ASIAN GAMES : PELUANG CABANG BULUTANGKIS SEMAKIN BERAT
Posted by valsus on September 23, 2010
JAKARTA (Suara Karya) : Kegagalan para pebulutangkis Indonesia di sejumlah turnamen internasional membuat cabang ini disangsikan bisa menyumbang medali emas bagi kontingen Indonesia pada Asian Games 2010 Guangzhou, November mendatang. KONI-KOI, sebagai penangggung jawab tertinggi persiapan kontingen Indonesia, harus siap menyaksikan kegagalan cabang ini memenuhi target yang diemban terkait dengan buruknya rekor yang dibuat atlet Pelatnas PB PBSI Cipayung tersebut.
“Faktanya, kita harus akui bahwa peluang bulutangkis menjadi penyumbang medali emas sangat berat,” kata Ketua Sport and Development KOI Djoko Pramono, saat dihubungi kemarin.
“Melihat hasil kejuaraan bulutangkis China Master dan kejuaraan dunia lalu, di mana kita gagal total dan China berhasil merebut semua gelar, sepertinya kita harus mengakui bahwa PB PBSI harus secepatnya melakukan perbaikan.”
Meski demikian, Djoko tetap menaruh harapan kepada cabang tepok bulu itu. Menurutnya, dengan sisa waktu yang ada, PB PBSI segera melakukan perbaikan untuk meningkatkan kinerja pada atlet yang disiapkan. “Kita tetap akan selalu berkoordinasi dengan PB PBSI dalam kaitan persiapan atlet nanti.”
Kendati berat, Djoko tetap punya harapan besar bahwa cabang ini bisa menjadi penyumbang emas. Ia mengatakan, peluang tersebut ada pada nomor ganda putra dan ganda campuran. “Masih ada waktu dua bulan, dan cabang bulutangkis adalah cabang permainan, jadi peluang itu tetap terbuka, terutama dari nomor ganda putra dan ganda campuran,” ujarnya lagi.
Namun, nada optimistis yang dilontarkan Djoko tersebut ditanggapi dengan nada yang berbeda oleh PB PBSI. Kabid Pembinaan dan Prestasi Lius Pongoh, di kesempatan terpisah, mengatakan, PB PBSI sepertinya mulai bersikap realistis dengan peluang merebut medali di Asian Games mendatang dan berharap pihak luar tidak terlalu optimistis.
“PB PBSI meminta semua pihak untuk lebih realistis melihat target yang kami emban. Dengan hasil yang kurang bagus dari sejumlah turnamen, maka kami mencoba untuk lebih bersikap realistis saja,” ujar Lius.
“Kami meminta bahwa beban untuk meraih emas itu jangan hanya disandarkan kepada PBSI semata. Karena, kami juga harus tahu diri bahwa dengan skuad yang ada, untuk memenuhi target merebut emas di Asian Games sangat berat,” katanya lagi.
Sementara itu, pebulutangkis tunggal putra peringkat 10 dunia Sony Dwi Kuncoro batal mengikuti kejuaraan Jepang Terbuka Super Series, yang berlangsung 21-26 September mendatang. Sony mundur karena cedera yang dialaminya belum lagi pulih.
“Saya tidak ke Jepang, ya belum pulih banget,” kata Sony tetang cedera yang dialaminya saat tampil di kejuaran dunia, Agustus lalu.
Hal tersebut dibenarkan Lius Pongoh yang mengatakan bahwa pembatalan itu diambil pada Jumat pekan lalu. Lius menambahkan, Jepang Super Series kemungkinan turnamen di luar negeri terakhir yang menjadi uji coba menjelang Asian Games.
“Jepang adalah turnamen (di luar negeri) terakhir sebelum Asian Games. Mereka tidak pergi ke Denmark (26-31 Oktober) dan Prancis Super Series (2-7 November) karena waktunya terlalu mepet,” ujar Lius.
Berdasarkan hasil pengundian pertandingan yang disiarkan laman resmi Federasi Bulutangkis Dunia (www.bwfbadminton.org), Sony, yang menjadi unggulan delapan, sedianya akan mengawali Jepang Super Series dengan melawan pemain China finalis China Masters, Chen Long.
Absennya Sony dan Simon Santoso, yang juga belum pulih dari cedera pinggang, menyisakan Dionysius Hayom Rumbaka serta Taufik Hidayat dan Alamsyah Yunus sebagai wakil tunggal putra Indonesia pada kejuaraan tersebut.







