SEJAHTERA BADMINTON CLUB

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

Archive for January 23rd, 2012

Hastomo Arbi Yakin Tim Uber Indonesia Lolos Kualifikasi

Posted by valsus on January 23, 2012

SEMARANG, Kompas.com — Mantan pebulu tangkis nasional, Hastomo Arbi, merasa yakin tim putri Indonesia bisa lolos babak kualifikasi Piala Uber zona Asia di Makau, 13-19 Febuari 2012.

”Kalau hanya sekadar lolos, saya merasa optimistis Lindaweni Fanetri dan kawan-kawan bisa. Tetapi kalau untuk berprestasi di Piala Uber, tentunya nanti dulu karena persaingannya sangat ketat, seperti dari China, Korea Selatan, Jepang, dan lain sebagainya,” kata Hastomo ketika dihubungi dari Semarang, Senin (23/1/12).

Menurut pahlawan Piala Thomas 1984 (saat itu mengalahkan Han Jian dari China) tersebut, untuk nomor beregu Indonesia cukup kuat dibandingkan harus bermain untuk perorangan seperti pada Korea Terbuka Superseries Premier dan  Malaysia Terbuka Superseries beberapa waktu lalu.

”Kalau untuk beregu, kekuatan pebulu tangkis putri kita merata untuk semua nomor, baik tunggal maupun ganda. Lindaweni Fanetri sekarang ini menjadi pemain tunggal Indonesia yang memiliki peringkat tertinggi dibandingkan lainnya,” katanya.

Pada setiap pertandingan babak kualifikasi di Makau mendatang, kata Hastomo yang juga Wakil Manajer PB Djarum Kudus, Indonesia harus bisa mengamankan tiga angka kemenangan terutama dari dua ganda dan satu tunggal.

”Kita juga harus melihat lawan yang dihadapi, bisa seperti itu atau sebaliknya, yaitu dua tunggal dan satu ganda, tergantung kekuatan lawan yang akan dihadapi,” kata kakak mantan pebulu tangkis nasional Heriyanto Arbi tersebut.

Pada babak kualifikasi Piala Uber kemungkinan masih tetap menggunakan sistem terdahulu, yaitu mempertandingkan lima partai yang terdiri dari tiga tunggal dan dua ganda.

Menurut pelatih tunggal putri Wong Tat Meng, Adriyanti Firdasari yang mengalami cedera sobek pada otot perutnya dan Lindaweni Fanetri yang terkilir pergelangan kakinya saat memperkuat tim Indonesia pada SEA Games November 2011 sedang dalam pemulihan.

”Pemulihannya sudah di atas 90 persen,” kata Wong yang optimistis kedua pemain asuhannya itu dapat tampil dalam kualifikasi Piala Uber dengan baik.

”Yang saya khawatirkan adalah masalah sakit dan cedera karena itu tidak dapat diprediksi,” ujar Wong.

Ia juga menyatakan menghadapi persoalan cedera yang dialami pemain tunggal lainnya, Aprilia Yuswandari. Pemain itu sobek ligamen telapak kakinya. Linda dan Firdasari, katanya, hampir dipastikan akan menjadi tunggal pertama dan kedua di tim Uber.

Cedera bahu kanan Greysia Polii yang membuatnya absen di SEA Games, masih dalam penyembuhan, sedang Nitya Krishinda Maheswari mengalami cedera pinggang pada Malaysia Terbuka pekan lalu.

Pebulu tangkis yang masuk tim Uber adalah Lindaweni Fanetri, Adriyanti Firdasari, Aprilia Yuswandari, Maria Febe Kusumastuti, Bellaetrix Manuputy, Hera Desi Ana Rachmawati, Greysia Polii, Meiliana Jauhari, Vita Marissa, Nadya Melati, Nitya Krishinda, Anneke Feinya Agustine, Liliyana Natsir, dan Shendy Puspa Irawati.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Jangan Panggil Aku China

Posted by valsus on January 23, 2012

Bulutangkis.com – Indonesia memiliki keragaman budaya, suku dan agama. Memiliki puluhan provinsi dengan adat istiadat yang berbeda membuat Indonesia kaya. Kultur budaya pun banyak teradopsi dari luar negeri seribu pulau ini. Budaya Melayu, Arab, Portugis, India, Belanda menyatu kental dengan budaya asli Indonesia, termasuk juga budaya yang datang dari negeri tirai bambu, China.

Warga keturunan Tionghoa, begitu dulu biasa disebut oleh jaman Orde Baru selalu menjadi warga kelas dua dalam strata kependudukan di Indonesia. Tetapi suka tak suka, mau tak mau, merekalah justru yang memimpin roda perekonomian. Biar begitu tak jarang warga keturunan ini selalu mendapat diskriminasi dalam setiap hal yang berhubungan dengan birokrasi pemerintahan. Perlakuan tak adil pun sempat menerpa muka atlet yang notabene telah mengharumkan nama Indonesia.

Susi Susanti misalnya. Siapa yang tak kenal dengannya. Pahlawan olahraga bulutangkis yang selalu mengangkat tinggi harkat dan martabat bangsa Indonesia di mata dunia dengan berbagai prestasinya yang luar biasa. Susi, mojang Parahiyangan, lahir dan besar di Indonesia. Tutur kata, bahasa dan polah tingkahnya mencerminkan budaya asli negeri Pasundan yang ramah. Terlahir dengan nama Lucia Fransisca Susi Susanti, mempunyai orang tua berdarah Tionghoa. Hanya karena berdarah Tionghoa, Susi sempat mendapat kesulitan mendapatkan selembar surat kewarganegaraan. Padahal jika dibandingkan dengan perjuangan dan prestasinya di karpet hijau, apalah arti surat kewarganegaran.

Berbagai negara siap dan mau mengangkat Susi menjadi warga negara kelas satu. Tapi justru Susi lebih memilih tetap menjadi warga negara Indonesia. Negeri yang dicintai, di hormati dan telah membesarkannya.

“Saya orang Indonesia, lahir dan besar di Tasikmalaya. Biarlah seluruh prestasi saya persembahkan untuk bangsa ini,” ujarnya.

Susi pun membuktikan ucapannya. Deretan prestasi luar biasa yang diraihnya dengan meninggalkan masa mudanya dan menetap lama di kawah candradimuka bernama Pelatnas, adalah semata-mata demi nama Indonesia. Lelehan air mata yang terurai saat menggenggam medali emas Olimpiade Barcelona tahun 1993, menjadi saksi bisu betapa Susi cinta akan tanah airnya. Susi tak sendiri, Hendrawan, Ivana Lie dan beberapa atlit lainnya yang juga merupakan pahlawan bulutangkispun tak luput dari perlakuan serupa. Beruntung, bantuan segera datang. Susi, Hendrawan, Ivana Lie dan lainnya segera mendapatkan surat pengakuan yang diidam-idamkannya.

Cerita menyedihkan justru datang dari Tong Sinfu, mantan pelatih pelatnas. Om Tong, demikian beliau biasa di sapa, lahir dan besar di Teluk Betung, Lampung, 70 tahun silam. Pelatih yang telah melahirkan puluhan atlit berprestasi itu memilih hijrah ke Tiongkok¸ setelah permohonannya menjadi warga negara Indonesia (WNI) di tolak.

‘’Waktu itu saya sudah berusaha mati-matian menjadi WNI, tapi tetap tidak dikabulkan. Apa mau dikata,” ujarnya. Dia hanya terdiam ketika ditanya apakah masih ingin menjadi Warga Negara Indonesia (WNI), demikian sumber wikipedia menulis. Om Tong tak kuasa menahan benteng baja yang menjulang menghadang. Ia hanya bisa tertunduk pasrah menerima kenyataan pahit yang menggurat suratan tangannya.

Cerita di atas merupakan sepenggal cerita suram warga “kelas dua” yang telah mengorbankan hidupnya demi Merah Putih. Padahal, melalui olahraga mereka menunjukkan jati diri sebagai seorang patriot sejati. Mereka memang terlahir sebagai warga keturunan, tapi jangan pernah tanyakan arti nasionalisme kepada mereka. Mereka tak butuh basa basi penghias bibir untuk menjabarkan makna rasa cinta bangsa. Meski terlahir dengan mata yang meruncing sipit, tetapi mata hati mereka terbuka lebar untuk menjabarkan makna persatuan dan persaudaraan. Gong Xi Fat Chai. (Arief Rachman)

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.