SEJAHTERA BADMINTON CLUB

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

Semangat Baru Sony Dwi Kuncoro setelah Menjadi Seorang Suami

Posted by valsus on September 7, 2009

Harus Berprestasi agar Dapur Tetap Ngebul

Banyak perubahan status dari seorang lajang menjadi suami berefek negatif pada prestasi seorang atlet. Kekhawatiran tersebut coba dipupus oleh Sony Dwi Kuncoro, tunggal pria terbaik pelatnas PB PBSI.

Miftakhul Faham Syah, Jakarta

Suasana latihan pelatnas PB PBSI di Cipayung Rabu lalu (2/9) sedikit lain daripada biasanya. Di pinggir salah satu lapangan, ada seorang wanita cantik dengan setelan baju hitam. Dia tampak antusias menyaksikan latihan Sony Dwi Kuncoro.

Wanita dengan rambut lurus itu tidak hanya menonton. Sesekali dia juga membantu Sony, sang tunggal pria nomor satu pelatnas. Seperti mengikatkan rompi pemberat di tubuh Sony. Dia adalah Gading Safitri, wanita yang baru dinikahi Sony pada 24 Juli lalu. “Daripada sendiri di rumah, dia sengaja ikut menemani saya latihan. Kehadirannya begitu berarti buat saya,” kata Sony kepada Jawa Pos.

Kehadiran yang dimaksud Sony bukan semata-mata menemani saat latihan, namun secara keseluruhan dalam kehidupannya. Dengan alasan itu pula, Sony memboyong Gading ke Jakarta. Mereka menempati rumah yang terletak di dekat markas pelatnas di Cipayung.

Menjadi seorang suami, Sony merasakan sesuatu yang baru. Bukannya mengurangi fokusnya dalam berkarir di dunia bulu tangkis, hal itu malah membuatnya termotivasi. “Semangat untuk mengejar prestasi kini bertambah membubung. Sebab, kalau saya tidak berprestasi, istri saya mau saya kasih makan apa,” tutur Sony.

Memang, sebagai seorang atlet, tebal tipis kantong akan sangat tergantung pada prestasi yang diraih. Untuk menjaga dapur tetap mengebul, Sony harus meraih prestasi sebaik-baiknya saat ini. Sebab, profesi sebagai atlet tidak bisa dilakoni selamanya. Ketika usia sudah melewati angka 30 tahun, prestasi seorang atlet biasanya akan menurun. Mumpung masih kuat, dia harus pintar menabung untuk persiapan hari tua.

Sony pun sudah memberikan sedikit bukti akan hal itu. Pebulu tangkis peringkat keenam BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) tersebut kini semakin giat berlatih. Sony tidak hanya melahap menu latihan yang diberikan di pelatnas. Saat libur Sabtu sore dan Minggu, dia juga berlatih sendiri.

Hasil kerja keras Sony itu sudah terlihat pada Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2009 di India beberapa waktu lalu. Sempat diragukan dan bahkan terancam tidak diberangkatkan, Sony justru mampu menembus semifinal. Hebatnya, dia mengalahkan unggulan pertama Lee Chong Wei pada babak perempat final. Kans juara Sony pupus setelah dikalahkan Lin Dan 14-21, 13-21, 15-21. Lin Dan akhirnya menjadi juara.

“Motivasi ini merupakan bentuk tanggung jawab saya kepada istri dan keluarganya. Masak sudah berani menikahi, tidak mau bertanggung jawab untuk menafkahi. Karena itu, dengan status suami ini, saya ingin semakin berprestasi,” tegas Sony.

Putra pasangan Mochammad Sumadji dan Asmiati tersebut yakin bisa semakin berprestasi. Sebab, usianya masih terbilang muda. Sony saat ini baru berusia 25 tahun. Sebuah angka yang menunjukkan usia emas seorang atlet.

Sony bertekad untuk eksis di papan atas persaingan bulu tangkis dunia hingga lima tahun lagi. “Saya pasti akan menjaga kedisiplinan. Sebab, ini profesi saya. Apalagi, kini saya memiliki tanggung jawab menjadi suami yang baik buat istri saya,” tandas peraih medali perunggu Olimpiade 2004 tersebut. (ang)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,801 other followers