Ingin Juara Dunia ? Berlatih Keras
Posted by valsus on May 24, 2010
INDONESIA, negara yang disebut-sebut dunia sebagai “Brasil”-nya bulutangkis dunia, tampaknya kian sulit melewati prestasi Tiongkok.
Berbagai kejayaan membanggakan yang sempat direngkuh pebulu tangkis seperti Alan Budi Kusuma, Susy Susanti, Ricky Subagja. Rexy Mainaky. Chandra Wijaya. Tony Gunawan hingga Taufik Hidayat di ajang Olimpiade, kini sulit disamai.Aroma juara dan prestasi membanggakan tadi langsung meredup seiring pensiunnya sejumlah bintang. Dari sejumlah nama tadi, tinggal Taufik Hidayat yang masih bermain. Itu pun kehebatannya tidak lagi selangguh saat mendonasikan emas bagi Indonesia di Olimpiade Athena 2004.
Lantas, kenapa Indonesia seperti sulit sekali mencetak juara dunia baru? Padahal, di ajang kejuaraan dunia, Indonesia pernah mencatatkan Icuk Sugiarto di lembar catatan sejarah karena keberhasilannya meraih juara dunia pada 1983.Sekadar catatan, Icuk meraih gelar itu saat prestasi bulu tangkis Indonesia sedang terpuruk dan kalah pamor dari Tiongkok.Sekarang, jagoan-jagoan bulutangkis Merah Putih seperti tak berdaya bila berhadapan dengan atlet-atlet Negeri Tirai Bambu tersebut. Lihat saja, saat final Thomas Cup 2010, Indonesia lagi-lagi hanya bisa tampil sebagai runner up setelah di-tekuk Tiongkok 3-0.
Hal ini rupanya ikut disorot Rudy Hartono Kurniawan, salah seorang maestro bulutangkis dunia. Sebagai pendekar bulutangkis dengan 8 gelar juara All England di tangan, pria kelahiran Surabaya, 18 Agustus 1949, ini yakin, hal itu disebabkan Indonesia banyak kurangnya. Yang paling utama, menurut dia, lemahnya kondisi fisik pemain dan kurangnya persiapan tim.”Fisik sangat kurang. Kalau bisa menang di set pertama, set selanjutnya pasti kedodoran. Persiapan juga kurang. Sebab, bila ingin juara, minimal atlet harus berlatih selama satu tahun. Kalau ingin kembali merebut Thomas Cup, ya harus berlatih dari sekarang,” urainya.
Di mata Rudy, kegagalan itu tidak bisa dibebankan kepada pelatih atau pengurus PB PBSI. Sosok yang dianugerahi gelar IBF Distinguished Service Award 1985 itu meyakini, gagal atau berhasilnya Indonesia berada di tangan atlet itu sendiri.”Juara tidaknya seseorang harus dimulai dari diri sendiri,” terangnya.Dia lalu membuka memori lamanya. Di eranya dulu. Rudy selalu berlatih dengan keprihatinan. Setiap hari, sosok yang pernah menjabat sebagai Kabid Binpres PB PBSI itu selalu berlatih tanpa ditemani pelatih.
Latihan hanya dilakukan di sebuah gudang gerbong kereta api PJKA di kawasan Karangmenjangan, Surabaya, dengan fasilitas seadanya. Meski .begitu, hal itu tidak menyurutkan semangat berlatih Rudy. Dia justru makin giat berlatih untukmeraih gelar juara dunia. Hasilnya memang luar biasa. Tanpa didampingi pelatih. Rudy Hartono tetap mampu menjuarai All England di usianya yang baru 19 tahun.”Kalau targetnya juara dunia, saya tentu harus berlatih seperti juara dunia. Itu terbukti. Saya bisa juara All England 1968 meski tanpa pelatih,” kenangnya.
Atas kesuksesannya, Indonesia akhirnya menyediakan pelatih untuk mendampingi latihan Rudy Tapi, level permainannya masih berada jauh dari Rudy Hartono. Lagi-lagi, itu tidak menyurutkan niatnya untuk berlatih keras. “Pelatih itu tugasnya melatih dan mengarahkan. Kalau si atlet menjalankannya dengan baik, pasti hasilnya juga bagus. Buktinya, saya bisa juara All England selama delapan kali dengan kualitas pelatih yang berada jauh di bawah saya,” akunya.Suami Jane Anwar itu memang tidak selalu menang. Rudy mengaku pernah kalah. Tapi kekalahannya itu dijadikan cambuk untuk berlatih lebih giat lagi. “Waktu saya kalah, banyak kritik datang. Saya tidak marah. Soalnya saya menganggap kritik datang karena orang sayang kepada kita,” ungkapnya.
Karenanya, Rudy merasa miris dengan seretnya prestasi bulu tangkis Indonesia. Sekarang, segala fasilitas latihan sudah tersedia. Pelatih pun selalu siap mendampingi pemain. Tapi, prestasi tinggi sulit sekali digapai penggawa-penggawa bulu tangkis Merah Putih. “Pemain seharusnya mandiri. Jangan manja. Tanamkan mental juara dengan latihan keras,” imbuhnya.Meski seret prestasi. Rudy tetap menaruh keyakinan tinggi, bangsa ini suatu saat akan kembali bangkit dari ketertinggalan. Dengan catatan, talenta-talenta berbakat yang masih muda dan enerjik siap berlatih keras untuk menggapai gelar juara. “Latihan itu tujuannya menghasilkan sesuatu lebih baik. Maka berlatihlah yang baik. Jangan santai. Suatu saat Indonesia pasti bisa kembali mencetak juara dunia,” paparnya.
Mantan Atlet Berharap PBSI Dibenahi
Liem Swie Kmg, yang pernah tiga kalimemboyong Piala Thomas untuk Indone-sia, mengaku prihatin dengan prestasi atlet bulutangkis Indonesia. Dia menilai, seharusnya tim bulutangkis Indonesia lebih berprestasi. Dari segi sarana, fasilitas, honor bahkan gizinya, jauh lebih baik dibanding dulu. “Mestinya begitu. Tetapi atlet kita, saya lihat masih kalah di prestasi,” katanya. Ini memang menjadi PR buat semua insan perbulutangkisan Indonesia. Atlet. PBSI, pelatih, maupun pelatnas memang baiknya mengadakan perbaikan di semua sisi.
King yakin, rasa nasionalisme para atlet Indonesia masih sangat kental. Saat berjuang dan bertanding, pastilah mereka berhasrat jadi juara. Tapi, dia melihat, isu yang berkembang di lingkungan PBSI setahun lalu, tentang status atlet bulutangkis untuk bertanding melalui Pelatnas atau atas sponsor, bisa saja berpengaruh terhadap kondisi psikologis atlet. “Tapi masalah ini memang masih simpang siur. Saya rasa PBSI harus lebih tegas membuat regulasi soal ini. Sehingga konsentrasi atlet tidak terpecah,” katanya.
Dia pun berharap, di tingkat organisasi, dalam hal ini PBSI, lebih tegas lagi memperjuangkan kepentingan olahraga, yakni bulutangkis demi bangsa dan negara. Dia berharap, tak ada kepentingan lain selain untuk bulutangkis dan tanah air. Dia yakin, mereka sudah menyusun program yang bagus dan tepat untuk mencetak para juara. Tapi, mungkin perlu dievaluasi lagi, sebab perkembangan zaman cepat sekali, perlu dikaji lagi programnya, apakah persohalnya sudah cukup capable duduk di sana. “Para pelatih, manager atlet, dan lainnya, mesti disesuaikan dengan standar dunia,” katanya.
King melihat, kelesuan tim Piala Thomas Indonesia, bisa jadi, karena didukung faktor eksternal. Seorang juara, kata dia. memang tak hanya dilahirkan, melainkan dibentuk. Selain ada talenta, atlet memang butuh manajemen lebih bagus. Dia harus dipersiapkan sejak dini. “Kembali lagi, soal pembinaan dan manajemen atlemya, harus lebih baik. Pemilihan atlet, faktor umur juga mesti dipertegas,” papar mantan atlet bulutangkis yang pernah enam kali membela tim Piala Thomas Indonesia itu.
Tan Joe Hok, anggota Tim Piala Thomas Indonesia yang merebut Piala Thomas pertama kali untuk Indonesia di Singapore pada 1958, sudah sejak bertahun-tahun lalu prihatin dengan prestasi Bulu Tangkis Indonesia. Dia berharap, semua elemen bangsa ini peduli pada nasib bulu tangkis Indonesia. “Saya berharap ada dialog khusus antara insan pebulu tangkisan. pemerhati, atlet, pemimpin dan masyarakat, untuk mencari solusi dunia bulu tangkis kita,” katanya. Kalau diperlukan perlu ada pembenahan baik di tingkat managemen maupun organisasi yang menaungi perbulutangkisan Indonesia.
Sementara itu. Djoko Santoso, Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PB PBSlt mengatakan, kaderisasi pemain, lagi-lagi selalu dianggap sebagai masalah pelik yang menghambat aliran prestasiIndonesia di pentas bulutangkis dunia. Anehnya, solusi konkret untuk mengatasi gap prestasi antara pemain junior dan senior tak kunjung membawa perubahan.
“Kami akui, Indonesia telat dalam kaderisasi. Pembinaan sudah baik, tapi Tiongkok lebih cepat. Kita akan tempa lagi fisik dan menial para pemain.” terang Djoko Santoso, di GOR Asia Afrika, Senayan, Selasa (18/5).Sosok yang menjabat sebagai Panglima TNI tersebut menganggap hasil Thomas dan Uber Cup 2010 bukan suatu kegagalan. Maklum, selama 8 tahun belakangan, Indonesia selalu gagal masuk final Piala Thomas.
“Kita terima dengan jiwa besar. Para pemain sudah berjuang dengan gigih. Saya hormati usaha para pemain. Runner up juga prestasi. Yang jelas, ini perlu ditingkatkan, agar bisa menjadi juara.” tambahnya. Karenanya, hasil Thomas dan Uber Cup 2010. akan dijadikan pijakan sebagai bahan evaluasi PB PBSI.”Kami terus mematangkan rencana untuk menggabungkan pemain-pemain yang saat ini di pelatnas pratama dengan pemain senior untuk turun di Piala Sudirman tahun depan dan Olimpiade London 2012,” terang pria kelahiran Solo, 8 September 1952. itu. (ags/lil)







