SEJAHTERA BADMINTON CLUB

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

Colo dan Kaliyitno, Saksi Bisu Latihan Fisik Para Juara

Posted by valsus on May 15, 2010

Siapa yang tak kenal Liem Swie King? Atau Hastomo Arbi? Ya, mereka adalah pahlawan bulutangkis Indonesia, keduanya mengawali kiprah bulutangkisnya dari PB Djarum Kudus. Keduanya pun dikenal dengan prestasi gemilangnya hingga dunia Internasional. Liem Swie King tercatat sebanyak tiga kali berhasil menjuarai kejuaraan bulutangkis bergengsi All England, dan menjadi pahlawan Thomas Cup pada tahun 1976, 1979 dan 1984, sedangkan Hastomo Arbi menjadi salah satu pahlawan Thomas Cup pada tahun 1984. Tak mudah untuk menjadi juara, apalagi latihan yang harus mereka jalankan setiap hari.

Dalam bulutangkis sendiri, latihan dibagi menjadi dua. Pertama adalah latihan teknik untuk mendukung skill mereka di lapangan, dan yang kedua adalah latihan fisik yang dijalankan untuk meningkatkan stamina. Apalah arti teknik bagus, jika tak di dukung dengan stamina yang prima? Apalagi olah raga seperti bulutangkis. Olah raga ini dikenal sebagai olah raga yang memerlukan stamina prima di setiap pertandingan.

Setiap Perkumpulan Bulutangkis (PB) pasti memiliki metode masing-masing dalam menu latihan bagi anak didiknya setiap hari, tak terkecuali PB Djarum. Sejak di dirikan pada tahun 1969, PB Djarum memiliki satu tempat untuk bisa menggembleng stamina para calon juaranya, Colo.

Colo adalah nama daerah di kaki Gunung Muria. Dari daerah ini lah, para atlet PB Djarum berlari menuju ketinggian gunung tersebut, dimana pada bagian akhir rute latihan di ketinggian tersebut, terdapat sumber mata air jernih yang dapat langsung diminum yang menjadi bagian lokasi makam salah satu penyebar agama Islam di Pulau Jawa, Sunan Muria.

Para atlet PB Djarum punya kesempatan untuk bisa menjajal jalur dengan rute yang menikung dan menanjak, dan dilanjutkan dengan menaiki susunan tangga sepanjang satu kilometer, juga dengan kondisi yang menikung dan terus menanjak dengan sudut ketinggian hampir mencapai 45 derajat, membuat Colo menjadi medan sulit untuk lari.

“Colo itu, dulu sarapan paginya King,” ungkap Hastomo Arbi.

Namun tidak King saja yang berhasil menguasai latihan dengan baik di Colo. Selain King, Hastomo Arbi sendiri adalah atlet yang berhasil menaklukan Colo. Tak heran jika ada mitos bahwa atlet yang dapat menguasai latihan lari di Colo, maka akan memiliki prestasi dunia ! Ini terbukti diantaranya kepada dua pahlawan bulutangkis Indonesia tersebut. Dan hingga saat ini mitos ini masih dianggap ‘ada’.

Colo dan  Kaliyitno-Selain dari sisi mitos, latihan Colo pun memang di anggap berat dan bermanfaat di mata para pelatih. Lari di Colo pun tak hanya sekedar untuk meningkatkan stamina. Berlari dengan track yang terus menanjak dapat menambah ketahanan kaki, pinggang dan ketahanan mental. “Selain untuk stamina, dan melatih explosive (loncatan-red) kaki para atlet, juga melatih ketahanan mental karena mereka melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana rute latihan yang dihadapi. Menilik King, dan Hastomo Arbi ketika bertanding, tidak aneh jika mereka berhasil meraih prestasi dunia” papar ketua PB Djarum, Yoppy Rosimin.

Selain latihan di Colo, mulai tahun 1990an atlet PB Djarum juga berlatih di salah satu desa lainnya yang masih berlokasi di kaki Gunung Muria. Kaliyitno, begitulah nama dusun yang kini jalanannya digunakan untuk latihan. Kaliyitno juga memiliki tanjakan terjal, dan kombinasi tikungan. Kesulitannya hampir sama dengan Colo, tanjakan yang cukup terjal, menjadi menu latihan lari para pebulutangkis muda PB Djarum kini.

“Kaliyitno banyak sekali tanjakannya, waktu itu saya setiap lari disana pasti diselingi berjalan. Biasanya saya ditempat lain bisa terus menerus berlari tapi kalo disana (Kaliyitno – red), susah. Ada satu hal lagi yang menyenangkan, pemandangannya sangat indah,” tutur Juara All England tahun 1993 dan 1994, Hariyanto Arbi. Haryanto Arbi yang merupakan adik dari Hastomo Arbi, mengantongi beberapa prestasi lainnya, seperti juara dunia tahun 1995 serta merupakan bagian dari tim Indonesia dalam meraih juara Thomas Cup 1994, 1996, 1998, dan 2000.

Di Colo maupun di Kaliyitno, jarak yang harus ditempuh para atlet bervariasi. Mulai dari 3 Km untuk para taruna, remaja dan pemula, hingga 5 KM untuk kelas dewasa. Catatan waktu tak menjadi patokan penting dalam menaklukan Kaliyitno, tapi ketahanan untuk terus berlari dan tidak berjalan.

Lain King dan Hastomo, lain pula Sigit Budiarto. Juara dunia tahun 1997, juara ganda putra All England 2003, serta bagian dari tim Indonesia menjuarai Thomas Cup 1998 ini, menganggap lari di Colo dan Kaliyitno merupakan tantangan yang menarik dan unik untuk ditaklukan, “Ada kepuasan tersendiri bisa menaklukan Colo dan Kaliyitno, apalagi kalau sampai ke puncak duluan,” paparnya. Ketika ditanya, apakah Sigit lebih menyukai Colo atau Kaliyitno, Sigit pun memilih Kaliyitno sebagai tempat yang lebih menantang untuk ditaklukan. “Sebenarnya Colo juga lebih seru dengan trap-trap (tangga – red) nya, tapi bagi saya Kaliyitno lebih menarik,” lanjutnya.

Sementara tanggapan beberapa atlet muda saat ini, mereka beranggapan latihan di Colo terlalu menguras fisik mereka. “Mending latihan drilling saja untuk saya, daripada lari ke Colo atau Kaliyitno,” ungkap juara Djarum Sirkuit Nasional Pekanbaru 2010, Ana Rovita. Hal tersebut pun diakui beberapa atlet lainnya, seperti Feeby Arwynda Pelangi dari kelas tunggal remaja putri, dan mantan atlet pelatnas, Andreas Adityawarman.

Meski demikian para pelatih tetap mendorong para atlet untuk semangat berlatih di Colo. Salah satu atlet PB Djarum generasi saat ini yang mampu “melahap” rute latihan berlari di Colo adalah atlet tunggal putra dari kelas taruna, Thomi Azizan Mahbub “Thomi hingga saat ini adalah salah satu atlet PB Djarum yang berhasil melalui Colo dengan waktu tercepat dibandingkan teman- temannya,” tambah Yoppy.

Kedua dusun tersebut, Colo dan Kaliyitno, menjadi saksi bisu perjalanan para atlet berprestasi dunia. Mungkin, jika atlet bulutangkis Indonesia punya keinginan untuk bisa meraih prestasi dunia, seperti halnya King, Hastomo, Hariyanto Arbi, Sigit Budiarto, berlatihlah dengan semangat seperti yang mereka lakukan.

Galeri Foto Colo dan Kaliyitno

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,798 other followers