Dilema Regenerasi
Posted by valsus on November 16, 2011
Bulutangkis.com – Sore hari ini pertarungan final bulutangkis beregu putra akan berlangsung di Istora Senayan, Jakarta antara dua negara yang selalu bersaing ketat di ajang internasional bulutangkis. Indonesia melawan Malaysia. Dua negara bertetangga bersebelahan di kawasan Asia Tenggara yang selalu bersaing di cabang bulutangkis. Tak hanya pertarungan bulutangkis di kawasan Asia Tenggara saja, tapi juga di ajang internasional lainnya.
Genderang persaingan yang telah lama bersemai, berawal ketika Indonesia untuk pertama kali merebut Piala Thomas tahun 1958. Pada partai final perebutan Piala Thomas tahun 1958 Indonesia menaklukkan Malaya (kini Malaysia) yang merupakan ‘’Raksasa Bulutangkis Dunia’’ kala itu. Sejak itulah persaingan kedua negara bersahabat di bulutangkis selalu terjadi.
Kini pada ajang SEA Games XXVI yang berlangsung di Palembang dan Jakarta, cabang bulutangkis yang pertandingannya di Jakarta, Malaysia tidaklah turun dengan kekuatan penuh. Tiga pebulutangkis andalannya, Lee Chong Wei (tunggal putra) dan Koo Kien Keat/ Tan Boon Heong (ganda putra) tidak ikut meramaikan. Ketiganya lagi di proyeksikan oleh Asosiasi Bulutangkis Malaysia (BAM) mengikuti program utamanya meraih medali emas pada Olimpiade London 2012. BAM juga menjadikan ajang SEA Games kali ini sebagai bagian dari proses regenerasi pada cabang bulutangkis mereka.
Beda dengan Indonesia, kini tim bulutangkis Indonesia berhasil tampil ke final bulutangkis beregu putra dengan skuad terbaik yang dimiliki saat ini. Tercatat nama-nama pebulutangkis senior seperti Taufik Hidayat peraih medali emas Olimpiade Athena 2004, dan Markis Kido/ Hendra Setiawan peraih medali emas pada Olimpiade Beijing 2008 masih jadi tumpuan harapan Indonesia untuk meraih medali emas. Kido/Hendra telah tiga kali meraih emas pada nomor perorangan SEA Games tahun 2005, 2007 dan 2009.
Dengan menjadi tuan rumah SEA Games ke duapuluhenam ini, Indonesia memiliki target meraih gelar juara umum untuk menjadi yang terbaik pada ajang pesta olahraga di kawasan Asia Tenggara. Pada cabang bulutangkis, Indonesia yang mempunyai peluang bagus juga dimaksimalkan untuk meraih medali emas sebanyak mungkin. Kali ini bulutangkis mendapat target empat emas dari tujuh medali emas yang akan diperebutkan hingga berakhirnya pertarungan bulutangkis pada hari Sabtu, 19 November mendatang.
Target meraih empat medali emas ini menjadi beban tersendiri bagi pengurus di jajaran PBSI yang mau tidak mau harus menurunkan skuad terbaiknya. Pemain senior pun ‘terpaksa’ juga harus diturunkan. Tentunya pengurus di jajaran PBSI tidak ingin mengambil resiko gagal meraih medali emas jika menurunkan pebulutangkis-pebulutangkis mudanya.
‘’Ya, inilah dilema kita sebagai pengurus,’’ ungkap Christian Hadinata, mantan pebulutangkis nasional yang kini menjadi penanggung jawab atlit ganda di Pelatnas PBSI, Cipayung, saat obrol-obrol dengan kami di Istora Senayan, menyaksikan pebulutangkis Indonesia berlatih Kamis lalu (10/11/11). ‘’Antara regenerasi pemain dengan target yang ada,’’ tambah Christian.
‘’Tidak hanya pada cabang bulutangkis saja terjadi, cabang olahraga lain juga begitu, dengan mendapat target emas, masih harus menurunkan atlit-atlit seniornya, misalnya di cabang karate, Umar Syarif juga masih diturunkan,’’ lebih jauh Christian menjelaskan.
Menjadi dilema, tak hanya ketika pemerintah dalam hal ini Kementerian Olahraga dan KONI yang menetapkan target emas tertentu pada setiap cabang olahraga untuk meraih juara umum. Tetapi masyarakat juga mempunyai tuntutan agar Indonesia bisa merajai ajang perolehan emas. Maka untuk sementara kesempatan menurunkan atlit-atlit muda untuk berlaga mencari pengalaman dan prestasi ‘’agak’’ dipinggirkan. (ferry kinalsal)







