Perkembangan Pelatnas : Skala Prioritas Pengiriman
Posted by valsus on August 29, 2009
Menurunnya prestasi pebulu tangkis pelatnas di sepanjang 2009 membuat PBSI harus memilih skala prioritas turnamen yang akan diikuti di sisa tahun.
Ajang super series paling dekat yang ada di kalender Badminton World Federation adalah China Masters (15-20 September) dan Jepang Open (22-27 September). Ada kemungkinan skuad pelatnas hanya dikirim ke Jepang meskipun biasanya pengiriman dilakukan ke dua turnamen lantaran tanggal yang berdekatan.
“Mengingat prestasi pemain belakangan ini, soal pemberangkatan akan kita akan bicarakan lagi dalam rapat evaluasi. Hal ini ada kaitannya dengan tanggung jawab pada PB,” kata Kasubid Pelatnas, Christian Hadinata.
Christian mengaku, sebagai sektor yang paling banyak menyita dana organisasi, dirinya juga dihinggapi rasa rikuh jika dalam proses pengiriman atlet ke sebuah turnamen ternyata tak bisa membawa pulang gelar juara. Kalaupun akhirnya tak ada atlet yang dikirim ke Cina, hal ini juga bagian dari reward and punishment yang diterapkan PBSI.
“Waktu untuk persiapan ke Jepang jadi agak panjang. Pemain bisa lebih fokus. Lebih baik berangkat ke sedikit turnamen tapi bisa juara daripada main di banyak turnamen tapi gagal semua,” sebut Christian.
Hal ini sudah diantisipasi pelatih Sigit Pamungkas, yang menangani nomor ganda putra.
“Sekarang saya minta pemain untuk meningkatkan kualitas latihan. Nama mereka masih bisa dicoret hanya dua hari sebelum keberangkatan ke sebuah turnamen kalau dalam evaluasi saya ternyata mereka tak siap. Lebih baik membayar denda karena batal ikut serta daripada memberangkatkan pemain dalam kondisi tak siap tanding,” tutur Sigit.
Era Try
Terkait hasil sepanjang 2009 hingga Kejuaraan Dunia, Christian menyebut kesenjangan kualitas pemain pelapis menjadi faktor utama menurunnya prestasi bulu tangkis saat ini.
Kondisi ini sebelumnya pernah dialami di periode pertama kepemimpinan Ketua Umum PBSI Try Sutrisno tahun 1985-1989. Namun, di periode kedua, 1989-1993, sukses bisa dipetik. Salah satunya adalah dua medali emas di Olimpiade Barcelona 1992.
Dilihat dari materi pemain saat ini dan prestasi sekarang, nomor yang diharap bisa segera meneruskan tradisi juara adalah ganda putra dan campuran.
“Sekarang lebih berat karena materi pemain tak seperti dulu. Harus diakui, ujung-ujungnya soal dana,” ucap Christian.
Terbatasnya dana PBSI membuat pelatda di daerah jadi mati suri. Akibatnya bibit pemain pun jadi terbatas.
Di sisa turnamen tahun ini, pemain pelapis diharapkan bisa menunjukkan kemampuan mereka untuk segera menggantikan para senior. “Tahun depan, baru mungkin kita bisa petik hasilnya pada pertengahan tahun. Kita berharap pemain pelapis tak lagi selalu berlindung di balik prestasi seniornya. Mereka harus punya motivasi, kemauan, dan target. Mereka harus sadar kini tanggung jawab ada di tangan mereka,” kata Christian. (Erwin Fi







