Peserta Audisi PB Djarum, Coba-coba Lalu Suka
Posted by valsus on July 4, 2010
Kudus – Tak semua peserta audisi PB Djarum berlatar belakang penggila bulutangkis. Beberapa di antaranya jatuh hati justru diawali karena kebetulan atau sekadar coba-coba belaka.
Alpen Makro Bares, misalnya. Siswa kelas I SMP Metodis, Tanjung Morawa, Deli Serdang ini hobi memancing. Saban hari, ia ke kolam ikan bersama teman-temannya.
“Lalu saya buatkan lapangan dan dia mulai senang main bulutangkis. Sampai sekarang keterusan,” kata ayah Alpen, Johanes Bares kepada detikSport saat ditemui di sela-sela Audisi PB Djarum di GOR Djarum, Jati, Kudus, Sabtu (3/7/2010).
Johanes membikin lapangan semata-mata agar anak bungsu dari lima bersaudara ini tak menghabiskan waktu memancing. Tak tahunya, Alpen cukup berbakat.
“Saya tahunya karena dia nangis usai main. Saya kira berkelahi, tapi dia nangis karena kalah. Lawannya anak SMP, sementara saat itu dia masih kelas V SD,” jelasnya.
Sejak itu, Johanes yakin anaknya punya semangat untuk maju. Kemudian Alpen dimasukkan dalam Klub Angsapura dan permainannya jadi tambah baik.
“Selama ini dia jarang bertanding karena minimnya kejuaraan. Makanya begitu dengar ada audisi, dia ingin ikut,” kata petani sawit yang juga guru SD ini.
Pengakuan serupa datang dari Bayu A.S, siswa kelas I SMP Luwuk, Sulawesi Tengah. Dia mengenal bulutangkis sejak usia 8 tahun karena di dekat rumahnya ada lapangan. Setelah asik melihat, lalu mencoba.
“Ternyata menyenangkan,” katanya singkat.
Bayu lebih beruntung dibanding Alpen. Di daerahnya lumayan sering kejuaraan, mulai tingkat sekolah hingga provinsi. Beberapa piala berhasil digondol sulung dua bersaudara ini.
“Semoga saja dia lolos. Dia siap hidup berpisah dengan keluarga dan kami mengikhlaskannya,” kata ayah Bayu, Mochtar Ali.
Sejauh ini, Alpen dan Bayu lolos. Mereka harus bersaing dengan ratusan peserta. Audisi digelar lagi hari ini mulai pukul 15.00 WIB.
Curhat Peserta Audisi PB Djarum dari Luar Jawa
Kudus – Kesenjangan kualitas, terutama mental, terjadi dalam audisi PB Djarum. Peserta dari luar Jawa mengaku kurang bisa bersaing karena minimnya jam terbang.
“Kalau jarang ikut kejuaraan, ya mentalnya pasti gampang drop,” kata Johanes Bares asal Medan kepada detikSport di GOR Djarum, Jati, Kudus, Sabtu (3/7/2010).
Johanes mencontohkan, anaknya, Alpen Makro Bares yang agak kedodoran saat bermain. Mental dan daya adaptasi terhadap lapangan, kurang. Padahal secara teknik, Alpen tak kalah.
“Dia baru ‘on’ setelah tertinggal 5-6 poin. Akhirnya, anak saya bermain seri,” katanya.
Guru sekaligus petani sawit ini menjelaskan, di daerahnya, kejuaraan digelar maksimal 2 kali dalam setahun. Beda dengan di Jawa yang bisa berkali-kali. Kalau di daerah satu sepi, daerah lain ada kejuaraan.
Johanes menambahkan, temannya asal Papua kabarnya juga kedodoran saat ikut audisi. “Padahal dia juara di sana (Papua). Mental dan kualitasnya, ternyata jauh dibanding anak sini,” ungkapnya.
Ayah lima anak ini berharap PB Djarum memfasilitasi kesenjangan itu. Dengan demikian, potensi peserta dari luar Jawa juga tergali.
Sejauh ini, Alpen pernah mendapat penghargaan dalam kejuaraan bulutangkis se-Sumut. Siswa kelas I SMP Metodis Tanjung Morawa, Deli Serdang dan tergabung dalam Klub Angsapura ini juga pernah ikut kejuaraan di Pekanbaru, Riau. Dia nekat ikut audisi karena cinta dunia bulutangkis sejak kecil.







