SEJAHTERA BADMINTON CLUB

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

PBSI Tidak Miliki Standar Kepelatihan

Posted by valsus on July 31, 2009

SOLO, KOMPAS.com — Selama ini Indonesia belum bisa menciptakan juara bulu tangkis secara berkesinambungan. Masih terputusnya generasi juara tersebut karena Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia atau PBSI tidak memiliki standar kepelatihan yang merata di setiap daerah.

Akibatnya, bakat pemain yang ada tidak ditangani dengan benar, ujar pemandu bakat Pengurus Besar PBSI sekaligus Manajer Tim PB Djarum Fung Permadi dalam seminar bertajuk “Semangat Jawa Tengah Membangun Bulu Tangkis Indonesia” di Kota Solo, Jawa Tengah, Kamis (30/7). Dalam rapat itu turut hadir sebagai pembicara mantan juara dunia bulu tangkis Haryanto Arbi, Ketua Pengurus Provinsi PBSI Jateng Mochammad Anwari, dan wartawan olahraga Ian Situmorang, dan selaku moderator Ivana Lie.

Kita tidak bisa menunggu juara bulu tangkis akan lahir dengan sendirinya. Untuk mencetak juara, dibutuhkan pelatih-pelatih yang berkualitas, kata Fung.

Tokoh dan mantan pemain bulu tangkis Ivana Lie menilai, tidak adanya standar kepelatihan tersebut karena Indonesia tidak pernah membuat cetak biru pembinaan bulu tangkis yang di dalamnya memuat standar kepelatihan dan program latihan yang pakem.

Menurut Ivana, untuk membuat cetak biru pembinaan tersebut, PBSI perlu membentuk tim penatar yang memiliki kompetensi dan pengalaman dalam bidang bulu tangkis. Sehingga akan muncul acuan kurikulum yang berbobot dan dapat dijalankan di tiap-tiap daerah katanya.

Mantan juara dunia bulu tangkis Haryanto Arbi menambahkan, kondisi tersebut menjadikan Indonesia tidak dapat menciptakan juara, tetapi hanya melahirkan juara. Pelatih memang punya andil, tetapi munculnya juara lebih karena bakat si pemain bukan latihannya, kata Haryanto.

Fung mengatakan, apabila kondisi ini dibiarkan terus-menerus maka bulu tangkis Indonesia akan terus stagnan dan ketinggalan jauh dari negara-negara lain seperti China dan Korea Selatan.

Tidak berkembangnya bulu tangkis, lanjut Fung, menyebabkan pelatih dan pemain bulu tangkis belum dapat dipercaya sebagai profesi yang memiliki prospek cerah.

Berdasarkan survei AC Nielsen pada Maret-April 2009 terhadap 1.026 responden di Jawa Tengah, terdapat 51 persen yang menyatakan mau bermain bulu tangkis karena alasan kesehatan, 34 persen mau bermain bulu tangkis karena hobi, dan 9 persen mau bermain bulu tangkis secara profesional.

Untuk itu, Fung berharap agar PBSI tidak terlalu sibuk dengan program pelatihan nasional (pelatnas) semata sehingga potensi pemain di daerah terabaikan. PBSI harus dapat membuat standardisasi dan akreditasi kepelatihan yang sama di tiap daerah agar jenjang pelatih menjadi jelas, ujarnya.

Ketua Pengprov PBSI Jateng Mochamad Anwari mengakui akan membuat standar kepelatihan sendiri se-Jateng berdasarkan masukan dan pengalaman dari pelatih di tingkat kabupaten/kota dan pihak klub. Setelah itu, seluruh kabupaten/kota diminta untuk menggunakan acuan tersebut sehingga standar pelatih se-Jateng akan sama, katanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,801 other followers