Indonesia Telat Regenerasi !
Posted by valsus on July 25, 2009
CINTA OLAHRAGA INDONESIA – TEGAL — Prestasi bulu tangkis Indonesia yang cenderung menurun akhir-akhir ini membuat semua pihak nyaris menyuarakan kritikan tajam. Hal itu ditujukan terutama pada bidang prestasi dan pembinaan yang dirasa tidak bisa bekerja maksimal dalam membentuk pemain.
Karakter dan teknik pemain cenderung stabil dan stagnan sehingga mulai bisa dilibas negara-negara yang notabene belum memiliki nama dalam satu dekade. Jepang, India, dan Malaysia sukses mencuri prestasi Indonesia terutama di beberapa nomor, seperti tunggal putra, tunggal putri, dan ganda putri.
Bahkan di level ganda putra, prestasi tim Merah Putih yang dulu begitu digdaya sudah mulai tersaingi. Tak pelak, sistem regenerasi, pembinaan, dan alur prestasi menjadi hal paling krusial.
Semua hal di atas dikemukan Ketua Umum POR PB Djarum FX Supandji di sela-sela acara Djarum Sirkuit Nasional Bulu Tangkis 2009, Jumat (24/7), di Tegal. Ia mengungkapkan, saat ini PB PBSI seharusnya mulai berkonsentrasi untuk meningkatkan performa pemain kembali.
“Kami pikir, ada beberapa kekurangan elementer di sistem pembinaan yang membuat kita tertinggal, dan mulai harus merelakan beberapa nomor andalan kita direngkuh orang lain,” ucap Supandji.
Ia menegaskan, saat ini Indonesia telat dalam urusan regenerasi. Bahkan bisa dibilang generasi emas bulu tangkis Indonesia sudah hilang satu generasi. Contoh nyata, setelah era Hariyanto Abi, Ardy B Wiranata, sampai Joko Suprianto, nyaris tak ada lagi yang stabil selain Taufik Hidayat. Sony Dwi Kuncoro yang dianggap bisa menyaingi Taufik malah melempem, begitu juga Tommy Sugiarto sampai Andre Kurniawan yang nyaris stagnan.
“Kita harus benar-benar memerhatikan itu. Jika tidak, negara ini bisa-bisa kehilangan identitas olahraga. Lihat negara-negara lain yang bersemangat begitu badminton dimasukkan ke cabang Olimpiade. Ini harus menjadi perhatian serius, jika tidak, kita akan malu di kemudian hari,” sebut Supandji.
Hal senada juga diungkapkan mantan andalan tunggal putra Indonesia, Hariyanto Arbi. Ia menegaskan, selama ini sistem pembinaan dirasa sangat kurang dan dalam beberapa hal tidak jelas sehingga motivasi pemain menjadi berkurang tidak seperti dulu lagi. “Kita memang seperti kehilangan satu generasi, jadi tak ada cara lain, kecuali keseriusan pihak swasta,” kata Heryanto.
Karena itulah, PB Djarum berkomitmen untuk terus berpartisipasi dalam menyumbang pemain berlevel internasional. “Kami sudah berkomitmen untuk terus membuat dan mengirim para pemain berkelas,” ucap Supandji yang menyebut dana tidak menjadi masalah yang berarti.
Terakhir kali sumbangsih nyata PB Djarum bisa ditunjukkan kala seorang pemainnya, Rendy Sugiarto, berhasil meraih gelar juara di nomor ganda putra pada Kejuaraan Junior Asia di Kuala Lumpur. Pasangan Rendy Sugiarto/Angga Pratama sukses mengalahkan Yew Hong Kheng/Ow Yao Han, 21-16 dan 21-16, serta menjadi satu-satunya penyumbang gelar bagi Merah Putih.
“Kami akan selalu berada di barisan terdepan untuk menyumbang pemain bekualitas tinggi,” tambah Supandji. (sihc/skoc)







