SEJAHTERA BADMINTON CLUB

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

Pembinaan Usia Dini Kunci Kebangkitan Indonesia

Posted by valsus on July 22, 2009

KamiBangsaIndonesia

Oleh : Karyanto

Aroma kebangkitan bulutangkis Indonesia, kian tercium di mana-mana. Salah satunya adalah minat yang besar, yang kian hari semakin luas, terindikasi dari banyaknya atlet usia dini yang membanjiri berbagai pagelaran pertandingan bulutangkis di tanah air.

Belum lagi, dirangsang oleh beragam informasi yang diluncurkan PB Djarum, untuk menjaring atlet penerima beasiswa bulutangkis. Dulu mungkin,kita hanya mengenal beasiswa melalui jalur pendidikan formal. Misalnya, beasiswa bagi pelajar/mahasiswa yang memiliki prestasi akademik. Kini era itu, sudah bergeser, sebab bila memiliki potensi dan prestasi yang baik di bidang bulutangkis, juga tersedia beasiswanya. Kita masyarakat luas, mensyukuri atas kiprah PB Djarum yang secara konsisten membina bibit-bibit unggul atlet bulutangkis lewat pemberian beasiswa bulutangkis.

Pada seleksi beasiswa bulutangkis PB Djarum 2009, tercatat lebih dari 600 peserta dari berbagai propinsi di Indonesia. Sebuah animo besar untuk menjadi atlet bulutangkis. Dan yang lebih hebat lagi, hajatan ini, satu-satunya di Indonesia. Tidak pelak, bila antusiasme peserta dapat dijadikan satu indikator akan kembali bangkitnya bulutangkis Indonesia.

Memang hasil buah kerja keras dan sistematis ini, tidak akan bisa dinikmati satu-dua tahun ke depan. Sebut saja, salah satu pebulutangkis dari PB Djarum yang kini moncer di level internasional, yaitu Maria Kristin, sejak kapan dia dibina PB Djarum….? Pasti, melalui tahapan pelatihan jangka panjang. Dan tentunya, kita bangsa Indonesia, berharap generasi penerus dari PB Djarum Kudus akan mampu diciptakan di masa mendatang. Saya termasuk yang berkeyakinan bahwa Juara itu Harus DICIPTAKAN. Tidak bisa hanya menunggu DILAHIRKAN.

Diciptakan mengandung konotasi ada upaya yang terarah, terukur dan menggunakan model pendekatan pentahapan pelatihan yang berjenjang. Sedangkan dilahirkan, hanya menunggu orang yang melahirkan bibit unggul. Siapa yang akan melahirkan? Sesuatu yang abstrak bukan? Baik, kita tidak perlu membahas perbedaan pendapat itu. Sebab fakta telah membuktikan, bahwa Negara yang konsisten mencuatkan atlet unggulan, adalah Negara yang menciptakan juara, dan bukan melahirkan juara.

Jejak yang Mendunia

Berdasarkan pengamatan penulis, dan setelah juga berdiskusi dengan sejumlah Pembina bulutangkis, secara teknis dan fisik, atlet bulutangkis Indonesia itu handal. Bakatnya bagus-bagus dan banyak jumlahnya. Hanya, kekurangan yang mendasar adalah jenjang pembinaan jangka panjang yang belum solid dilakukan oleh Indonesia.

Sejatinya, tidaklah tepat, hanya mengandalkan klub bulutangkis di dalam menciptakan atlet kelas dunia. Sebab, bukankah mereka itu akan menjadi duta Negara? Jadi Negara harus terlibat sejak dini. Tidak perlu Negara membuat sekolah bulutangkis, tetapi bagaimana Negara secara sinergis memfasilitasi klub bulutangkis, agar program pelatihan bulutangkis yang ditangani klub bisa berjalan seiring dengan usia atlet yang bagaimanapun juga perlu dukungan pendidikan formal.

Peran itu, dengan mudah dapat dimainkan pemerintah, dengan memfasilitasi atlet bulutangkis yang berprestasi mendapat beasiswa pendidikan, dan diberikan kemudahan dalam proses belajar mengajar. Sebab, jelas tidak fair memberikan jatah waktu belajar yang sama antara atlet dan non atlet. Sebagai atlet bulutangkis yang dituntut latihan pagi dan sore, dan mengikuti kalender pertandingan secara rutin, jelas harus ada format khusus dalam sistem ajar di bangku sekolah.

Mengapa ini penting? Pertama, ada rasa kebanggaan dari si atlet atas dukungan dari pemerintah bahwa pendidikan formal mereka difasilitasi. Dalam bahasa gaul anak sekarang, kira-kira begini, “Gue ini juga dihargai oleh Negara, jadi Gue harus bisa jadi juara demi Negara..”. Kedua, klub bulutangkis dan khususnya si atlet dan orang tua atlet tidak dibebani hal-hal lain di luar pelatihan bulutangkis. Ketiga, ada simbiosis mutualisme antara pendidikan formal dengan pembinaan bulutangkis, yang banyak diyakini, terutama di Negara maju, bahwa seorang atlet yang hebat juga memerlukan pendidikan yang memadai. Mungkin tidak untuk mencari prestasi akademik, tetapi di bangku pendidikan formal, bisa banyak hal dipelajari terkait dengan bulutangkis.

Misalnya, pola hidup sehat yang dapat dimulai dari pengetahuan atlet terhadap anatomi tubuh. Ini tentunya bagian dari pelajaran biologi. Bisa juga, bagaimana peran tinggi tubuh dapat memaksimalkan atlet bulutangkis. Dengan tinggi tubuh yang optimal (sekitar 180 cm), maka secara ilmu fisika, atlet tersebut akan dapat meluncurkan shuttlecock lebih tajam saat melakukan smash, dibandingkan dengan orang yang lebih pendek. Tentu dalam hal ini, tidak dikaitkan dengan posisi smash dengan melakukan jumping.

Dua contoh diatas, hanya sekedar menunjukkan betapa, sinergi pendidikan formal dan pelatihan bulutangkis bisa saling mendukung dan melengkapi. Sedangkan secara makro adalah, bahwa bekal pendidikan formal akan menjadi modal atlet saat terjun sebagai makhluk sosial ditengah masyarakat, apakah akan menjadi pegawai (profesional), entrepreneur, atau profesi lain yang tidak terkait dengan bulutangkis.

Menarik apa yang dilakukan Singapore Sport Schools yang mengkombinasikan pendidikan formal dengan pelatihan olah raga menjadi satu atap. Jelas, dalam hal ini pemerintah Singapore menggunakan model pendekatan keseimbangan pelajaran formal akademik dengan pelatihan olah raga. Tentunya, pada level tertentu, konsentrasi portofolio pelajaran formal, akan dikurangi, seiring dengan prospek si anak. Apakah dapat terus dijalur olah raga, atau karena kurang kompetitif sebagai atlet, sehingga masih terbuka lebar dijenjang pendidikan formal.

Sepengetahuan penulis, pelatih kepala bulutangkis Singapore Sport Schools adalah alumni PB Djarum. Ini bukti lain, bahwa PB Djarum sudah mengibarkan alumninya, tidak saja hebat sebagai atlet, tetapi juga melahirkan pelatih yang disegani, bahkan di manca negara.

Soal prestasi, PB Djarum sudah terbukti mampu menciptakan atlet-atlet kelas dunia (sebut saja, misalnya: Hastomo Arbi, Haryanto Arbi, Edi Hartono, Christian Hadinata, Ivana Lie, Fung Permadi, Sigit Budiarto, Maria Kristin dan lain-lain) , dan kini tetap konsisten menjaring bibit unggul sejak usia dini, patut mendapat apresiasi.

Mensinergikan pola ajar pendidikan formal dengan kurikulum pelatihan bulutangkis, kiranya juga mendesak disinkronkan, agar generasi penerus atlet bulutangkis Indonesia, selain jago di lapangan bulutangkis, juga memiliki daya pikir yang baik. Bukankah dengan daya pikir yang cerdas, seorang atlet akan ada peluang mampu lebih unggul juga di lapangan? Mari kita tunggu kembali kebangkitan bulutangkis Indonesia, dan peran itu sangat terbuka datangnya dari Kudus. Tagline dari Kudus, menuju prestasi DUNIA, adalah fakta dan peneguhan komitmen dari para pengurus PB Djarum untuk kembali MENCIPTAKAN sang Juara. Semoga…!

* Karyanto, tinggal di Depok, Bogor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,801 other followers