Keuangan PB PBSI Tipis Sulit Tambah Jatah Kompetisi Junior
Posted by valsus on June 27, 2009
JAKARTA – Hasil buruk dua turnamen super series, Singapura Open dan Indonesia Open, yang berakhir pekan lalu menjadi peringatan bagi PB PBSI untuk semakin giat mengirim pemain muda ke turnamen internasional. Namun, itu tak akan mudah dilaksanakan dalam tahun ini.
Dana masih menjadi persoalan krusial bagi PB PBSI. Sampai saat ini, PBSI belum berhasil menggaet sponsor pendamping Yonex yang menjadi mitra utama. Pemerintah yang diharapkan bisa membantu juga tak kunjung memberikan jawaban positif. Ketika baru terpilih akhir tahun lalu, Ketua Umum PB PBSI Djoko Santoso menyatakan bahwa kebutuhan dana selama setahun diperkirakan mencapai Rp 28 miliar. Nah, biaya kompetisi sudah dianggarkan mencapai 50 persen. Artinya, dalam setahun, anggaran para pemain untuk mengikuti kompetisi ialah Rp 14 miliar.
“Anggaran itu sudah kami estimasikan untuk seluruh pemain pelatnas, baik untuk tampil di sirkuit nasional, satellite, challenge, maupun ke super series,” ujar Djendjen Djaenanasri, bendahara PB PBSI, kemarin (25/6).
Memang, wacana untuk menaikkan anggaran kompetisi sudah mengemuka, namun jumlahnya tak banyak alias hanya 5 persen. Jumlah kenaikan itu pun masih dianggap kurang untuk bisa mendukung program akselerasi pemain muda.
Senada dengan Djendjen, Sekjen PB PBSI Jacob Rusdiyanto mengakui bahwa lembaganya masih sangat membatasi kompetisi yang diikuti pasukan Cipayung. Tak ada tambahan turnmanen ke depan. “Kalau memikirkan frekuensi turnamen, itu berkaitan dengan dana. Sampai saat ini, tidak ada rencana memperbanyak turnamen karena PBSI saat ini harus mencari dana sendiri,” ujar Jacob.
Kondisi itu, lanjut dia, berbeda dengan tahun lalu, yakni masa kepengurusan Sutiyoso. Kala itu, PBSI menerima dana untuk persiapan Piala Thomas Uber sebesar Rp 15 miliar dan Rp 3 miliar selama setahun. Jika dihitung, kepengurusan Sutiyoso tinggal memenuhi kekurangannya sekitar Rp 10 miliar dengan estimasi kebutuhan Rp 28 miliar setahun. “Itu sangat membantu kerja pengurus. Beban prestasi diberikan, tapi bantuan untuk mendapatkan apa yang ditargetkan juga ada,” ujar pria asal Surabaya tersebut.
Menurut sumber di lingkungan PB PBSI, KONI dan Program Atlet Andalan (PAL) yang diharapkan bisa menjadi sumber tambahan dana pun tidak mengucurkan anggaran. Dari data PAL, enam pemain masuk daftar mereka dan 18 pemain di pelatnas KONI. Selain biaya kompetisi, PBSI tak menerima uang saku seperti atlet cabang olahraga lainnya. (vem/ang)







