PBSI Harus Evaluasi Pembinaan
Posted by valsus on June 27, 2010
Jakarta – Tidak ada satu pun wakil pelatnas Cipayung yang berhasil melaju ke final Djarum Indonesia Open Super Series 2010. PBSI harus segera melakukan evaluasi terhadap pola pembinaan.
Hal itu diungkapkan oleh Taufik Hidayat dan pelatihnya, Mulyo Handoyo. Taufik praktis menjadi ‘satu-satunya’ wakil Indonesia di final Indonesia Open setelah mengalahkan Nguyen Tien Minh di semifinal.
Sebenarnya, ada satu lagi pemain Indonesia yang maju ke final, yaitu Hendra Setiawan. Namun Hendra kali ini berpasangan dengan pebulutangkis putri Rusia, Anastasia Russkikh, di nomor ganda campuran.
Namun Taufik dan Hendra adalah pemain partikelir yang bukan berasal dari pelatnas PBSI, seperti halnya Ana Rovita yang maju ke semifinal tunggal putri. Kiprah para pemain yang digembleng di Cipayung itu banyak yang terhenti sebelum di semifinal.
Di antara pemain Indonesia yang berasal dari pelatnas, cuma Sony Dwi Kuncoro, ganda campuran Nova Widianto/Lilyana Natsir serta Vita Marissa (yang bersama Saralee Thoungthongkam dari Thailand) yang bisa sampai ke empat besar.
“Jarang ada evaluasi, jadinya tidak ada atau tidak tahu kekurangan dan kelebihan masing-masing. Seperti usai Piala Thomas, tidak ada evaluasi,” komentar Taufik Hidayat, Sabtu (26/6/2010).
“Pembinaan kita tidak ada kejelasan. Coba saja dilihat di Kejurnas misalnya. Anak pelatnas tidak ada yang berhasil juara,” lanjut juara Indonesia Open enam kali tersebut.
Dari segi kuantitas, sebenarnya saat ini Indonesia sudah cukup bagus dengan telah memiliki turnamen sirkuit nasional yang berjumlah 12 seri setiap tahun. Tapi yang ada, kualitas pemain-pemainnya mentok saat harus bermain di level internasional.
“Itu sebenarnya ajang pembinaan yang bagus. Tapi pelatihnya ya begitu-begitu saja. Kenapa masih begitu? Tidak ada terobosan dalam hal pembinaan,” tukas Mulyo Handoyo.
“Kalau tidak ada perubahan dan evaluasi, jangan harap bulutangkis Indonesia maju. Bukannya memojokkan PBSI, tapi mari kita bersama-sama membangun bulutangkis Indonesia,” imbuh Taufik. “PBSI harus mendengar kritik.”
Sule dkk. Bikin ‘Kerusuhan’
Jakarta – Ada yang berbeda di konferensi pers yang dilakukan oleh Taufik Hidayat dan pelatihnya, Mulyo Handoyo. Kelompok komedi Opera van Java ikut meramaikan suasana dan membuat ‘kerusuhan’.
Mereka adalah Sule, Parto, Nunung dan Aziz Gagap. Keempatnya datang ke Istora Senayan untuk menyaksikan beberapa pertandingan, antara lain laga Taufik Hidayat kontra Nguyen Tien Minh.
Atas permintaan beberapa wartawan, Sule dkk ikut masuk ke ruangan konferensi pers yang sedang dilakukan Taufik dan Mulyo. Kelucuan pun mewarnai pembicaraan.
Sule misalnya, saat diminta untuk bertanya kepada Taufik, malah menanyakan soal apa pendapat dia soal video mirip Ariel Peterpan.
“Sebenarnya saya juga punya banyak video seperti itu, tapi untung saja nggak ada yang tahu,” tangkis Taufik lincah, disambut dengan tawa para hadirin.
Sule dkk lalu melempar beberapa guyonan yang sanggup mengocok perut, sementara Aziz malah berniat untuk meminta raket yang sudah tidak dipakai oleh Taufik.
Setelah bergurau sana-sini, Sule kemudian menyampaikan ucapan selamat bertanding dari para pemain OVJ.
“Semoga Mas Taufik bisa mengalahkan (pemain) Malaysia (Lee Chong Wei) dan menjadi juara,” kata Sule, kali ini dengan mimik serius.
Di akhir sesi konferensi pers ger-geran itu, Sule, Aziz, Nunung dan Parto pun mengajak Taufik dan Mulyo berfoto bersama.







