Hendrawan, dari Sektor Wanita Menyeberang ke Malaysia
Posted by valsus on June 15, 2009
Nasionalisme Ada di Dada Saya
Tak sekali ini persoalan nasionalisme mendera hati Hendrawan. Namun, tetap saja persoalan itu begitu sensitif. Apalagi, kepindahannya ke Malaysia berbarengan dengan kasus Manohara Odelia Pinot dan perseteruan di Ambalat.
——
JEJARING pertemanan dunia maya sudah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari setiap orang saat ini. Facebook merupakan jejaring terpopuler kini.
Hendrawan termasuk salah seorang yang terjangkit wabah tersebut. Begitu pula sang istri, Silvia Anggraeni. Dari sana tanda-tanda kepergian Hendrawan kian dekat saja. Percakapan Silvia dan Henny Mainaky, istri mantan pebulu tangkis Indonesia yang kini melatih Malaysia Rexy Mainaky, kian akrab saja.
Saling menanyakan kabar sampai rencana sekolah anak-anak dua pasangan yang tinggal di negara berbeda itu. Henny memang sudah lebih dahulu tinggal di Malaysia mendampingi Rexy.
Melalui Facebook pula, Hendrawan mengumumkan berakhirnya karir di Pelatnas Cipayung dan mulai merambah timnas Malaysia. Sekaligus lewat jejaring itu, kakak ipar pemain ganda pria terbaik saat ini Hendra Setiawan itu menegaskan agar kepindahannya tak disangkutpautkan dengan nasionalisme.
Tulisnya: “Saya tidak akan menyalahkan penilaian orang terhadap keputusan saya pindah ke Malaysia bahkan yang menghujat sekalipun karena tidak mungkin saya bisa memuaskan 100/1.000 orang terhadap keputusan ini. Cuma satu keinginan saya, jangan pernah meragukan rasaNASIONALISME saya.”
Jeda, koma, dan titik tak menjadi perhatian Hendrawan. Hanya persoalan nasionalisme yang sengaja disorotnya, sengaja dicetak dengan huruf kapital seluruhnya. “Ini pilihan sulit, tapi bagaimanapun hidup ini adalah pilihan. Sejak jadi pemain, saya membela Indonesia. Sudah saatnya saya membela keluarga kini. Nasionalisme tetap ada di dada saya,” tegas Hendrawan di kediamannya, Perumahan Rafless Hill, Cibubur, pekan lalu.
Hendrawan memprediksi, dirinya menuai banyak kritik dari pihak luar menyangkut kepindahannya. Maklum, semua hanya kebetulan. Tim Merah Putih hanya sampai di semifinal Piala Sudirman 2009 Mei lalu. Itu berbarengan dengan kasus Manohara Odelia Pinot yang tengah ramai diberitakan media cetak dan elektronik. Belum lagi persoalan perbatasan yang kian membuat merah telinga pemerintah Indonesia.
“Yang jelas, saya menjadi pelatih di Malaysia dengan niat baik. Tidak ada maksud apa pun, di samping menularkan ilmu,” imbuhnya.
Ya, sebelumnya Hendrawan memang pernah tersenggol persoalan warga negara. Pada 2002, dia menjadi pemain tunggal pertama Piala Thomas. Dia kesulitan mendapatkan SBKRI (Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia) hingga tak bisa mengurus visa sebagai syarat menuju Guangzhou, Tiongkok, tempat penyelenggaraanPiala Thomas.
Dia memang keturunan Tionghoa yang lahir di Malang dari kedua orang tua yang juga sudah menetap di Indonesia. “Saya tidak pernah menyesal atau marah karenanya,” ungkap pria yang juga menjabat sebagai direktur promosi Top1 Oil itu.
Namun, dia sukses membuktikan rasa nasionalisme itu dengan membawa pulang Piala Thomas ke tanah air. Tercatat tiga kali membela Piala Thomas, tiga kali pula Hendrawan sukses mengantarkan Indonesia menjadi juara.
Kini, Hendrawan memang sudah sepenuhnya memikirkan masa depan keluarga. Dia hanya berharap pihak luar memaklumi pilihannya. Dalam angannya, dua anaknya, Joshepine Sevilla dan Alexander Thomas, bisa tumbuh danberkembang dalam kecukupan. Melewati masa kanak-kanak dengan penuh gembira hingga bebas memilih sekolah yang diinginkan.
Tawaran Malaysia memang cukup menggiurkan. Kabarnya, dia mendapatkan gaji Rp 1 miliar per tahun. Entah benar atau tidak, jika tetap di pelatnas, dia akan menerima seperlimanya saja. (femi diah/diq)
—
BIODATA
Nama: Hendrawan
Lahir: Malang, 27 Juni 1972
Isteri: Silvia Anggraeni
Anak:
1. Josephine Sevilla (8 tahun)
2.Alexander Thomas (7 tahun)
Pendidikan:
SD Taman Harapan Malang (lulus 1984)
SMP Keluarga Kudus (lulus 1987)
SMA YMCA Surabaya (tidak lulus)
Klub:
PB Djarum Kudus (1984-1987)
Wima Surabaya (1987-1990)
PB Tangkas Jakarta (1991-sekarang)
Prestasi:
1994 Perempat final Singapura Terbuka
1994 Perempat final Malaysia Terbuka
1995 Semifinal Korea Terbuka
1995 Runner-up Swiss Terbuka
1995 Runner-up Denmark Terbuka
1995 Juara Rusia Terbuka
1997 Runner-up Kejuaran Asia
1997 Juara Thailand Terbuka
1998 Runner-up Asian Games, Bangkok
1998 Juara Singapura Terbuka
1998 Anggota Tim Piala Thomas (Indonesia Juara)
2000 Anggota Tim Piala Thomas (Indonesia Juara)
2000 Medali perak Olimpiade Sydney 2000
2000 Runner-up Jepang Terbuka
2001 Juara Kejuaraan Dunia Piala Sudirman
2002 Anggota Tim Piala Thomas (Indonesia Juara)
Karir pelatih:
2004-2007: Pelatih tunggal wanita dan tunggal pria
2007-2008: Pelatih tunggal pria







