Harus Berani Banting Setir ke Pembinaan
Posted by valsus on September 9, 2009
BULU tangkis adalah kebanggaan terbesar yang tersisa dari olahraga Indonesia di level internasional. Sayang, prestasi olahraga tepok bulu pun saat ini dalam kondisi yang mengkhawatirkan.
Sejak awal tahun lalu hanya satu gelar super series yang direbut pebulu tangkis Indonesia. Bahkan di Indonesia Open pun, tidak ada satu pun gelar yang direbut wakil Merah Putih.
Lambatnya regenerasi adalah salah satu penyebab terpuruknya bulu tangkis Indonesia. Jika tidak segera dicarikan solusi, bukan tidak mungkin tradisi emas Olimpiade akan terputus.
PB PBSI selaku pihak yang paling bertanggung jawab dalam pembinaan bulu tangkis tanah air sebenarnya sudah melakukan gebrakan. Sejak Mei lalu mereka mengirimkan pemain muda untuk digembleng di Akademi Militer di Magelang. Mereka tidak hanya ditempa skill bermain bulu tangkis. Namun, juga disiplin dan kecintaan terhadap tanah air.
“Kami akan terus memberikan kesempatan kepada para pebulu tangkis junior untuk tampil di even internasional,” kata Kabid Binpres PB PBSI Lius Pongoh.
Selain PB PBSI, klub adalah pihak lain yang berperan penting dalam menjaga kebesaran bulu tangkis tanah air. Dari sekian banyak perkumpulan bulu tangkis, PB Djarum Kudus adalah salah satu yang paling konsisten dalam melakukan pembinaan.
PB Djarum yang resmi berdiri tahun 1969 ikut mendorong lajunya pertumbuhan bulutangkis di Indonesia. Nama-nama besar yang dilahirkan klub itu diantaranya adalah Lim Swie King, Kartono, Christian Hadinata, Hastomo Arbi, Hadiyanto, Heryanto, Hadibowo, Ivana Lie, Kho Mei Hwa, Ho Djay Ging, Hariyanto Arbi, Rudy Gunawan, Denny Kantono, Antonius Budi Ariantho, Sigit Budiarto, Minarti Timur dan Zelin Resiana. Yang masih aktif adalah Maria Kristin Yulianti yang pada Olimpiade Beijing 2008 lalu merebut perunggu. (fim/vem/ado/ang)







