SEJAHTERA BADMINTON CLUB

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

Saatnya Pelatnas PB PBSI di Cipayung Lebih Memercayai Pemain Muda

Posted by valsus on June 24, 2009

Jangan Jadi Kuburan Junior

Sukses Lee Yong Dae menjadi juara Djarum Indonesia Open Super Series 2009 seharusnya bisa dijadikan pelajaran oleh PB PBSI. Bahwa, pemain muda harus diberi banyak kesempatan agar lebih cepat matang.

Atik Jauhari, pelatih tim nasional India asal Indonesia, menyepadankan Indonesia dengan Brazil. Kedua negara itu sama-sama kaya pemain berbakat, namun dalam cabang olahraga yang berbeda. Brazil sebagai penghasil pemain sepak bola dunia, sedangkan Indonesia adalah rajanya bulu tangkis.

Tanpa adanya aturan yang bisa menghambat seorang pelatih dan pemain bulu tangkis hijrah ke luar negeri, saat ini banyak negara diperkuat orang asal Indonesia. Nahasnya, kalau Brazil tetap perkasa sebagai favorit juara setiap kali Piala Dunia diselenggarakan, Indonesia terus menunjukkan tren menurun.

Kegagalan pebulu tangkis Merah Putih merebut satu pun gelar di Djarum Indonesia Open Super Series 2009 menjadi bukti paling nyata atas kondisi itu. Catatan tersebut mengulang kegagalan serupa pada 2007. Kalaupun pada 2008 beberapa pemain Indonesia juara, itu terjadi karena banyak pemain kelas dunia memilih absen untuk mempersiapkan diri menghadapi Olimpiade Beijing 2008.

Tidak berburuk sangka, kalau saja pada 2008 pemain papan atas dunia tampil di Indonesia Open, peluang hat-trick tanpa gelar cukup besar. Demikian juga ke depan, ancaman tanpa gelar di Indonesia Open terus membayangi.

Kenapa prestasi bulu tangkis Indonesia bisa begitu terpuruk? Apakah bakat yang disebut Atik bertebaran di Indonesia sudah tidak lagi ada?

Indonesia dengan penduduk lebih dari 200 juta jiwa tetap memiliki sumber bakat melimpah. Ratusan perkumpulan bulu tangkis yang ada di tanah air setiap tahun menghasilkan ribuan pebulu tangkis muda potensial. Namun, sekian banyak potensi itu tidak bisa dimaksimalkan untuk melahirkan pemain sehebat Rudy Hartono, Liem Swie King, ataupun Susi Susanti.

PB PBSI sebagai organisasi pembina bulu tangkis di tanah air memang tidak bisa langsung disalahkan karena persoalan itu. Namun, sejatinya, banyak pihak lain yang juga harus bertanggung jawab. Mulai pemerintah sampai masyarakat pencinta tanah air.

Selama ini, pemerintah maupun masyarakat selalu menuntut pebulu tangkis Indonesia bisa memberikan gelar juara di setiap even yang diikuti. Hal tersebut secara tidak langsung membuat PB PBSI terpaku untuk mengandalkan pemain-pemain senior di semua ajang. Lihat saja pada SEA Games 2007, ketika pemain juara Olimpiade Athena 2004 Taufik Hidayat masih diandalkan untuk merebut emas di even level regional itu. Padahal, SEA Games seharusnya menjadi jatah pemain muda seperti Tommy Sugiarto atau pemain lain.

Cara Korea Selatan melahirkan seorang Lee Yong Dae sehingga menjadi juara Olimpiade Beijing 2008, termasuk di Indonesia Open pekan lalu, layak ditiru oleh PB PBSI. Masyarakat dan pemerintah pun harus belajar bersabar jika beberapa saat harus puasa gelar untuk adanya regenerasi yang lebih baik.

Yong Dae sebenarnya adalah pemain seangkatan ganda pelatnas Muhammad Rijal. Yong Dae memang dua tahun lebih tua. Namun, mereka pernah main bersama di level junior.

Jika ditilik, prestasi Rijal di level junior malah lebih cemerlang daripada Yong Dae. Bersama Greysia Polii, pemain PB Djarum itu sukses mengalahkan Yong Dae yang turun di ganda campuran pada final Kejuaraan Bulu Tangkis Junior Milo. Tak hanya sekali, Rijal menang dua kali atas Yong Dae, yakni pada edisi 2003 dan 2004.

“Kalau dilihat hasil sekarang, memang prestasi kami sudah jauh berbeda. Saya masih harus mencari poin untuk masuk super series lagi, tapi Yong Dae yang pernah saya kalahkan semasa junior sudah bisa jadi juara Olimpiade,” ujar Rijal.

Secara teknik pun, Rijal mengakui sudah sangat tertinggal bila dibandingkan dengan Yong Dae. “Saya disimpan terus-terusan sih. Kalau saya perhatikan, Yong Dae selalu mengikuti turnamen apa saja sehingga bisa lebih cepat matang,” ujar Rijal.

Richard Mainaky, pelatih ganda campuran pelatnas, mengakui bahwa kematangan Rijal memang terhambat. Maklum, Cipayung memiliki banyak pemain ganda campuran yang terlalu lama membela timnas. “Kalau mau dinilai, Nova (Widianto) saja terlambat jadi juara. Sebab, dia juga harus bersaing dengan pemain-pemain senior yang dulu sangat banyak,” ujar Richard.

Pada 2008, Rijal sebenarnya sukses menjadi juara super series, yaitu di Jepang Open, bersama Vita Marissa. Namun, sejalan dengan kepergian Vita dari pelatnas, Rijal pun kesulitan mendapatkan pasangan baru.

Kalau PB PBSI sejak beberapa tahun lalu memberikan kesempatan lebih banyak kepada Rijal, mungkin saat ini dia sudah bersaing di papan atas seperti Yong dae. Bukan hanya Rijal, mungkin juga pemain lain yang saat ini masih berkutat di lapis kedua pelatnas utama.

Ketua Umum PB PBSI Djoko Santoso setelah berakhirnya Indonesia Open berjanji lebih memperhatikan pembinaan pemain muda. Bahkan, dia mengindikasikan siap puasa gelar untuk sementara waktu. Itu kebijakan yang layak didukung agar Indonesia bisa seperti Brazil. (vem/ang)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,801 other followers