Eksis, Meski Tak Setenar Taufik Hidayat atau Lin Dan
Posted by valsus on January 20, 2010
Bulutangkis.com – Ada lima negara yang selama ini selalu mendominasi kejuaraan bulutangkis internasional, yaitu Indonesia, China, Korea Selatan, Malaysia, dan Denmark. Maka tak heran bila publik lebih mengenal atlet dari ‘The Big Five’ tersebut daripada negara lainnya.
Taufik Hidayat, Lin Dan, Lee Choong Wei, Xie Xinfang, Lee Young Dae, atau Peter Gade bak selebritis yang selalu menarik perhatian penggemar dimanapun mereka bertanding.
Johannes Waskita, wartawan bulutangkis harian Kompas menulis, ”Harus menjadi penggemar bulutangkis fanatik untuk mengenal nama-nama seperti Hadia Hosny (Mesir), Kevin Cordon (Guatemala), Raul Must (Estonia), Ola Fagbemi (Nigeria), atau pasangan ibu dan anak Svetlana/ Misha Zilberman (Israel).”
Kiranya pernyataan tersebut bukanlah sesuatu hal yang berlebihan. Nama-nama diatas memang datang dari negara dimana bulutangkis memang bukan olahraga populer. Meski hampir tak dikenal orang, namun dedikasi dan totalitas para atlet ini terhadap bulutangkis tak diragukan lagi.
Minimnya fasilitas dan berbagai tantangan lain yang dihadapi, membuat mereka sejauh ini hanya mampu berlaga di kejuaraan bertaraf International Challenge, International Series, atau Future Series. Dengan peringkat dunia yang rendah, rasanya nyaris mustahil mereka dapat lolos ke babak utama turnamen setingkat Grandprix Gold, atau bahkan Super Series.
Kebijakan BWF yang menjamin tempat bagi pemain dari tiap konfederasi untuk tampil di Kejuaraan Dunia memungkinkan mereka untuk menguji diri menghadapi pemain top dunia.
Berikut ini perkenalan dari beberapa atlet yang selama ini nyaris tak dikenal:
Kaveh Mehrabi (Iran, Asia Barat)
Ia adalah atlet bulutangkis nomer satu Iran dan orang pertama dari Asia Barat yang berhasil menembus kualifikasi Olimpiade (Beijing 2008). Pria kelahiran 1982 ini harus meninggalkan tanah kelahirannya di Teheran untuk menimba ilmu perbulutangkisan di International Badminton Academy, Denmark. Peringkat dunia tertinggi yang pernah dicapainya adalah 59.
Pada tahun 2000, Kaveh terbang ratusan kilometer dari Iran menuju Jepang untuk mengikuti kejuaraan Asian Junior. Keterlambatan pesawat dan lamanya penerbangan, membuat atlet yang kini menggandeng Babolat sebagai sponsor ini, tak punya cukup waktu untuk beristirahat dan langsung bertanding melawan pemain Singapura dalam kurun waktu kurang dari 12 jam kemudian. Akibatnya ia kalah telak.
Prestasi yang pernah dicapai Kaveh antara lain juara turnamen South Africa International (2007) dan runner up turnamen Puerto Rico International. Dalam Kejuaraan Dunia 2009, ia takluk di babak pertama oleh unggulan ke 10 asal Hong Kong, Chan Yan Kit, 21-15, 21-11. Kaveh memiliki situs pribadi, www.kavehmehrabi.net.
Ola Fagbemi (Nigeria, Afrika)
Berbekal modal juara Afrika di nomor tunggal putra, ganda putra, dan ganda campuran, Ola Fagbemi hanya mampu bertahan di babak kedua Kejuaraan Dunia 2009. Ia kandas 14-21, 11-21 dari pemain nomer satu dunia, Lee Choong Wei.
”Kami tak punya waktu untuk mencoba lapangan. Jika ada waktu mungkin Ola akan memberi perlawanan lebih baik,” kata Tundre Badru, pelatihnya. Maklum, Ola menempuh perjalanan panjang selama tiga hari dua malam dari Nigeria menuju Hyderabad karena pesawatnya tertunda. Belum cukup beristirahat, ia sudah langsung bertanding.
Peringkat 194 dunia ini mengungkapkan, salah satu hambatan yang membuat perkembangan bulutangkis di negaranya kurang cepat adalah rendahnya kualitas kompetisi. Hal itu disebabkan minimnya pemain bintang yang bisa dijadikan sparring partner. Dia baru bisa mendapatkan lawan tangguh dengan pergi sangat jauh, seperti ketika tampil di kejuaraan dunia ini. Selain itu, peralatan bermain, seperti raket dan shuttlecock, sulit didapat. Jika ada, harganya pun mahal.
Prestasi yang dicapai Ola sejauh ini adalah menjadi perempatfinalis turnamen Mauritius Internasional 2009 dan semifinalis turnamen Kenya Internasional 2009 untuk nomor tunggal putra.
Minimnya dana membuat Ola dan kawan-kawan tak bisa ikut turnamen internasional sesering mungkin. Seperti yang dilansir oleh situs setempat, tim bulutangkis Nigeria hampir saja tidak jadi berangkat ke kejuaraan bulutangkis beregu Afrika 2009 di Kenya karena masalah dana. Ketika akhirnya dana turun, mereka sudah terlambat tiba disana.
Kevin Cordon (Guatemala, Amerika Tengah)
Pemilik nama lengkap Kevin Haroldo Cordon Buezo ini dilahirkan pada 28 Nopember 1986. Tahun lalu, ia lolos kualifikasi untuk ikut bertanding di Olimpiade Beijing. Tidak hanya itu, ia juga dipercaya membawa bendera Guatemala pada even prestisius tersebut. Cordon, yang kala itu berperingkat 54 dunia, takluk di babak kedua oleh pemain idolanya, Bao Chun Lai. Uniknya, pertandingan ini disaksikan oleh bos microsoft, Bill Gates beserta istri.
Sepanjang tahun 2009 ini, Kevin baru mengikuti empat turnamen dengan prestasi tertinggi finalis Torneo Internasional sebelum akhirnya dikalahkan Ari Trisnanto dari Indonesia. Sebelum bertolak ke Hyderabad untuk mengikuti kejuaraan dunia, ia sempat mampir ke Jakarta untuk mengikuti turnamen Astec Open Indonesia International Challenge. Di Hyderabad, Kevin langsung digusur Marc Zwiebler di babak pertama.
Kevin, peraih medali perak Pan Am 2007 ini, mengisi waktu luangnya dengan membuat bolpoin berbahan kayu kapal. (Dari berbagai sumber).
Contribute by: Melok R. Kinanthi
Photo source: © www.kavehmehrabi.net







