Tunggal Putra – Putri Tanpa Pelatih, Hanya Program
Posted by valsus on July 4, 2009
Hingga saat ini PBSI belum juga menemukan pengganti pelatih Hendrawan di nomor tunggal putra. Akibatnya saat ditinggal pelatih sementara, pemain harus berlatih tanpa pelatih.
Saat ini nomor tunggal putra ditangani Davis Efraim, yang tadinya adalah asisten Hendrawan. Untuk sementara, pelatih tunggal putri Marlev Mainaky diserahi tugas tambahan menangani tunggal putra. Padahal Marlev sebetulnya juga belum memiliki asisten. Jika tak ada turnamen yang harus diikuti di luar negeri, nomor tunggal putra dan putri sehari-hari biasanya dilatih Marlev dan Davis.
Namun, keadaan ini seharusnya tak dibiarkan berlarut-larut. Saat ini, Marlev dan Davis tengah mendampingi anak asuhnya di turnamen Filipina Gold GP. Akibatnya terjadi kekosongan pelatih di pelatnas Cipayung. Tak tanggung-tanggung, kekosongan itu ada di nomor tunggal putra dan putri.
Pemain yang tersisa di Cipayung adalah Sony Dwi Kuncoro, Simon Santoso, Maria Kristin, dan Adriyanti Firdasari. “Mereka sudah diberi program oleh pelatih. Sementara ini, saya yang membantu untuk mengawasi di lapangan,” ucap Kabid. Binpres PBSI, Lius Pongoh.
Dalam keadaan terpaksa, jalan ini terpaksa diambil. Sayangnya, menurut Lius, pemain kurang memiliki kesadaran untuk melatih dirinya sendiri.
“Mereka sudah diberi program. Tapi, terkadang program tersebut tak dijalankan dengan sungguh-sungguh,” ucap Lius.
Rabu (1/7) siang, Sony Dwi Kuncoro tengah berada di ruang Binpres saat menyatakan pinggangnya yang sakit setelah berlatih. “Sudah lama tak latihan situp dan backup setelah cedera. Akibatnya terasa pegal setelah latihan lagi,” ucap Sony.
“Sebetulnya Sony kuat. Tapi, karena lama tak dilatih, jadinya terasa sakit. Itu salah satu bukti pemain masih kurang kesadaran,” ucap Lius.
Sulit Cari Pelatih
Menurut Sony, jika berada di lapangan saat dirinya bertanding, kehadiran seorang pelatih pasti punya peranan. Meski dalam kondisi tertentu, atlet adalah penentu hasil pertandingan.
“Pelatih mau bilang apa pun, kalau tak bisa dilakukan di lapangan oleh pemain tentu tak ada gunanya. Pemain juga harus bisa berpikir di lapangan, mau bermain seperti apa,” ujar Sony di tengah turnamen Super Series Indonesia lalu.
Sebetulnya Marlev sempat mengusulkan nama Thomas Indratjatja untuk menjadi asisten. Thomas sempat menjadi asisten Herry Iman Pierngadi di nomor ganda putra pada kepengurusan PBSI 2004-2008. Hanya, usul ini juga belum disetujui.
“Tak mudah untuk menjadi pelatih saat ini. Mereka tak hanya mengurusi dan bertanggung jawab dalam soal teknis. Hal nonteknis seperti motivasi, kesadaran, dan disiplin atlet juga akhirnya menjadi urusan pelatih,” ucap Lius.
Untuk menghindari kekosongan pelatih seperti yang terjadi seperti sekarang ini, PBSI berencana mengatur kepergian pemain dan pelatih dengan lebih selektif. Kebetulan, di sisa tahun, turnamen yang bakal diikuti pemain pelatnas tak lagi banyak. (Erwin Fitriansyah)







