Rahmat Irianto, Juara Papua yang Bersiap Pindah ke Jawa : Tertarik setelah Lihat Taufik Hidayat di TV
Posted by valsus on July 29, 2009
RAHMAT Irianto bersemangat saat berlatih di GOR Sudirman, Surabaya, Minggu (26/7) lalu. Setelah berlatih game, dia melanjutkan dengan sprint.
Rahmat memang mempersiapkan diri sebelum terjun di tunggal pemula Djarum Sirnas Jatim yang berlangsung mulai kemarin (27/7) hingga 1 Agustus mendatang.
“Saya ingin menjadi juara dunia seperti Taufik Hidayat. Jadi, saya harus latihan keras,” tutur remaja kelahiran Jayapura, 19 Januari 1996, tersebut setelah latihan.
Bagi pelajar kelas IX SMP Negeri 1 Jayapura itu, Taufik adalah pebulu tangkis spesial. Mantan pebulu tangkis Pelatnas Cipayung itu menginspirasi Rahmat untuk terjun sebagai atlet bulu tangkis. Rahmat mengatakan, ketika banyak kawan sebayanya bermain sepak bola, dirinya justru tertarik untuk bermain bulu tangkis.
“Waktu itu saya masih berumur delapan tahun. Melihat permainan Taufik di TV, saya ingin menjadi pebulu tangkis,” kenangnya.
Keinginan tersebut akhirnya diakomodasi orang tua Rahmat. Dia dimasukkan ke PB Pengda Papua. Di sana, bakat bulu tangkis anak kedua di antara tiga bersaudara itu berkembang.
Umur sebelas tahun, dia menjadi yang terbaik pada kelompok anak-anak di Papua. Prestasi itu dia pertahankan sampai saat ini, ketika sudah berumur 13 tahun.
Tak terkalahkan di tanah kelahiran membuat Rahmat mencari tantangan di Pulau Jawa yang merupakan pusat perkembangan bulu tangkis Indonesia. Mulai dua tahun lalu, dia mengikuti kompetisi di Jawa. Selain itu, dia melanglang ke luar Papua. Sebab, even bulu tangkis di provinsi yang berbatasan dengan Papua Nugini tersebut kurang.
“Di Papua memang tidak banyak yang tertarik untuk berlatih bulu tangkis. Akibatnya, saya susah cari sparring partner dan pertandingan sedikit,” ungkapnya.
Sejak dua tahun lalu, dia mengikuti banyak kompetisi di Jawa. Tapi, hasilnya justru berkebalikan dengan yang didapat di Papua. Belum satu pun gelar juara berhasil dia rebut. Pencapaian terbaik dia dapat di Kejuaraan Bulu Tangkis Usia Dini BM 77 2009. Pada turnamen yang dihelat di GOR BM 77, Bandung, beberapa waktu lalu itu, dia berhasil merebut medali perunggu.
Menurut pebulu tangkis bertingi 168 cm tersebut, rentetan kegagalan itu disebabkan kualitas para pebulu tangkis di Jawa yang memang masih berada di atas dirinya. Kenyataan tersebut tak membuatnya patah semangat.
Sebaliknya, itu menjadikan dia bersemangat untuk memperbaiki kemampuan bermain bulu tangkis. Beberapa waktu lalu, dia juga berlatih privat di Jakarta. Pelatihnya adalah Jeffer Rosobin yang saat ini melatih timnas Singapura.
Rencananya, setelah mengikuti Sirnas Jatim, dia kembali ke Papua. Kemudian, Rahmat langsung mengikuti seleksi untuk masuk ke salah satu klub di Jawa.
“Kalau ingin berkembang, memang harus berlatih di Jawa. Tapi, saya belum tahu ingin berlatih di klub apa,” terangnya.
Rahmat berharap masa depannya sebagai atlet bulu tangkis cerah. Dia memiliki angan-angan bisa menembus pelatnas pratama saat masuk dalam kategori taruna. Impiannya adalah menyamai prestasi pebulu tangkis pujaannya, Taufik.
“Kalau berusaha, pasti ada jalan. Saya yakin, menjadi seperti Taufik bukan mimpi asal mau kerja keras,” tegasnya.
Sirnas Jatim yang sudah membentang di depan matanya akan dijadikan ajang menempa diri. Rahmat belum yakin juara. Tapi, dia menargetkan masuk dalam 16 besar. (diq)







