Kebanggaan dari Luar Cipayung ; Pemain Mandiri Beri Warna Bulu Tangkis Tanah Air
Posted by valsus on November 17, 2009
SURABAYA – Bulu tangkis nasional sempat gempar awal tahun lalu. Penyebabnya, terjadi eksodus atlet dari Cipayung, markas pelatnas PB PBSI. Tak main-main, yang mundur adalah pemain-pemain andalan.
Diawali tunggal pria terbaik Taufik Hidayat. Kemudian, disusul pemain ganda wanita dan ganda campuran Vita Marissa. Plus pemain ganda pria Alvent Yulianto dan Hendra Aprida Gunawan. Banyak alasan yang mengakibatkan mereka akhirnya memilih berada di luar pelatnas.
”Saya sudah merencanakan ini sejak lama. Tidak dipanggilnya Mulyo Handoyo (pelatih Taufik) bukan alasan utama. Saya harap, ini bisa membuat regenerasi di pelatnas lebih baik,” ucap Taufik kepada Jawa Pos ketika mundur dari pelatnas Januari lalu. Alasan lain mundurnya mereka dari pelatnas adalah ketidakcocokan dengan nilai kontrak yang ditawarkan PBSI.
Sejak saat itulah, Indonesia menjadi lebih akrab dengan mereka yang disebut pemain mandiri. Kendati mereka sudah tak lagi didanai negara, eksistensinya tetap terjaga. Bahkan di konfigurasi peringkat BWF, mereka masih menduduki papan atas (lihat grafis).
Yacob Rusdianto, sekretaris jenderal PBSI, menyatakan bahwa walau sudah menjadi atlet mandiri, mereka bisa menjaga kondisi dengan baik sehingga pencapaiannya tidak merosot. ”Mereka membuktikan kualitasnya. Tanpa sokongan dari PBSI, mereka masih bisa berprestasi bagus,” paparnya.
Terbaru, sejumlah atlet bulu tangkis mandiri mampu mengungguli para pemain pelatnas di Hongkong Series. Ganda pria terbaik pelatnas Markis Kido/Hendra Setiawan takluk di tangan Alvent Yulianto/Hendra Aprida Gunawan pada fase perempat final. Hendra Aprida Gunawan/Vita Marissa berhasil mengungguli Fran Kurniawan/Pia Zebadiah di perempat final ganda campuran.
Memang, tak bisa disangkal, dukungan dari PBSI adalah hal yang membedakan mereka dengan atlet pelatnas. Ketika masih berstatus penghuni pelatnas, mereka tinggal berkonsentrasi untuk berlatih dan bermain baik di setiap turnamen.
Tapi, setelah melepaskan status itu, mereka harus siap direpotkan mengurusi kebutuhan lain. Misalnya, menyewa lapangan, membayar akomodasi, dan transportasi. Konsekuensi dari adanya kebutuhan itu, mereka harus menyiapkan dana sendiri.
“Memang beda. Tapi, lama-lama biasa juga mengurusi semua sendiri,” tutur Luluk Hadiyanto yang sekarang berpasangan dengan Joko Riyadi. “Kuncinya harus pintar-pintar memilih even. Kalau sekarang, saya hanya memilih turnamen-turnamen yang dekat dengan Indonesia saja untuk menekan bujet,” terang pemain yang lepas dari pelatnas pada akhir tahun lalu itu.
Hal lain yang dilakukan Luluk untuk meminimalkan pengeluaran adalah memesan akomodasi dan transportasi jauh-jauh hari sebelumnya. Luluk menambahkan, kendati sudah berstatus mandiri, dirinya masih sering dibantu PBSI. Terutama, masalah pendaftaran yang harus melalui federasi bulu tangkis nasional. Selain itu, dia mengatakan terkadang masih diberi kesempatan berlatih di Cipayung, (M. Dinarsa Kurniawan)







