(PROFIL) – RAHMAD ALI ASSIDIQI INGIN JADI JUARA DUNIA
Posted by valsus on November 9, 2009
Jakarta, 8/11 (Antara/FINROLL News) – Lugu dan masih polos, itulah yang terkesan dari sosok Rahmad Ali Assidiqi, pebulutangkis muda yang suatu saat bisa diharapkan tampil sebagai pengganti Sony Dwi Kuncoro dan kawan-kawan.
Sosok siswa SDN Ngelorog 3 Sragen Jawa Tengah ini termasuk diantara kelompok pelajar Sekolah Dasar yang turut mengharumkan nama bangsa dan negara di kawasan Asia Tenggara setelah menjuarai bulutangkis ASEAN Primary School Sport Olympiade (APSSO) III/2009 yang berakhir di Jakarta, Minggu.
Rahmad Ali Assidiqi yang kelahiran Sragen 17 Januari 1997 mempersembahkan medali emas di tunggal putra setelah mengalahkan pebulutangkis Malaysia Cheam June Wei di final dengan rubber set 16-21, 21-18, 23-21.
Namun sayang akibat kelelahan anak pasangan Sulardi dan Sumini ini gagal menyabet gelar di ganda saat berpasangan dengan Muhammad Ansyari yang merupakan siswa SDN II Ciledug I Bandung ini kalah dari Cheam June Wei/Sateishtharan juga dengan rubber set 19-21, 22-20, 19-21.
Usai pertandingan anak bungsu dari tiga bersaudara ini memang mengekspresikan kelelahannya disamping mengakui agak tegang.
“Saya lelah dan agak tegang dalam pertandingan final ganda. Mungkin kelelahan ini karena kami harus memainkan babak semifinal dan final tunggal dan ganda hanya dalam satu hari pada pagi dan sore,” ungkap Rahmad yang akrab disapa Diki.
Menekuni bulutangkis Diki selama ini aktif di klub Mekar Jaya di Sragen. Menurut ayahnya, Diki pada hari-hari sekolah selalu berlatih pada pukul 04.30 hingga pukul 06.00, kemudian berangkat ke sekolah dan sepulang dari sekolah pukul 14.00 kembali ke lapangan untuk berlatih hingga pukul 18.00.
Di kancah kompetisi daerah Diki pernah meraih gelar juara kedua JPGG Satelit di Surabaya, juara pertama Sragen Open dan juara pertama kelompok umur se Jawa Tengah.
“Utamanya setelah dia terpilih sebagai anggota kontingen APSSO, jadwal latihannya seperti itu yang diterapkan oleh pelatihnya Supangat,” ungkap Sulardi yang tinggal di Mojowetan RT004/03 Sragen, Jawa Tengah.
Sejak menekuni bulutangkis sejak usia kelas 2 SD (usia 8 tahun), berkat bakatnya yang menonjol Diki pernah mengalami hal istimewa yakni ketika ia diminta untuk berlatih di Singapura oleh seorang pelatih yang berasal dari negeri jiran tersebut pada tahun 2007. Namun pihak keluarga tak mengetahui persis apakah Diki hanya sekedar berlatih atau bakal dijadikan warga naturalisasi Singapura atau tidak.
Namun karena Diki anak bungsu dari dua kakaknya yang wanita Rahmatin dan Rahmawati, Diki berat untuk dilepas.
“Dia manja sih tidak, tapi segala sesuatu kebutuhannya dia harus disediakan oleh orang lain. Kami sangat khawatir kalau dia jauh dari keluarga,” ungkap Rahmatin.
Mengenai cita-cita Diki yang pengagum sosok atlet Sony Dwi Kuncoro dan Bambang Pamungkas ini mengaku ingin menjadi atlet sejati dan tampil sebagai juara dunia.
“Saya ingin jadi atlet sejati dan ingin menjadi juara dunia,” ujar Diki yang bertinggi badan 168 dan berat 45 kilogram ini.







