Anak-Anak Pesepak Bola di Pelatnas Cipayung (2-Habis)
Posted by valsus on August 26, 2009
Audi Bangga Ayah, tapi Lebih Terpikat Susi
Nitya Krishinda Maheswari bukan satu-satunya anggota Pelatnas Cipayung yang berasal dari keluarga sepak bola. Ni Made Claudia Ayu Wijaya adalah pebulu tangkis pelatnas lain yang memiliki bapak pesepak bola langganan timnas.
Miftakhul F.S., Jakarta
—
Namanya cukup panjang, Ni Made Claudia Ayu Wijaya. Sepintas namanya mengingatkan pada sosok pesepak bola kenamaan asal Bali, I Made Pasek Wijaya. Apalagi, wajah Audi -begitu dia akrab disapa- juga mengesankan adanya kesamaan dengan mantan pemain Pelita Jaya tersebut.
“Beliau (I Made Pasek Wijaya) memang papa saya. Saya merupakan anak pertama beliau (I Made Pasek Wijaya memiliki tiga anak),” sebut Audi kepada Jawa Pos.
Audi begitu bangga pada ayahnya. Dia bangga bukan karena dirinya begitu dekat dengan sang ayah. Tapi, kebanggaan tersebut tumbuh karena prestasi ayahnya di pentas sepak bola tanah air.
Nama I Made Pasek Wijaya di belantika sepak bola nasional memang cukup tenar. Pria kelahiran Denpasar itu pernah mengantarkan Pelita Jaya meraih tiga kali gelar juara Galatama. Tepatnya pada musim 1988/1989, 1990, 1993/1994. I Made Pasek Wijaya juga cukup lama dipercaya berseragam tim nasional, mulai 1991-2000.
“Beliau adalah idola, panutan, dan motivator saya. Saya terjun di dunia olahraga juga berkat peran besar beliau,” kata Audi.
Hanya, meski sangat bangga dan mengidolakan ayahnya, Audi tidak mengikuti jejak sang ayah ketika memutuskan berkiprah di olahraga. Ya, gadis berusia 18 tahun tersebut tidak berkecimpung di sepak bola. Audi lebih memilih bulu tangkis. Bahkan, pilihan untuk terjun di olahraga tepok bulu tersebut dijalani Audi sejak berusia delapan tahun. Pada usia itu Audi mulai berlatih di PB Jaya Raya Jakarta.
“Saya memang bangga terhadap papa. Tapi, saya lebih terpikat oleh aksi Mbak Susi Susanti. Karena itu, saya ingin mengikuti jejak Mbak Susi dengan bermain bulu tangkis,” ungkap pebulu tangkis kelahiran Jakarta tersebut.
Audi kecil memang sering bersentuhan dengan sepak bola. Namun, Audi kecil juga sering mendengar pembicaraan tentang aksi-aksi Susi Susanti. Era 90-an, saat Audi masih kecil, prestasi Susi memang begitu menonjol. Termasuk, ketika dia merebut emas Olimpade Bercelona 1992.
“Saya memang tidak pernah melihat aksi langsung Mbak Susi. Maklum, saat Mbak Susi main, saya masih balita. Tapi, saat ini saya sering mendengar cerita tentang beliau. Saat mulai berlatih bulu tangkis, saya mulai menyimak aksinya lewat rekaman,” tutur Audi.
Nah, semangat Audi untuk bermain bulu tangkis semakin membubung tatkala pada 2002 dirinya bertemu Susi. Sejak saat itu, Audi makin rajin berlatih. Asanya menjadi juara seperti Susi pun semakin membara. Karena itu pula, Audi memilih bermain di sektor tunggal wanita.
“Saya main di tunggal wanita sejak pertama berlatih bulu tangkis. Saya enjoy di sektor itu karena saya ingin seperti Mbak Susi. Tapi, sekarang juga tetap enjoy, meski harus bermain di ganda wanita,” ujarnya.
Audi sekarang memang bermain di sektor ganda wanita. Perpindahan itu terjadi setelah pebulu tangkis bertinggi 160 sentimeter tersebut masuk Pelatnas Pratama pada awal 2009. Di nomor barunya itu, Audi bersama pasangannya, Della Destiara, baru saja menjadi runner-up di turnamen Indonesia International Challenge 2009.
“Meski bermain di ganda, semoga prestasi saya tetap bisa menjulang tinggi seperti Mbak Susi. Semoga saya juga langgeng di pelatnas seperti yang dilakukan papa di timnas sepak bola,” harap Audi. (ang)







