SEJAHTERA BADMINTON CLUB

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

Atik Jauhari, Mantan Pelatih Indonesia yang Kini Tangani India : Lelah Berpetualang Terus

Posted by valsus on September 6, 2009

Beberapa tahun terakhir, bulu tangkis India maju pesat. Puncaknya, Saina Nehwal sanggup menjadi juara Indonesia Super Series 2009. Faktor Atik Jauhari tidak bisa dianggap sebelah mata.

INDIA menorehkan sejarah dalam Indonesia Terbuka 2009. Gelar tunggal wanita jatuh ke tangan pebulu tangkis negara yang beribu kota di New Delhi tersebut, Saina Nehwal. Pebulu tangkis peringkat ketujuh dunia itu mampu menundukkan Wang Lin asal Tiongkok. Sayang, di Kejuaraan Dunia 2009 di negeri sendiri, India gagal mendapatkan gelar.

Kendati begitu, harus diakui bahwa India kembali menjadi kekuatan bulu tangkis dunia. Sebelumnya, negeri tersebut pernah diperhitungkan di era 1980-an lewat Prakash Padukone dan awal 1990-an melalui Pullela Gopichand.

Bulu tangkis India maju salah satunya berkat jasa Atik Jauhari. Mantan pelatih Pelatnas Cipayung itu adalah pelatih kepala di pelatnas India. Sejak 19 Agustus 2008, pria kelahiran Bandung, 14 Agustus 1949 itu membesut para pebulu tangkis terbaik di India. Pelatnas di India dilakukan di dua tempat, Bangalore dan Hyderabad.

Atik mengepalai pelatnas di Hyderabad di Pullela Gopichand Badminton Academy. Di Bangalore, pelatnas dilangsungkan di Prakash Padukone Badminton Academy. Dua akademi itu milik dua legenda bulu tangkis India, Pullela Gopichand dan Prakash Padukone, yang menyumbangkan gelar juara All England bagi negaranya.

“Di sini, saya menangani semuanya. Mulai membuat program sampai mengawasi kemanjuan anak-anak satu per satu,” jelas Atik saat ditemui di tempat tinggalnya, Ridge Hills Apartment, Hyderabad.

Namun, Atik tidak sendiri. Di sana dia memiliki asisten dari Indonesia, Hadi Idris. Hadi bertugas menjadi multifeeder bagi para pebulu tangkis India.

Atik menyatakan, kontraknya habis pada Desember tahun depan, usai dihelatnya Commonwealth Game 2010 (Pesta Olahraga Persemakmuran). Kebetulan, multieven antarnegara persemakmuran Inggris itu dilangsungkan di India.

“Sebelum kontrak saya habis, saya menargetkan mengantarkan Saina masuk jajaran lima besar. Tahun lalu, Saina berada di urutan ke-15, sekarang sudah keenam. Artinya, tugas saya tinggal sedikit,” urainya. Setelah kontraknya dengan BAI (Asosiasi Bulu Tangkis India) habis, Atik mengatakan tidak akan memperpanjangnya, meski sudah ada omongan-omongan kontraknya. “Saya sudah lelah terus bertualang ke luar negeri. Saya ingin menghabiskan masa tua di kampung halaman,” tuturnya.

Sebelum melatih India, selama dua tahun (2006-2008) suami Neng Titi itu menjadi pelatih di Thailand dan memoles Ponsana bersaudara (Boonsak dan Salakjit). Sebelum itu, Atik memoles para pemain Pelatnas Cipayung pada 2004-2006.

Di Pelatnas Cipayung, tugasnya melatih para pemain ganda wanita. Di antaranya, Gresyia Polii/Jo Novita. Sebelum kembali ke pelatnas, Atik melatih para pemain Swedia. Dia berada di Swedia pada 1999-2003.

Awal karir Atik sebagai pelatih memang diawali di Pelatnas Cipayung pada 1974-1999. Lalu, apa yang membuat Atik akhirnya melatih di luar negeri? Atik tak menampik bahwa alasan utamanya melanglang ke luar negeri adalah penghasilan. “Saya butuh banyak uang untuk membiayai anak-anak saya. Terus-terang, di luar negeri hasilnya lebih baik. Tapi, kapan pun PBSI membutuhkan bantuan, saya pasti bersedia. Itu adalah komitmen saya sebagai insan bulu tangkis Indonesia,” jawab ayah empat anak tersebut.

Dia mengatakan, negara yang membuatnya terkesan saat menjadi pelatih adalah Swedia. Tak heran, dia bertahan di sana sampai empat tahun. Anak terakhirnya, Yanuar Anas, bahkan tinggal dan berkuliah di Negeri Skandinavia tersebut.

Menurut Atik, federasi bulu tangkis Swedia cukup puas dengan kinerjanya. Sampai-sampai mereka menawari Atik dan keluarganya untuk menjadi warga negara di sana. “Saya tidak menerima tawaran itu. Sebab, bagaimanapun saya masih cinta Indonesia,” ujarnya.

Atik sebenarnya tidak menyangka akan menjadi pelatih keliling. Karirnya sebagai pelatih bisa dibilang bermula dari kecelakaan. Pada akhir 1960-an sampai awal 1970-an, Atik adalah pebulu tangkis nasional. Terakhir, dia berpasangan dengan Christian Hadinata pada 1971. Saat itulah musibah tersebut terjadi.

“Waktu latihan, smes Christian tidak sengaja mengenai mata saya. Akibatnya, mata saya tidak begitu awas lagi. Pada 1974, saya coba main lagi, tapi tidak bisa maksimal. Akhirnya, saya belajar melatih,” lanjutnya.

Dia mengatakan, selama melatih di pelatnas, anak didiknya yang paling membuatnya terkesan adalah ganda Ricky Subagja/Rexy Mainaky dan Chandra Wijaya/Tony Gunawan. Menurut Atik, dua pasangan itu merupakan ganda pria terbaik Indonesia sepanjang masa. “Mereka sangat berbakat. Tapi, mereka juga giat berlatih. Itu membuat mereka semakin baik,” tegasnya. (m. dinarsa kurniawan/diq)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,801 other followers