SEJAHTERA BADMINTON CLUB

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

Mundurnya Singapura di Djarum Sirnas Jatim 2009 karena Jadwal Bentrok, Bukan Flu Babi

Posted by valsus on July 27, 2009

PANITIA Djarum Sirkuit Nasional (Sirnas) Jatim 2009 sempat merilis keterangan, dua pebulu tangkis Singapura mundur karena H1N1. Bahkan, menurut panitia ketika itu, mereka mundur karena adanya travel warning dari pemerintah Negeri Singa itu terkait kekhawatiran warganya tertular virus tersebut di Indonesia.

Tapi, hal itu dibantah Jeffer Rosobin, salah seorang pelatih di asosiasi bulu tangkis Singapura (SBA). Pelatih yang pernah bernaung di Pelatnas Cipayung selama delapan tahun itu menjelaskan, bukan flu babi yang menyebabkan dua anak didiknya urung tampil. ”Kebetulan, di waktu bersamaan sedang berlangsung Laos Challenge. Akhir­nya, federasi memutuskan dua orang diberangkatkan ke Laos,” papar pelatih kelahiran 5 Januari 1976 tersebut saat ditemui di Hotel Bumi, Surabaya, kemarin (25/7). ”Tidak kaitan sama sekali dengan flu babi,” lanjutnya.

Dia menambahkan, pemerintah Singa­pura juga tidak telah mencabut travel warning ke Indonesia berkaitan dengan flu babi. April lalu, pemerintah Singapura memang merilis seruan itu. Akibatnya, di antara 14 pebulu tangkis Singapura yang dijadwalkan mengikuti Piala Wali Kota Surabaya, hanya seorang yang datang.

”Sekarang, tidak ada ketakutan soal flu babi. Mungkin, karena di Singapura juga sudah ada yang kena,” papar pelatih yang dibesarkan Suryanaga itu.

Dua pemain yang mundur dari Sirnas Jatim dan dialihkan ke Laos Challenge adalah Robin Gonanza dan Ng Zhong Ren. Sementara, dua pebulu tangkis yang tetap datang ke Indonesia adalah Febriyan Irvanalldy dan Huang Chao.

Sebenarnya, mereka adalah pemain tunggal. Tapi, di Sirnas Jatim mereka juga akan turun di nomor ganda. Jeffer menuturkan, Febriyan dan Zhong Ren adalah dua pemain tunggal U-19 terbaik di Singapura. Di kategori senior, dua pebulu tangkis itu berada di urutan keempat dan kelima.

Sebelum diturunkan di Sirnas Jatim, para pebulu tangkis Singapura tersebut diterjunkan di sejumlah kejuaraan. Yaitu, Vietnam Challenge, Filipina Challenge, dan Malaysia Gold Grand Prix. Di ketiga kejuaraan tersebut, mereka diturunkan di kelas dewasa. Tapi, di Sirnas Jatim mereka diturunkan di kelas taruna, bukan dewasa.

”Persaingan di Indonesia memang lebih berat, karena kualitasnya juga lebih baik. Tapi, paling tidak, ada yang masuk final di antara keduanya,” urai pria yang melatih di Singapura tiga tahun terakhir itu.

Dua pebulu tangkis, lanjut Jeffer, masih berpeluang mewujudkan target tersebut. Sebab, menurut dia, kualitas keduanya bisa mengimbangi peserta lain.

Sejumlah klub seperti Djarum Kudus, Jaya Raya, Tangkas, dan Suryanaga, tambah Jeffer, bakal menjadi sandungan berat. ”Saya yakin, anak-anak bisa mengatasi tekanan dan berprestasi di turnamen ini,” ujarnya.

Ayah tiga anak itu menambahkan, keikutsertaan para pemain Singapura di Sirnas Jatim adalah bagian dari persiapan menuju Youth Olympic pada Agustus tahun depan. Kebetulan, pada even perdana itu, Singapura bakal menjadi tuan rumah. Di even tersebut, Singapura menargetkan bisa bersaing dalam memperebutkan medali dengan negara-negara bulu tangkis dunia seperti Tiongkok, Indonesia, Malaysia, atau Korea Selatan (Korsel).

”Sampai saat ini, anak-anak menunjukkan perkembangan. Saya harap, ketika Youth Olympic mereka mencapai puncak penampilan,” ucapnya. (diq)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,801 other followers