WORLD CHAMPIONSHIP – Tanda `Bahaya` Jelang Kejuaraan Dunia
Posted by valsus on June 28, 2009
Oleh J WASKITA UTAMA
Akhir tahun 2008 hingga awal 2009, bulu tangkis nasional disibukkan dengan pergantian Pengurus Besar Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia,berakhirnya kontrak dengan Yonex, pembubaran sementara pelatnas, dan hengkangnya sejumlah pemain senior dari pelatnas Cipayung.
Hampir enam bulan berlalu, kepengurusan baru telah terbentuk, kontrak dengan Yonex diperbarui, dan pelatnas kembali bergulir. Namun, perbaikan prestasi yang dinanti tampaknya masih harus ditunggu lebih lama lagi.
Indikator paling sederhana adalah hasil pemain Indonesia pada enam turnamen Super Series di paruh pertama 2009. Dari kemungkinan 30 gelar juara, hanya satu gelar yang bisa dibawa pulang pemain Cipayung, yaitu lewat Nova Widianto/Liliyana Natsir di Malaysia Super Series.
Di luar satu-satunya gelar itu, pemain pelatnas hanya lolos ke final di dua nomor lain, masing-masing ganda putri Greysia Polii/Nitya Krishinda dan ganda putra Markis Kido/Hendra Setiawan di Singapura Super Series. Dua nomor final lain diraih mantan pemain pelatnas, yaitu ganda putra Hendra AG/Alvent Yulianto di Malaysia dan Taufik Hidayat di Indonesia.
Pada tiga Super Series lainnya di Korea Selatan, All England, dan Swiss, hasilnya nihil. Jangankan gelar juara, tak satu pun pemain Indonesia, baik yang berstatus pelatnas maupun bukan, yang melaju ke final.
Bandingkan prestasi ini dengan hasil yang diperoleh China. Absen di Malaysia dan Korsel karena menjalani latihan militer, Lin Dan dan kawan-kawan langsung memborong lima gelar juara di All England. Mereka juga masih mendulang tujuh gelar lainnya dari Swiss, Singapura, dan Indonesia.
China semakin berkilau dengan sukses mempertahankan Piala Sudirman, lambang supremasi kejuaraan beregu campuran dunia. Pada saat yang sama, Indonesia gagal mengulang hasil dua tahun sebelumnya untuk maju ke final karena ditundukkan Korsel di semifinal.
Harapan sempat terbit dari sektor ganda putri dengan lolosnya Greysia/Nitya ke final Singapura Super Series. Setelah sukses Vita Marissa/Liliyana Natsir di China Master 2007 dan Indonesia 2008, belum ada lagi ganda putri Indonesia yang berprestasi serupa. Namun, penampilan Greysia/Nitya juga tak stabil dan tak bisa berbuat banyak sepekan kemudian di Jakarta.
Di tengah menurunnya prestasi pemain utama, pelapis mereka tak kunjung memberi harapan. Ganda campuran Devin Lahardi Fitriawan/Lita Nurlita, ganda putra Bona Septano/M Ahsan, Rian Sukmawan/Yonathan Suryatama Dasuki, tunggal putra Simon Santoso, dan Tommy Sugiarto tidak juga mentas ke papan atas.
Lapisan di bawahnya, seperti tunggal putri Linda Wenifanetri, Riski Amelia Pradipta, ganda putri Anneke Feinya Agustine/Annisa Wahyuni, Komala Dewi/Keshya Nurvita Hanadia, serta ganda campuran M Rijal/Debby Susanto, Fran Kurniawan/Pia Zebadiah, dan Ahmad Tantowi/Richi Puspita Dili masih perlu banyak menimba pengalaman bertanding internasional.
Ironisnya, mereka justru kehilangan kesempatan bertanding di Grand Prix Gold Malaysia Terbuka, pekan ini, karena alasan yang tak mampu dijelaskan oleh pejabat teras PBSI sendiri.
Hal ini sangat disayangkan mengingat turnamen di bawah level Super Series yang sesuai kemampuan mereka lebih banyak berlangsung di Eropa. Praktis, butuh biaya lebih banyak sehingga tak banyak pula pemain yang bisa dikirim.
Tanda bahaya
Minimnya prestasi di paruh pertama tahun ini patut menjadi perhatian PBSI mengingat turnamen paling bergengsi tahun ini, yaitu Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2009, sudah di depan mata. Sebanyak 18 pemain pelatnas ditambah Taufik Hidayat dipastikan lolos pada kejuaraan yang berlangsung di Hyderabad, India, 10-16 Agustus.
Para pemain dunia pun telah mengarahkan fokus mereka ke Hyderabad. Pemain kawakan Denmark, Peter Gade, mengaku dalam kondisi fisik terbaik setelah kerap didera cedera. Ganda campuran baru China, Zheng Bo/Ma Jin, dan harapan terbesar India, Saina Nehwal, sepakat menyebut gelar mereka di Indonesia Super Series sebagai modal berharga menuju kejuaraan dunia.
Bagaimana dengan Indonesia? Hingga angka terakhir dimainkan, semua kemungkinan masih bisa terjadi. Namun, melihat hasil para pemain Indonesia akhir-akhir ini, sulit mengharapkan sukses ganda seperti yang dibukukan Kido/Hendra dan Nova/Liliyana pada Kejuaraan Dunia 2007 di Kuala Lumpur.
Prestasi Nova/Liliyana mulai menurun seiring usia Nova yang mendekati 32 tahun. Adapun meski bersama Hendra masih menjadi nomor satu dunia, kondisi Kido rentan cedera dan pasangan ini kerap kesulitan menghadapi pasangan Korsel Jung Jae-sung/Lee Yong-dae.
Kondisi fisik pemain menjadi sorotan utama pada Indonesia Super Series. Jika laga berakhir dengan rubber game, jelas terlihat kondisi fisik tak lagi sebugar game pertama.
Sejumlah pemain juga rentan cedera, seperti Kido dan Maria Kristin Yulianti, yang tak tampil maksimal di ajang Piala Sudirman. M Ahsan batal tampil di Singapura karena cedera punggung dan Nitya Krishinda juga tak tampil dengan kemampuan terbaik di Indonesia Open.
Semangat juang pemain juga perlu terus dipelihara dan ditingkatkan. Tak banyak pemain pelatnas yang mampu memperlihatkan semangat juang yang sama hingga poin terakhir selesai diperebutkan.
PBSI lewat Ketua Bidang Pembinaan Prestasi Lius Pongoh mengakui, pelatnas Cipayung dalam masa transisi untuk regenerasi. Ketua Subbidang Pelatnas Christian Hadinata dalam satu kesempatan bahkan sempat mengatakan, Indonesia harus siap menghadapi paceklik gelar untuk jangka waktu tertentu hingga pemain pelapis siap untuk menggantikan seniornya.
Dengan keterbatasan materi, mau tak mau para pemain utama harus siap berjuang sendiri tanpa pelapis yang bisa membantu menjegal lawan di babak awal.
Bulu tangkis adalah harapan terakhir bangsa ini untuk meraih prestasi. Siapkah kita kehilangan kebanggaan ini ?
Sumber : http://badmintonpage.blogspot.com







