Masa Depan Pebulutangkis, dari Sirnas ke Profesional
Posted by valsus on April 30, 2010
SEJALAN dengan popularitas bulungtangkis di Indonesia, berbagai turnamen tepok bulu itu banyak digelar di tanah air. Walaupun berskala nasional, turnamen seperti Djarum Sirkuit Nasional Bulutangkis (Sirnas), Federasi Bulutangkis Dunia (BWF), menghitung poin para pemain yang turun dalam turnamen seperti ini.
Hal ini tentu mengatrol peringkat pemain yang sering juara. Tidak hanya itu, belakangan gengsi sirnas juga melambung, berkat hadiah yang tinggi. Minimal hadiah sebesar Rp 165 juta diperebutkan para pemain, setiap kali sirnas digelar.
Tahun ini terdapat sembilan turnamen sirnas diselenggarakan di berbagai kota di Indonesia. Penentuan tuan rumah sirnas pun bukan perkara gampang. Pasalnya, dikarenakan gengsi yang meningkat, berbagai daerah berebut menjadi penyelengara. Khusus untuk Jawa Tengah, Kota Tegal berkesempatan menggelar putaran keenam sirnas, pada 12-17 Juli mendatang
”Sedikit banyak bisa mengangkat nama pemain. Turnamen ini tentu dapat melahirkan bintang masa depan, meskipun tentu tidak akan banyak,” kata Nadya.
Sementara Maria Elfira Christina, pemain tunggal putri dari PB Djarum Kudus menyatakan, melalui sirnas dapat dilihat calon bintang bulutangkis masa depan.
”Saya gembira bisa menjuarai turnamen sirnas, apalagi yang saya kalahkan para pemain yang lebih sering juara dari saya. Saya ingin menjadi juara dunia pada masa mendatang. Saya harus belajar dari turnamen nasional dulu, sirnas tentu sangat banyak manfaatnya,” tutur juara tunggal putri Djarum Sirnas Pekanbaru, Ana Rovita, yang kini baru berusia 19 tahun.
Menepis Kesenjangan Menurut Sekjen PB PBSI Yacob Rusdiyanto, gelaran sirnas dapat menipiskan kesenjangan bulutangkis di Jawa dan di luar Jawa. alasannya, sirnas digelar di berbagai wilayah di Indonesia.
Dengan hadiah yang meningkat diharapakan para pebulutangkis dapat dapat menggantungkan hidupnya lewat sirnas, sehingga tidak mesti ke luar negeri.
Tidak hanya menarik perhatian pemain muda, juara ganda putra olimpiade Markis Kido/Hendra Setiawan, ikut turun di gelanggang dalam putaran sirnas di Pekanbaru beberapa waktu lalu.
Kehadirannya tentu membawa pengaruh positif, dan menjadi magnet di daerah karena mereka haus tontonan bulutangkis kelas dunia. Di sisi lain, kehadiran mereka menjadi tantangan pemain lain untuk dapat berjaya.
Mengalahkan pasangan seperti Markis/Hendra, tentu menjadi hal yang luar biasa, apalagi bila aksi mereka disiarkan televisi.
Dalam perkembangannya, pebulutangkis pun banyak terjun ke profesional, layaknya petenis. Jalan profesional sendiri dirintis, salah satu pemain ganda putra terbaik yang pernah dimiliki Indonesia, Candra Wijaya.
Setelah Candra, muncul banyak pemain profesional, seperti Taufik Hidayat, Hendra Aprida Gunawan, Alvent Yulianto, Luluk Hadiyanto, Joko Riyadi, dan Vita Marissa. Semuanya adalah mantan pemain pelatnas. Terakhir, sejak tahun ini, Markis Kido/Hendra Setiawan, juga banting setir menjadi pemain profesional.
Dengan mengantongi gelar juara dunia dan Olimpiade membuat nilai kontraknya sangat tinggi bagi Markis dan Hendra. Produsen alat-alat bulutangkis lokal Flypower berani membayar mahal keduanya. Rumor yang berkembang, nilai per tahunnya dikabarkan mencapai Rp 1 miliar untuk masing- masing pemain tersebut.
Kontrak dengan nilai tinggi juga didapat Taufik Hidayat. Pemain asal Bandung ini laku keras, karena tidak saja Yonex yang mendukungnya tetapi juga produsen non alat olahraga. Melihat kenyataan itu, bulutangkis, cabang olahraga yang sering mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional, ternyata bisa menjadi pegangan hidup.
Memang, tidak mudah menjadi pemain profesional. Mereka tentu harus membuktikan diri menjadi yang terbaik, baik di turnamen nasional maupun internasional, sponsor akan datang.







