Anak-Anak Pesepak Bola di Pelatnas PB PBSI Cipayung (1)
Posted by valsus on August 25, 2009
Karena Wanita Sulit Bersinar di Cabang Sepak Bola
Darah sepak bola ternyata mengalir di beberapa penghuni pelatnas PB PBSI di Cipayung. Di antara puluhan pebulu tangkis di sana, ada yang memiliki bapak mantan pesepak bola hebat di level nasional.
Miftakhul F.S., Jakarta
—
Keringat trah Panus Korwa kembali menetes di arena olahraga. Bahkan, kali ini keringat itu tidak hanya membasahi pentas olahraga nasional, tapi juga even olahraga berskala internasional.
Panus Korwa adalah pesepak bola yang beredar di era 1980-an. Dia merupakan salah seorang legenda Arema Malang. Kolaborasinya bersama Mecky Tata dan Dominggus Nowenik mampu menempatkan Arema di posisi keenam Galatama 1987/1988. Pencapaian yang cukup apik. Sebab, itu adalah tahun pertama Singo Edan (julukan Arema) berlaga di Galatama.
Kini kehebatan keluarga Panus kembali mewarnai dunia olahraga tanah air melalui Nitya Krishinda Maheswari. Dia adalah pasangan Gresyia Polii di sektor ganda wanita pelatnas. “Saya adalah anak Panus Korwa. Keberadaan saya di sini (pelatnas Cipayung, Red) juga karena tetesan keringat papa,” sebut Nitya.
Jalan yang dipilih wanita berusia 20 tahun itu memang berbeda dari ayahnya. Jika Panus berkecimpung di sepak bola, Nitya lebih memilih bulu tangkis. Namun, meski berbeda pilihan, Nitya menyebut bahwa orang tuanya, terutama sang ayah, punya peran besar dalam perjalanan karirnya di bulu tangkis.
Panus memang tidak memberikan modal teknik. Sebab, untuk urusan teknik, bekal itu didapatkan Nitya dari para pelatihnya. Terutama para pelatihnya di tiga klub bulu tangkis di Blitar, Jawa Timur. Yakni, PB Dasa Digdaya, PB Merpati, dan Satria Mandiri.
“Papa berperan dalam mengenalkan saya kepada olahraga. Beliau juga yang selalu mengobarkan semangat saya. Dan tentu saja, beliaulah yang berkorban materi untuk saya,” tutur anak pertama Panus tersebut.
Nitya berkisah, sejak kecil dirinya sudah dikenalkan sang ayah kepada olahraga. Bahkan, sesekali dia menyaksikan ayahnya beraksi di atas lapangan. Karena perkenalan itu, pebulu tangkis kelahiran Blitar tersebut ingin berkecimpung di dunia olahraga.
“Saya mulai aktif berlatih bulu tangkis sejak kelas II SD. Kenapa saya memilih bulu tangkis? Sebab, olahraga itu lebih mudah bagi saya yang seorang wanita. Beda dengan sepak bola yang minim tempatnya bagi seorang wanita,” papar Nitya.
Pilihan Nitya berkecimpung di bulu tangkis pun tidak salah. Sejak 2005 dirinya sudah dipercaya berkostum tim Merah Putih. Nitya pun bisa melangkah lebih jauh daripada sang ayah. Sebab, pebulu tangkis yang pernah menimba ilmu di PB Jaya Raya Jakarta tersebut bisa mengikuti turnamen-turnamen di luar negeri.
Gelar juara berskala internasional pun sudah dia rengkuh. Misalnya juara India Satellite pada 2005 dan Singapura Satellite (2006). Pada pertengahan tahun lalu, bersama Greysia, Nitya mampu menduduki posisi runner-up Singapura Open yang berlevel super series.
“Prestasi ini belum seberapa, Mas. Saya masih ingin meraih titel yang lebih tinggi. Untuk itu, saya selalu siap berlatih keras. Itu pula yang selalu diajarkan papa,” tegas Nitya. (bersambung/ang)







