Candra Wijaya : ‘’Prosedurnya agar dibuat lebih sederhana”
Posted by valsus on August 18, 2010
Bulutangkis.com – Kasus tidak terdaftarnya Alvent Yulianto/ Hendra A.G. dan Hendra A.G/ Vita Marissa pada ajang Indonesia Open Super Series bulan Juni lalu dan kasus Markis Kido/ Hendra Setiawan pada China Masters Super Series yang akan berlangsung di bulan September mendatang, menyiratkan betapa rumitnya proses pendaftaran atlit-atlit non pelatnas untuk mengikuti pertandingan internasional.
Prosedur pendaftaran atlit-atlit non pelatnas yang mengikuti pertandingan internasional memang harus melalui jalur yang panjang. Atlit melalui klubnya mengajukan permohonan mengikuti pertandingan untuk direkomendasi Pengcab (Pengurus Cabang), kemudian melewati Pengprov (Pengurus Provinsi) dan akhirnya PB. PBSI yang melakukan pendaftaran sebagai induk olah raga bulutangkis yang resmi di Indonesia.
Pada dua kasus yang kami sebutkan di atas, berbeda penyebabnya. Pada kasus pertama terjadi kelalaian pendaftaran pada PB. PBSI, sementara pada kasus kedua memang rekomendasi tidak dikeluarkan Pengprov PBSI DKI karena dianggap atlit yang bersangkutan belum memenuhi kewajibannya.
Sebelum merebaknya kasus Markis Kido/ Hendra Setiawan baru-baru ini, pada satu kesempatan Bulutangkis.com sempat ngobrol-ngobrol ringan dengan Candra Wijaya, pebulutangkis nasional yang kini berpartner dengan Luluk Hadiyanto, perihal prosedur pendaftaran untuk mengikuti kejuaraan internasional.
‘’Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan tidak terdaftarnya atlit di pertandingan internasional. Pertama, atlit memang belum mendaftar. Kedua, kelalaian mendaftar ke BWF dari klub, pengcab, pengprov atau dari PBSI sendiri. Ketiga, karena prosedurnya terlalu rumit sehingga bisa terjadi kealpaan,’’ papar Candra Wijaya.
Candra Wijaya yang kini membuka sekolah bulutangkis Candra Wijaya International Badminton Centre di Kosambi, Jakarta Barat lebih jauh mengungkapkan, ‘’Bulutangkis di dunia dan Indonesia memang masih amatir jadi kondisinya seperti ini. Padahal atlit sekarang dan klub sudah bisa profesional sehingga dengan mekanisme yang sekarang tidak tepat dan kurang mendukung kemajuan bulutangkis sendiri. Lamban mangantisipasi hal ini. Mungkin prosedurnya sekarang bisa dibuat mekanisme yang lebih sederhana dan mudah.’’
‘’Tanpa bermaksud melupakan atau pun menganggap remeh instansi. Mungkin cukup dengan menulis surat dan meminta salah satu saja dari instansi tersebut. (Pengcab, Pengprov, PB. PBSI – red) untuk melakukan pendaftaran. Jika memang prosedurnya masih belum bisa langsung ke BWF tetap dikoordinir lewat PB.PBSI,‘’ Candra Wijaya yang bersama Tony Gunawan meraih Medali Emas Olimpiade 2000 di Sydney memberi jalan keluar.
‘’Dan harapannya ke depan kita bisa terbuka secara professional. Siapa saja bisa mengikuti kejuaraan terbuka dapat mendaftar langsung ke turnamen yang akan kita ikuti atau ke BWF langsung,’’ papar Candra Wijaya kelahiran Cirebon, Jawa Barat pada 16 September 1975.
‘’Seperti pada kejuaraan Candra Wijaya Open yang kami laksanakan, misalnya. Kami terbuka bagi siapa saja yang mendaftar. Bahkan dari yang tidak punya klub sekalipun. Tinggal nanti tetap perlu penyaringan atau dibatasi jika ada aturan tertentu seperti kategori atau class event tersebut. Bisa dilihat juga dari ranking di nasional atau internasional,’’ Candra melanjutkan.
‘’Dan saya harap ke depan kita bisa meniru cabang olah raga lain seperti tenis misalnya, yang sudah profesional,’’ Candra Wijaya memberikan contoh bahwa saat ini pada cabang tenis atlit bisa langsung mendaftar ke International Tennis Federation (ITF). “Hal ini agar pemain dapat berkonsentrasi dengan baik, tidak ada perasaan was-was tidak terdaftar. Ada perasaan aman,’’ demikian Candra Wijaya mengakhiri obrolan ringan dengan Bulutangkis.com.
Menyimak dari obrolan dengan Candra Wijaya tersebut, patutlah PBSI mengevaluasi kembali prosedur pendaftaran atlit-atlit non pelatnas untuk mengikuti pertandingan internasional. Walau mungkin belum bisa mengikuti seperti pada cabang tennis, setidaknya ada mekanisme yang lebih sederhana. Dan PBSI lebih berperan aktif memulai untuk menyederhanakan prosedur yang ada selama ini agar tidak terulang lagi kealpaan atlit dalam mendaftar pada turnamen internasional. (fk)







