Selamat Jalan Pak Tahir Djide
Posted by valsus on September 4, 2009
Oleh Robert Adhi Ksp (http://adhikusumaputra.kompasiana.com)
JUMAT pagi ini saya menerima pesan singkat yang mengabarkan bahwa Pak Tahir Djide telah dipanggil Yang Maha Kuasa pada hari Jumat 4 September 2009 pukul 03.15 dinihari. Innalillahi Wa Inna Ilahi Rojiun.
Pengirim pesan adalah Lita, putri pertama Pak Tahir. Saya langsung menelepon balik Lita. Putrinya mengungkapkan ayahnya menderita kanker hati. Dokter di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung baru menyatakan Tahir Djide menderita kanker hati sejak awal Agustus lalu. Gejalanya sudah terasa sejak tahun 1993 silam.
Sejak masih duduk di bangku sekolah, saya sudah mengenal nama Tahir Djide. Beliau adalah salah satu legenda pelatih pebulutangkis Indonesia, yang melahirkan banyak bintang, salah satunya Liem Swie King.
Liem Swie King, salah satu legenda bulutangkis Indonesia pernah mengungkapkan bahwa dia lebih mengenal Tahir Djide dibandingkan ayahnya sendiri. Selama 15 tahun di Pelatnas, King sering bertemu dengan Tahir Djide.
Sederhana
“Saya masih shock mendengar kepergian Pak Tahir. Beliau sudah saya anggap sebagai orangtua sendiri. Pak Tahir lebih mengenal saya dibandingkan ayah saya. Pak Tahir adalah bagian dari kehidupan saya. Dia yang membentuk saya menjadi juara. Kalau prestasi saya bagus, Pak Tahir sangat bangga,” cerita King kepada saya, Jumat pagi.
Dalam kaitan penulisan buku Liem Swie King “Panggil Aku King” pada akhir Februari 2009 lalu, saya memang mengunjungi rumah Tahir Djide di Jalan Bekamin, Bandung.
Ketika taksi yang membawa saya agak nyasar, saya menelepon Pak Tahir di rumahnya. “Kalau Anda menemukan Daihatsu hijet warna putih yang bertuliskan Klub BM 77, di situlah rumah saya,” kata Pak Tahir saat itu. Dan benar, Daihatsu Hijet tua diparkir di depan rumahnya.
Begitu saya bertandang ke rumahnya, saya mendapat kesan betapa sederhananya pelatih kondang ini. Di ruang tamunya, Pak Tahir memajang kenang-kenangan dari Tjuntjun. “Hiasan berbahasa Arab ini diberikan Tjuntjun untuk saya,” ungkap Pak Tahir waktu itu.
Pak Tahir juga bercerita sedang menulis buku biografinya. Seorang teman profesornya dari Universitas Pendidikan Indonesia (dulu IKIP) Bandung membantu menuliskan biografinya. Lalu Pak Tahir memperlihatkan meja kerjanya yang penuh dengan buku dan kertas. “Buku ini sudah selesai 70 persen,” kata Pak Tahir saat itu. Saya menganggukkan kepala.
Saat itu saya baru akan memulai menulis buku “Panggil Aku King”, kisah perjalanan hidup Liem Swie King. Saya memang harus ke rumah Pak Tahir karena King selalu menyebut-nyebut nama Tahir Djide sehingga sebagai penulis buku King, saya harus mengkonfirmasi banyak hal tentang King kepada Pak Tahir Djide.
King menghormati dan menghargai Tahir Djide sebagai pelatih. Selama 15 tahun diPelatnas, Tahir Djide betul-betul membentuk pribadi Liem Swie King, terutama fisik dan semangat.
“Pak Tahir memberi andil besar, membentuk saya sebagai juara. Sifat tak mau kalah yang ada pada diri saya, ditanamkan oleh beliau, selain memang saya memiliki sifat itu. Pak Tahir menanamkan kedisiplinanb, komitmen dan tanggung jawab. Kalau sudah menyatakan ‘ya’, artinya harus dilaksanakan,” cerita King.
Menurut King, saat berlatih bulutangkis, jika ada Pak Tahir Djide di lapangan, King bersemangat. “Pak Tahir memberi contoh. Datang pagi-pagi dan mempersiapkan alat-alat. Beliau marah jika kami tidak bersemangat. Pak Tahir potret pelatih yang baik. Saya tidak mungkin melupakan Pak Tahir yang sudah berjasa begitu besar kepada pebulutangkis era 1970-1980-an,” cerita King.
Saya bertemu Pak Tahir Djide kembali pada awal Juni 2009 di Studio Metro TV. Saat itu akan ada rekaman acara Zona 80. Pak Tahir bertanya kepada saya, mengapa buku King begitu cepat selesai. “Rasanya baru kemarin Anda datang ke rumah saya di Bandung, kok sekarang sudah akan terbit,” demikian Pak Tahir bertanya pada saya. Lalu Pak Tahir agak menyesal mengatakan bahwa buku biografinya belum juga selesai.
Ketika akan digelar rekaman acara Kick Andy pada bulan Juni, saya bertemu lagi dengan Pak Tahir Djide. Beliau termasuk orang yang kuat. Usianya sudah 70 tahun. Dan pada tahun 2009, Pak Tahir sudah pensiun mengajar di UPI Bandung. Beliau adalah guru besar bidang keolahragaan di UPI.
Pertemuan saya terakhir dengan Pak Tahir Djide saat peluncuran buku “Panggil Aku King” di BII Plaza, Jalan MH Thamrin, Jakarta, 19 Juni 2009. Beliau termasuk salah satu yang membahas buku “Panggil Aku King”.
Saya mengobrol cukup lama dengan Pak Tahir. Bahkan setelah acara selesai pun, saya masih ngobrol santai dengan Pak Tahir di lobi bawah gedung BII Plaza. Beliau ditemani saudaranya, menunggu waktu “3 in 1” di Jalan Thamrin selesai. Itulah pertemuan terakhir dengan Pak Tahir Djide.
Beliau seorang yang enerjik dan penuh semangat. Dalam usianya yang sudah 70 tahun, Pak Tahir tidak pernah kelihatan patah semangat. Dan beliau seorang yang sederhana. Saya tak percaya beliau masih menggunakan Daihatsu hijet untuk datang ke klub bulutangkis BM 77, melatih anak-anak Bandung.
Tahir Djide adalah seorang yang besar. Sebagai pelatih fisik di pelatnas bulutangkis, Tahir Djide sudah melahirkan banyak bintang bulutangkis yang mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia. Sangat layak jika beliau mendapat tempat di Taman Makam Pahlawan Cikutra Bandung. Selamat jalan, Pak Tahir Djide….
Serpong, 4 September 2009







