Alistair Casey : Atlet Harus Menyelesaikan Sekolahnya!
Posted by valsus on July 12, 2009
(Bulutangkis.com) – Terinspirasi dengan salah satu diskusi di milis mengenai pentingnya pendidikan formal bagi para atlet bulutangkis, iseng-iseng saya mengadakan polling kecil-kecilan pada beberapa atlet yang berada di account facebook saya. Polling dilaksanakan secara tertulis melalui fasilitas message.
Pebulutangkis Skotlandia peringkat 58 dunia, Alistair Casey, merupakan atlet yang paling cepat merespon pesan yang saya kirimkan. Tercatat, tak lebih dari 30 menit sejak saya mengirimkan pesan kepadanya!
Atlet berusia 28 tahun itu merespon polling saya dengan sangat terbuka dan ramah sekali. Tidak tanggung-tanggung, ia mengatakan akan siap membantu jika saya membutuhkan informasi apapun darinya.
Publik Indonesia mungkin tak terlalu familiar dengan nama Alistair Casey sebagai atlet bulutangkis. Maklumlah, ia terlalu sering kalah di babak awal dan nyaris belum pernah menelurkan prestasi yang spektakuler. Pada kejuaraan Djarum Indonesia Open Super Series 2009 lalu misalnya, Alistair harus menyerah dini di babak kualifikasi dari atlet muda Thailand, Tanongsak Saesomboonsuk. Sebelumnya, pada kejuaraan Aviva Singapore Open SS 2009, langkah Alistair juga terhenti di babak kualifikasi, setelah dikalahkan pemain China, Qiu Yanbo, 9-21, 15-21.
Tak banyak yang tahu, Alistair memiliki komitmen dan kecintaan yang besar terhadap olahraga tepok bulu. Setamat SMA, ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi agar lebih dapat fokus berlatih dan bertanding badminton. Ia juga berbisnis untuk menunjang perekonomiannya. “I have followed a different path and been very lucky business wise,” ujar pemilik sejumlah bar dan pub di Glasgow, Skotlandia ini.
Meski demikian, Alistair berpendapat, pendidikan adalah modal terpenting bagi setiap atlet untuk memperoleh kesempatan yang lebih baik dalam hidupnya. Seorang atlet minimal harus menyelesaikan pendidikan setingkat SMU. “A good school education is fundamental to all athletes to give you the best chances in life. Always finish school!” lanjutnya.
Kini, selain aktif bermain sebagai atlet profesional, Alistair juga melatih badminton di sebuah klub di New Zealand , di samping mengurusi bisnis bar dan restorannya di Skotlandia. Tak hanya itu, ia pun masih terikat kontrak sebagai pemain badminton bagi sebuah klub di Madrid , Spanyol. Karena kerap bepergian lintas negara inilah, Alistair masih menunda keinginannya untuk melanjutkan pendidikan di bidang hukum pada Universitas Terbuka. “I have considered doing an Open University degree in Law, the Open University is a university here in United Kingdom that allows you to study whilst you travel, over a few years. But this was just an idea that I had, I havent been urgent enough to put it into plan.” kata atlet yang absen dalam turnamen US Open 2009 ini karena baru saja mengikuti kejuaraan White Nights di Rusia beberapa hari sebelumnya.
Ada masa dimana Alistair tidak banyak mengikuti turnamen bulutangkis karena ia harus bekerja mengelola bisnisnya agar dapat menghasilkan uang, “there has been periods in my life where I have not been able to play as much badminton because I have had to focus on work and to make money” katanya.
Dengan bendera BDHC Limited dan Linass Group, salah satu bar yang kini dikelola Alistaire adalah sebuah bar besar untuk pecinta sepak bola, bernama McChuills, yang terletak di kota Glasgow.
Alistair termasuk atlet yang rajin bergabung dengan sejumlah situs jejaring sosial. Selain facebook, ia tercatat pula pada situs twitter dan Linkedln. Ia mendeskripsikan dirinya sebagai seorang ’badminton player, bar/club owner, full time globetrotter, & part time idiot’ pada situs jejaring Twitter.
Pria kelahiran 23 Februari 1981 tersebut juga giat mendorong orang-orang agar berkunjung ke situs pribadinya : www.alistaircasey.com. Disana ia membuka ”kotak amal” bagi siapapun yang berkenan untuk memberi donasi padanya.(mk)








sistem informasi sekolah terpadu said
info yang sangat menarik, trims
atlit juga manusia….