SEJAHTERA BADMINTON CLUB

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

Hendra Setiawan, “Kesetiaan” kepada Markis Kido Membuatnya Meninggalkan Cipayung

Posted by valsus on December 25, 2009

Keluar dari Cipayung, markas pelatnas PB PBSI, dianggap banyak orang sebagai tindakan tidak nasionalis. Tapi, Hendra Setiawan melakukannya demi Indonesia agar bisa segera kembali merebut Piala Thomas.

Pembawaannya tidak berubah. Gaya bicara Hendra Setiawan tetap kalem dan tenang seperti biasa. Begitu pula ketika dia mengabarkan akan mundur dari Cipayung di pengujung tahun ini.

“Keputusan mundur itu saya pikir sudah menjadi keputusan terbaik bagi saya, juga Kido,” tutur Hendra dengan nada datar.

Sejak Agustus lalu, Hendra mempertimbangkan untuk meninggalkan pelatnas. Tepatnya, ketika Kido divonis mengidap hipertensi. Akibat penyakit itu, Kido/Hendra tidak dikirimkan ke kejuaraan dunia di India.

Kido paling sakit hati dengan keputusan tersebut. Sebab, berikutnya juga ada aturan tegas bahwa Kido harus bertanggung jawab atas keselamatannya di lapangan. Artinya, jika dalam satu pertandingan membela nama Indonesia Kido kolaps di tengah lapangan karena penyakit tersebut, itu akan menjadi tanggung jawab pribadi, bukan PB PBSI.

Hal tersebut membuat Kido kecewa dan mulai memikirkan untuk meninggalkan pelatnas. Hendra tidak mau ketinggalan. Setelah mempertimbangkan banyak hal selama empat bulan, mereka memutuskan meninggalkan Cipayung.

Bagi Kido sebagai pihak yang sakit hati, meninggalkan pelatnas mungkin tidak begitu merugikan. Tapi, Hendra yang sebenarnya tidak punya masalah untuk tetap di pelatnas harus meninggalkan banyak fasilitas dengan keputusan itu. Sebagai pemain pelatnas, dia tinggal berlatih dan bermain. Jadi pemain mandiri, ke depan dia harus mengurusi semua sendiri. Mulai membeli tiket untuk perjalanan mengikuti kejuaraan sampai menentukan jadwal latihan.

“Memang benar, Kido yang sebenarnya bermasalah dengan kondisinya. Tapi, saya sudah memikirkan dan memperhitungkan secara matang untuk mengikutinya. Keputusan tersebut memang sulit dan berat. Tapi, saya harus memilihnya,” ujar Hendra.

Mencari pasangan baru bagi Hendra ibarat memulai semuanya dari nol. Dia harus belajar memahami permainan, karakter, persepsi, dan banyak hal lagi tentang pasangan barunya. Jika apes, bisa-bisa prestasinya makin tenggelam meski tetap berada di pelatnas.

Kondisi tersebut membuat Hendra yang berpasangan dengan Kido sejak masih junior di Jaya Raya itu seolah menjadi pasangan sehidup semati. Mereka bercita-cita tetap berpasangan sampai pensiun. Sikap keras Kido dan kalem Hendra tidak membuat hubungan mereka renggang. Malah, itu saling melengkapi dan membuat mereka semakin kompak.

Kecocokan itulah yang membuat Hendra mantap meninggalkan Cipayung bersama Kido. Bukan untuk diri sendiri, melainkan Indonesia. Alasannya, dia belum sukses bersama pasangan baru di Cipayung. Performanya akan lebih terjaga bersam Kido. Dengan begitu, mereka tetap bisa diandalkan di Piala Thomas 2010 yang diselenggarakan Mei.

“Mas Sigit (Pamungkas, pelatih ganda pria, Red) menggaransi kami masuk timnas jika bisa menjaga performa. Pergi dari pelatnas, salah satunya, saya putuskan demi terus memberikan sumbangsih untuk Indonesia,” papar Hendra.

Lalu, ke mana mereka berlatih setelah berada di luar Cipayung? “Untuk sementara, kami akan berlatih di Jaya Raya, klub yang membesarkan kami. Tapi, ke depan, kami memilih jalan seperti yang lain, yang berada di luar pelatnas,” tegas Hendra. (fim/ang)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,801 other followers