GCBI, Mengembalikan Kecintaan & Prestasi Bulutangkis
Posted by valsus on September 24, 2010
Jakarta – Menurunnya prestasi para pebulutangkis Indonesia di kancah internasional mengundang keprihatinan sejumlah mantan pemain. Maka dibentuklah Gerakan Cinta Bulutangkis Indonesia (GCBI). GCBI dimotori oleh lima mantan pebulutangkis nasional, yakni Flandy Limpele, Ricky Subagja, Joko Supriyanto, Rossina Tendean dan Candra Wijaya. GCBI didirikan karena mereka peduli pada perkembangan, prestasi, kesinambungan dan eksistensi bulutangkis di Indonesia. Seperti diketahui, prestasi Indonesia memang belakangan terus menukik. Di Piala Thomas dan Uber, putra-putri Indonesia gagal juara, sementara di turnamen Indonesia Open Super Series bulan lalu, tidak satu pun wakil ‘Merah Putih’ yang sukses bertakhta. Merosotnya prestasi Indonesia diikuti oleh lunturnya kebanggaan masyarakat terhadap para atletnya, turunnya minat pada olahraga ini serta kurangnya pengetahuan tentang sejarah bulutangkis Indonesia. GCBI berusaha memberikan sumbangsihnya bagi bulutangkis Indonesia dengan menggabungkan unsur olahraga, seni, pendidikan dan hiburan (SportArtEduTainment) dalam sejumlah kegiatannya. Seperti dalam rilis yang diterima detiksport, kegiatan tersebut meliputi turnamen bulutangkis di delapan kota dengan grand final di Jakarta, lomba cipta jingle dan lomba fotografi amatir dengan tema bulutangkis. Turnamen bulutangkis yang digagas GCBI sendiri akan dimulai di Bandung pada 21-25 September, lantas ke Batam (20-24/10), Makassar (9-13/11), Bali (18-22/11), Balikpapan (15-19/12), Surabaya (5-9/1/2011), Solo (11-15/1) dan Jakarta (18-23/1). Grand final juga akan digelar di Jakarta pada Maret 2011. Walau didirikan oleh para mantan pebulutangkis, GCBI juga menggandeng para pihak terkait seperti PB PBSI, Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga, KON/KOI, Kementerian Pendidikan Nasional, tokoh nasional dan juga selebriti.
Pemerintah Anggarkan Rp 18 M untuk Kontingen Indonesia
Pemerintah sudah menganggarkan dana sebesar Rp 18 miliar untuk pengiriman kontingen Indonesia menuju Asian Games XVI di Guangzhou, China pada November 2010. Namun, anggaran tersebut masih bisa berubah tergantung dari jumlah atlet yang diberangkatkan. Demikian ditegaskan Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Wafid Muharam menegaskan. “Anggaran pengiriman atlet menuju Asian Games XVI di Guangzhou, China, November mendatang bisa berubah. Semua itu tergantung jumlah atlet yang akan diberangkatkan ke Guangzhou,” jelasnya, seperti dikutip kompas.com. Semantara itu, hingga kini kantor Kemenpora belum menerima laporan jumlah atlet menuju Asian Games XVI dari Komite Olimpiade Indonesia (KOI). Sedang jadwal entry by name (pendaftaran nama) atlet yang akan tampil di Asian Games XVI adalah akhir September 2010. Lebih lanjut Wafid mengatakan, kantor Menpora menunggu laporan dari KOI tentang jumlah atlet dari cabang yang dipromosikan ke Asian Games XVI Guangzhou, 12-27 November 2010. “Dari segi dana pengiriman atlet tidak perlu dipersoalkan. Berapa pun dana yang diusulkan untuk pengiriman atlet menuju multievent Asia diupayakan semaksimal mungkin oleh pemerintah,” ujarnya. Masih katanya, yang terpenting atlet yang diberangkatkan benar-benar menjanjikan meraih prestasi puncak pada event multicabang Asia. “Minimal tidak kalah di babak awal dalam pertandingan yang diikutinya,” tambahnya. Wafid menegaskan, semuanya dipercayakan pada KOI dan Satlak sebagai pelaksana penanganan atlet, sedang kantor Kemenpora tinggal memberikan kebijakan untuk memenuhi biaya yang diperlukan. Seketaris Kemenpora berharap dalam persiapan dan pengiriman atlet yang menggunakan biaya cukup besar itu bisa mendapatkan sponsor dari BUMN, seperti tahun lalu ketika kontingen Indonesia mendapat sponsor dari Bank Rakyat Indonesia (BRI). “Adanya sponsor tersebut, dapat meringankan Kemenpora dalam mempersiapkan dan pengiriman atlet nasional menuju Asian Games XVI di Guangzhou, China, November 2010,”







