saat ini, hal yang menunjukkan perubahan drastis adalah soal kedisiplinan dan kekuatan fisik.
“Fisik mereka jelas meningkat karena latihan yang intens dan fasilitas yang ada di sini amat mendukung. Soal kedisplinan, saya yakin mereka tidak manja jika berada di lapangan,” ucap Edwin Iriawan, pelatih ganda.
Di Akmil, seluruh pemain mengikuti pola hidup dan kedisiplinan yang sama dengan para taruna yang disiapkan untuk menjadi perwira TNI.
Jika berada di lapangan, Edwin, Rony, Bambang Suprianto, Namri Suroto, Risyeu Rosalina, dan Yenny Diah bertanggung jawab memberikan latihan. Selebihnya, pemain akan diawasi sejumlah perwira TNI AD yang dikomandani Koordinator Latihan Pelatnas Pratama, Kolonel Heboh Susanto.
Fisik dan mental skuad pratama betul-betul diuji di pekan-pekan awal. Perubahan kebiasaan sehari-hari sempat membuat pemain kaget, kalau tidak bisa dikatakan stres.
“Disiplin amat ketat. Banyak sekali aturan yang harus dipatuhi. Jika melanggar, ada hukuman. Satu orang dihukum, semua kena. Hal ini membuat kebersamaan kami semakin erat,” kata Hendra Mulyono, pemain ganda.
Rizki Delynugraha, yang tahun lalu sudah tergabung dalam pelatnas pratama, merasakan perbedaan besar dengan semasa dirinya masih berlatih di Cipayung. Di Magelang, pemain menjalani rutinitas bangun pagi, latihan, makan, mencuci baju, hingga tidur di waktu yang sudah terjadwal.
Mereka hanya diberi waktu libur pesiar keluar kompleks Akmil pada Sabtu siang dan Minggu siang hingga malam. Para pemain biasanya menyambangi warnet, berkomunikasi dengan keluarga atau kawan melalui internet atau telepon.
“Sekarang lebih fokus latihan. Saya merasakan peningkatan fisik dan disiplin. Awalnya memang berat dengan rutinitas dan banyaknya aturan, tapi sekarang kami mulai terbiasa,” ujar Rizki.
“Di hari-hari awal sebagian besar dari mereka kelihatan stres. Tapi, setelah diberi pengertian, mereka mulai bisa mengikuti pola hidup dan latihan disini,” ucap Kapten Joko Purwanto, Komandan Kompi Pelatnas.
Awalnya, skuad pratama akan berada di Magelang selama tiga bulan. Namun, Gubernur Akmil yang juga Wakil Ketua Umum I PBSI, Mayjen TNI Sabar Yudo Suroso, menyebut dirinya tengah meminta pada Ketua Umum PBSI, Jenderal TNI Djoko Santoso, supaya pemain digembleng selama setahun di Magelang.
“Idealnya mereka tetap berada di sini selama satu tahun. Jika fisik dan mental mereka kuat, otomatis teknik mereka juga ikut terangkat. Mereka juga ditanamkan disiplin dan nilai kebangsaan. Hal ini yang belakangan mulai terkikis dalam diri atlet kita. Secara berkala atlet pelatnas utama juga sebaiknya dikirim ke sini untuk meningkatkan kedisiplinan dan rasa nasionalisme,” ucap Sabar.
Selama di Magelang, segala kebutuhan pemain ditanggung pihak Akmil. Soal peralatan latihan, mereka tetap disokong Yonex dan produsen kok dalam negeri, Sinar Mutiara, sama seperti pelatnas utama di Cipayung. (Erwin Fitriansyah)







