SEJAHTERA BADMINTON CLUB

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

”Herbert, Publik telah Memaafkanmu”

Posted by valsus on January 18, 2010

Bulutangkis.com – Ketegangan hubungan bilateral antara Indonesia dan Malaysia karena kasus Ambalat, penganiayaan TKI, pencurian budaya dan masalah sosial-politik lainnya, rupanya ikut terbawa hingga lapangan olahraga.

Salah satu pemandangan yang menurut saya amat memprihatinkan terjadi ketika tunggal putra Malaysia, Wong Choong Han, menjamu Sonny Dwi Kuncoro di babak perdelapan final turnamen Indonesia Open Super Series 2009 yang berlangsung di Jakarta.

Sorak sorai mengelukan Sonny dan menghujat Choong Han sudah terdengar sejak kedua pemain memasuki lapangan hingga pertandingan berakhir. Usai pertandingan, seolah tak terpengaruh dengan segala cemohan itu, dengan sportif Choong Han mengucapkan terimakasih kepada para penonton. Ia melambaikan kedua tangannya. Namun, publik justru membalas lambaian tersebut dengan teriakan ”Huuuuuuuuu”. Choong Han hanya bisa tersenyum kecut.

”Kegalakan” publik Istora pada Indonesia Open Super Series 2009 lalu mengingatkan saya dengan Insiden Scheele yang terjadi 42 tahun sebelumnya.

Kala itu, saking gegap gempitanya publik Istora, wasit kehormatan Herbert E. Scheele mengambil keputusan untuk menghentikan pertandingan partai Final Thomas Cup 1967 antara Indonesia dan Malaysia. Scheele menilai perilaku warga Istora amat mengganggu konsentrasi pemain negeri jiran.

Tak pelak keputusan Scheele ini membuat penonton semakin tambah histeris. Emosi publik semakin tak terkendali. Suasana bertambah kacau. Padmo Sumasto, Ketua Panitia Penyelenggara sekaligus Ketua Umum PBSI pada saat itu, sampai merasa perlu untuk menghimbau penonton agar tenang kembali.

Akhirnya, setelah diadakan perundingan, disepakatilah bahwa pertandingan dihentikan dalam keadaan undecided (tidak ada yang menang dan yang kalah).

Selanjutnya IBF memutuskan agar pertandingan yang masih tersisa dilanjutkan di Selandia Baru dengan kedudukan 4-3 untuk Malaysia. Indonesia menolak opsi ini dan meminta agar pertandingan diulang dari awal. Walhasil, Merah Putih dinyatakan kalah dan piala Thomas terbang ke negeri tetangga.

*****

Sejarah memang mencatat piala Thomas tak kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Namun tak banyak yang tahu bahwa tetap ada ‘berkah dalam duka’ pada peristiwa tersebut.

Pada Piala Thomas 1967 inilah, untuk pertama kalinya, bapak diplomasi Bulutangkis Indonesia, Suharso Suhandinata berkenalan dengan Herbert E. Scheele. Suharsolah yang menyelamatkan Scheele dari amukan massa Istora. Ia membawa Scheele kembali ke Hotel Indonesia dengan selamat. Keesokan harinya, Suharso pula yang mengantar Scheele ke bandara Kemayoran.

Perkenalan ini lambat laun membuat keluarga Suharso bersahabat dengan keluarga Scheele. Ketika gula pasir amat langka dan cukup mahal di Inggris, Suharso mengoleh-olehi Scheele empat kilogram gula pasir dari Indonesia. ”Oleh-oleh itu berkesan sekali bagi kami” kenang Betty, istri Scheele.

Hubungan baik yang dibangun tersebut di kemudian hari amat berguna bagi perjuangan diplomasi Indonesia, khususnya pada saat Insiden Bangkok 1970 atau ketika memperjuangkan gelar All England ke delapan bagi Rudy Hartono. Maklum, kala itu Scheele adalah seorang aktivis dan petinggi di IBF.

Scheele akrab sekali dengan Indonesia. Ia menikmati cerahnya matahari di negara tropis ini.

Ketika ia kembali muncul pada perhelatan Piala Thomas 1973 di Jakarta, publik masih menyorakinya. Barulah pada Piala Thomas 1979, penonton tak lagi berteriak mengejeknya saat ia menampakan diri di Istora.

“Herbert, kata Betty yang duduk disebelahnya, di kursi wasit kehormatan, Publik tampaknya telah memaafkanmu.

*****

Scheele meninggal dunia pada 29 Maret 1981 di RS Kent, kawasan selatan kota London, akibat kanker paru-paru dan tulang punggung. Pada hari ia meninggal, Sun Ai Hwang (Korea) tengah bertanding melawan Lene Koppen (Denmark) untuk meperbutkan gelar juara tunggal putri All England.

Herbert dan Betty merupakan tim yang kompak dan memberikan banyak inspirasi bagi komunitas bulutangkis dunia. Betty, sang istri, baru saja meninggal April 2009 lalu dalam usia 95 tahun.

Selama 39 tahun, Herbert merupakan Honorary Secretary IBF yang telah banyak merumuskan kebijakan dalam peraturan bulutangkis dunia. Sementara Betty digelari ’Unpaid Secretary to Honorary Secretary’ karena selalu mendampingi Herbert kemanapun ia pergi.

Stehlan Mohlin, mantan presiden IBF, pernah berkata, “Without you, Betty, Hebert would never have been able to do all that he achieved for the sport”.

Setelah Herbert meninggal, Betty melanjutkan perjalanan keliling dunia seorang diri guna menghadiri berbagai pertandingan bulutangkis internasional.

*****

Contribute by: Melok R. Kinanthi (lok_kin187@yahoo.com)

Referensi : Buku ”Suharso Suhandinata : Diplomat Bulutangkis Indonesia”, 1997.

One Response to “”Herbert, Publik telah Memaafkanmu””

  1. AliceChin said

    Very nice post and kudo to this interesting comment, i also subscribed your RSS feeds for more updates.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,801 other followers