SEJAHTERA BADMINTON CLUB

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

Rapor Merah Sektor Tunggal Dalam Sepuluh Even Super Series

Posted by valsus on November 3, 2009

TunggalJAKARTA – Ajang kompetisi bulu tangkis Super Series 2009 tinggal menyisakan dua turnamen lagi. Dua super series Eropa di Prancis dan Denmark yang berakhir pekan lalu menandai terlaksananya sepuluh turnamen perorangan paling bergengsi tersebut. Dua yang tersisa adalah Hongkong Terbuka dan Tiongkok Terbuka.

Dari sepuluh seri yang telah berlangsung itu, Christian Hadinata, Kasubid Pelatnas PB PBSI, menilai prestasi pemain Cipayung kurang memuaskan. Di antara 50 gelar yang diperebutkan, pemain pelatnas hanya mendapatkan lima. Terlepas dari banyaknya pemain yang dibekap cedera bergantian, catatan tersebut tentu kurang untuk Indonesia yang dikenal sebagai salah satu kiblat bulu tangkis dunia. Lima gelar super series Indonesia disumbangkan oleh Markis Kido/Hendra Setiawan di Jepang dan Prancis, Nova Widianto/Liliyana Natsir di Malaysia dan Prancis, serta Simon Santoso di Denmark.

Bandingkan dengan Tiongkok, sejauh ini mereka telah mengoleksi 24 gelar. Disusul Malaysia dan Denmark yang masing-masing mengantongi enam gelar.

“Meski sudah berumur, Nova masih bisa mempertahankan kualitasnya. Hasil mereka bisa menjadi salah satu parameter bahwa pelatnas utama menunjukkan peningkatan di semester kedua tahun ini,” terang Christian.

Untuk sektor lain, tanpa menutup-nutupi, Christian tak segan menyentil prestasi sektor tunggal. “Pemain-pemain tunggal masih labil. Kadang bermain bagus, kadang buruk,” ujarnya.

Dia mencontohkan penampilan Simon yang bisa menjadi jawara di Denmark, tapi terhenti pada putaran kedua Prancis Terbuka. Dia dikalahkan wakil Denmark Joachim Persson. Seharusnya, menurut Christian, panjangnya pengalaman yang dimiliki Simon di super series dan berlatih bersama pemain terbaik di Cipayung bisa membuatnya melaju lebih jauh.

Christian juga menggarisbawahi prestasi tunggal pria terbaik pelatnas Sony Dwi Kuncoro. Sepanjang kompetisi reguler 2009, tak ada satu pun gelar juara bergengsi yang dituai arek Suroboyo itu. “Di Eropa, Sony bahkan tampil lebih buruk daripada di Jepang,” tutur Christian.

Hasil yang kurang memuaskan dan akan menjadi evaluasi besar juga berada di sektor tunggal wanita. Penampilan Adriyanti Firdasari yang menjadi satu-satunya wakil Merah Putih tak juga membaik. Memang, pemain yang besar di PB Jaya Raya Jakarta itu sukses melibas pemain unggulan untuk bisa mencapai babak selanjutnya. Hanya, dia gagal menunjukkan permainan yang stabil sehingga tak sempat merasakan atmosfer final.

Pria asal Purwokerto itu akan meminta kepada setiap pelatih untuk lebih selektif memilih turnamen yang bakal diikuti anak didiknya pada masa yang akan datang. “Tentu bukan berarti pemain bisa memilih untuk tak bertanding. Tapi, datanglah untuk menang,” ujar pria yang bakal berulang tahun ke-60 pada 11 Desember itu.

Menurut dia, para pemain dan pelatih sudah harus bisa mengetahui peak performa sebelum terbang ke negara lain. Apalagi, dua super series selalu diadakan berurutan. (vem/ang)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,801 other followers