KEPRIHATINAN MENJELANG THOMAS-UBER
Posted by valsus on April 19, 2010
Jakarta, 18/4 (Antara/FINROLL News) – Tersingkirnya beberapa pemain utama di babak awal Kejuaraan Asia kurang dari sebulan menjelang digelarnya putaran final Piala Thomas dan Uber menimbulkan keprihatinan.
Meski tidak bisa menjadi acuan bagaimana penampilan tim Indonesia di putaran final yang akan diselenggarakan di Kuala Lumpur, Malaysia, 9-16 Mei mendatang, hasil tersebut setidaknya menunjukkan bahwa penampilan pebulu tangkis utama Indonesia masih jauh dari stabil.
“Maria seharusnya sudah bisa menang atas Zhou Mi,” demikian komentar mantan pebulu tangkis nasional yang juga pernah melatih di Pelatnas, Ivana Lie.
Komentar bernada kecewa itu disampaikan Ivana manakala mengetahui pemain peraih medali perunggu Olimpiade Beijing 2008 itu kalah pada putaran pertama turnamen berhadiah 150.000 dolar AS itu, meski sudah unggul satu game dan 17-11 dari pebulu tangkis Hong Kong tersebut.
Ivana membenarkan bahwa Maria kerap tiba-tiba kehilangan konsentrasinya dan banyak melakukan kesalahan seperti yang diungkapkan asisten pelatih tunggal Pelatnas Thomas Indratjaja yang mendampingi Maria bertanding di New Delhi.
“Kalau sudah melakukan kesalahan biasanya keterusan jadi banyak sekali salahnya,” tambah Ivana yang pernah menangani Maria di Cipayung.
Dalam sisa waktu yang tidak sampai sebulan hingga diselenggarakannya putaran final Piala Uber, Ivana menyarankan agar kesalahan-kesalahan yang kerap dilakukan itu diperbaiki.
“Kalau kesalahannya terjadi saat ia melakukan dropshot, smes atau yang lainnya, perbanyak latihan pukulan itu untuk mengurangi kesalahan,” katanya.
Selain Maria, tunggal putri pelatnas lainnya, Linda Weni Fanetri juga tumbang pada putaran pertama turnamen yang sama.
Mengkhawatirkan
Langkah dua ganda putra Pelatnas yang terhenti pada putaran pertama Kejuaraan Asia, Kamis (15/4) juga membuat pemain spesialis ganda Candra Wijaya prihatin.
“Agak mengejutkan jika mereka langsung kalah pada putaran pertama Kejuaraan Asia,” kata Candra yang semula berharap ganda Indonesia bisa meraih kemenangan karena turnamen tersebut tidak diikuti delapan pasangan peringkat teratas dunia.
Dua ganda putra Indonesia, Mohammad Ahsan/Yonatan Suryatama dan Bona Septano/Rian Sukmawan, yang merupakan kombinasi baru dari pasangan yang sudah ada sebelumnya (Rian/Yonatan dan Bona/Ahsan), langsung tersisih pada putaran pertama.
Ahsan/Yonatan dikalahkan ganda Thailand Songphon Anugritayawon/Sudket Prapakamol dengan skor ketat 21-17, 21-123, 20-21, sedang Bona/Rian menyerah pada Mak Hee Chun/Tan Wee Kiong dari Malaysia dua game langsung 14-21, 18-21.
Melihat hasil tersebut, Candra yang terlibat dalam tiga kemenangan saat Indonesia membukukan rekor memenangi Piala Thomas lima kali berturut-turut, mengaku khawatir dengan persiapan tim menghadapi putaran final Piala Thomas.
“Sangat mengkhawatirkan. Mereka harus menggunakan sisa waktu ini untuk melakukan persiapan sebaik-baiknya,” kata juara Olimpiade Sydney 2000 itu.
Candra yang meninggalkan Pelatnas Cipayung usai memperkuat tim Indonesia pada putaran final Piala Thomas 2006 di Jepang itu bahkan menyarankan para pemain menambah porsi latihannya sendiri untuk menutup kekurangan mereka.
Hasil cukup baik diraih ganda putri saat pasangan Greysia Polii/Meiliana Jauhari dan Anneke Feinya Agustin/Annisa Wahyuni sukses mencapai perempatfinal, meskipun langkah mereka pun terhenti di babak delapan besar itu.
Bagi Anneke/Annisa yang merupakan ganda pelapis, pelatih ganda putri Aryono cukup puas dengan hasil yang mereka raih, namun untuk Greysia/Meiliana, ia mengatakan perlu dievaluasi.
Aryono berpendapat kemungkinan pasangan tersebut masih melakukan kesalahan yang sama seperti pada turnamen sebelumnya.
Menurut dia, duet baru hasil bongkat pasangan ganda sebelumnya itu “start”nya kerap lambat, dan masih ada kekurangan pada servis, cara mematikan lawan saat reli dan penguasaan diri.
Pernyataan itu senada dengan komentar asisten pelatih Paulus Firman yang mendampingi mereka bertanding.
“`Start` mainnya sering mati sendiri sehingga kurang tenang dan lawan percaya diri. Pola permainan sering berubah saat meraih poin, dan kurang tenang ketika poin-poin kritis,” kata Paulus mengenai penyebab kekalahan mereka.
Melihat fakta tersebut, Aryono mengatakan tetap akan menfokuskan perbaikan pada hal-hal tersebut. “Mudah-mudahan pada Piala Uber nanti bisa lebih baik,” harapnya.
Meskipun tidak menggambarkan penampilan di Piala Thomas dan Uber, hasil pada turnamen terakhir menjelang digelarnya kejuaraan dunia beregu putra dan putri itu menimbulkan keraguan akan kemampuan tim.
Namun, banyak yang mengatakan bahwa kejuaraan beregu dan perorangan tidak sama, sehingga tidak bisa menjadi acuan.
“Peluang tetap terbuka, kalau tidak ada peluang ngapain berangkat,” kata Candra.
Semoga hasil kurang menggembirakan itu menjadi pemacu untuk memperbaiki kekurangan dalam waktu yang tersisa, dan membuat kejutan seperti tim Uber Merah Putih dua tahun lalu, tidak diunggulkan tetapi lolos ke final. (T.F005)







