Saiful Arisanto : Dari Liem Swie King, Sampai Maria Kristin
Posted by valsus on April 3, 2010
Insan bulutangkis tentu mengenal sosok yang bersahaja ini. Kendati usianya mulai memasuki usia yang ke 67, namun hal itu tak menyurutkan cintanya terhadap bulutangkis. Dia-lah Saiful Arisanto, sosok kelahiran Tegal, 30 Juli 1943. Bapak dari satu putra dan satu putri yang telah mengabdikan hampir seluruh hidupnya kepada bulutangkis. Cintanya kepada bulutangkis dimulai karena sang bunda yang hobby bermain bulutangkis. “Sering ikut-ikut latihan, akhirnya jadi suka bulutangkis, kalau habis hujan, harus ngepel dulu baru bisa latihan,” kenangnya.
Aris, begitu ia akrab disapa teman sejawatnya berlatih sendiri, kemudian bergabung dengan PB New Star, Semarang tahun 1967-1971. “Waktu itu, PB New Star ini paling kuat di Semarang, sekarang sudah tidak ada kayaknya.”. Kemudian Aris bergabung sebagai atlet PB Djarum pada tahun 1971 silam dan bertanding dibawah bendera PB Djarum hingga tahun 1975. “Setelah itu Saya menikah tahun 1976, dan akhirnya bekerja di R & D (Riset and Development – red) Djarum, jadi pagi hari dikantor, sore di PB,” kenangnya.
Tahun 1980, PB Djarum kehilangan ketuanya saat itu, Margono. Akhirnya Aris muda pun diminta untuk mengisi posisi tersebut. Sejak saat itulah Saiful Arisanto atau kenal juga dengan nama Yu Pang ini memimpin PB Djarum hingga tahun 2004. “Dulu (Lim) Swie King masih 14 tahun, saya sudah di Djarum,” kenangnya lagi. 32 tahun bersama Djarum, bukan waktu yang sebentar. Tak sedikit pula cerita dari Om Yu Pang ini.”Saya paling inget, Sigit (Budiarto). Dia bandel dulu, bahkan waktu meninggalkan Djarum untuk ke pelatnas, ia sempat meninggalkan hutang sama yang jualan di dekat asrama,” kelakarnya.
Om Yu Pang pun bercerita antusias tentang bagaimana dulu Liem Swie King berlatih. “Dulu sempat Swie King berlatih, lawan enam orang, dia hanya diijinkan untuk minum, dan semuanya bisa dia kalahkan,” ceritanya antusias. Pemain putri Maria Kristin pun mungkin saja tak kan pernah ada didunia bulutangkis, dan meraih perunggu Olimpiade, jika Om Yu Pang tidak ngotot untuk menarik Maria dari Pusdiklat Jember. “Sebelum audisi itu Maria sering kalah, hingga ia tak ada sponsor. Sempat pusdiklatnya tidak mau melepas Maria, tapi saya tetap ingin Maria untuk bergabung dengan PB Djarum. Dengan berbagai usaha, akhirnya Maria bergabung dengan PB Djarum,” paparnya.
Kecintaannya terhadap bulutangkis, tak usah diragukan. Dua kali terserang stroke tak membuatnya ingin berhenti. “Februari lalu, Bapak baru kena stroke, dan dirawat satu minggu di rumah sakit tapi bapak tetap menjadi Ketua Panitia kejuaraan ini (Djarum Arena Cirebon – red),” papar istrinya, Iing Setiawati. Tak ada yang bisa menghentikannya dari dunia bulutangkis. Ketika ditanya sampai kapan beliau akan berkecimpung di dunia bulutangkis, tak ragu beliau berucap “Sampai mati, selama saya masih bisa”. (IR/hk)







