SEJAHTERA BADMINTON

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

  • Meta

  • TIRTA SPORT ONLINE SHOP

    Promo Tirta
  • WIDE SCREEN FORMATED

    February 2009
    M T W T F S S
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    232425262728  
  • JADILAH PEMENANG

    Pemenang selalu memiliki program

    Pecundang selalu memiliki alasan

    Ketika pemenang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Saya melakukan kesalahan”

    Ketika pecundang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Itu bukan kesalahan saya”

    Pemenang membuat komitmen-komitmen

    Pecundang membuat janji-janji

    Pemenang memilih seperti yang ia ingin lakukan

    Pecundang memilih sesuai pilihan orang banyak

    Pemenang membuat sesuatu terjadi

    Pecundang membiarkan sesuatu terjadi

  • BWF

    bwf-logo1
  • Archives

  • Top Posts

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 5,029 other followers

Archive for February 1st, 2009

BADMINTON TOP 10 RALLY VIDEO

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on February 1, 2009


Posted in Berita, Video | Leave a Comment »

PENGENDALIAN EMOSI KUNCI MERAIH PRESTASI

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on February 1, 2009


Oleh: Prayoga Ahmadi Triyono

(Bulutangkis.com) – Olah raga bulutangkis (badminton) secara umum adalah termasuk kategori olah raga permainan. Namun seiring dengan berjalannya waktu, bulutangkis berkembang menjadi bukan sekadar sebuah permainan di lapangan, bagi banyak orang bulutangkis adalah olahraga yang mengajarkan berbagai makna filosofis.

Secara individual, permainan bulutangkis mengajarkan kita menguasai diri di lapangan. Kita juga belajar bagaimana mengelola emosi agar tetap tenang dan percaya diri sehingga dapat secara taktis mengubah strategi saat keadaan tertekan atau tertinggal. Sedangkan saat bermain ganda, pemain belajar bagaimana bekerja sama dan berkomunikasi dengan mitranya. Mencoba untuk saling menutupi kelemahan mitra, saling melindungi, saling memberi semangat, saling pengertian dan saling memberi motivasi & apresiasi.

Itulah sedikit filosofi yang banyak bermanfaat di tempat kerja dan kehidupan. Filosofi yang bagus untuk pengembangan diri.

Selain mengajarkan filosofi berharga, banyak manfaat besar dengan turun ke lapangan bulutangkis. Bagi penulis pribadi, bermain bulutangkis merupakan kesenangan yang tidak bisa tergantikan oleh apa pun. Bila berbicara tentang tekanan di pekerjaan, bulutangkis adalah obat penghilang stres. Dengan bermain bulutangkis, penulis juga bisa berteriak sesuka hati tanpa ada yang melarang. Selain itu, bermain bulutangkis membuat stamina tubuh terjaga. Kita jadi jarang sekali sakit (walaupun sakit, sehat rezeki dst itu adalah anugrah dari Yang Maha Kuasa).

Melalui bulutangkis, kita juga bisa memiliki banyak teman. Bukan sembarang teman. Melainkan teman sejati yang memiliki tingkat hubungan kekeluargaan tinggi. Tidak jarang orang yang mencari dan menemukan jodohnya di lapangan bulutangkis (ehem… he..he..he).

Karena begitu cintanya pada bulutangkis, dulu penulis sempat berpikir untuk serius menjadi atlet. Tetapi orang tua tidak mengizinkan. Mereka lebih menekankan di bidang akademik. Saya sendiri lebih mengutamakan sekolah, dengan tidak lupa tentunya mengukur kemampuan. Karena penulis hanya menang bulutangkis pada tingkat daerah (RT khususnya he.. he..).

Pembaca yang budiman, kali ini penulis ingin mengupas sedikit tentang filosofi olah raga bulutangkis khususnya saat kita bermain ganda. Teman-teman, pernahkan anda bermain bulutangkis bermitra dengan pasangan yang sangat temperamen? Kondisi ini sungguh membuat poin demi poin laksana granat yang siap meledak. Secara natural, bermain ganda adalah sebuah permainan yang seimbang dua lawan dua. Namun dalam kondisi pasangan yang emosional kondisi itu berubah menjadi satu lawan tiga, dua lawan di seberang jaring (net) dan satu lawan yang berstatus sebagai mitra. Kejam dan sungguh tidak berperasaan…

Penulis sendiri sering mengalami, kadang hati ini begitu remuk saat mitra melontarkan ejekan atau makian (walaupun itu benar adanya). Jantung ini juga terasa mau lompat ketika mitra membanting raket. Rasanya badan ini yang sedang dibanting.

Dalam kondisi yang demikian tidak menguntungkan biasanya penulis hanya ingat kepada filosofi permainan bulutangkis ganda di atas, lantas diam dan tersenyum. Ingat tersenyum. Karena dengan senyum banyak masalah yang ruwet jadi mudah dan emosi menjadi frustasi, eh, salah maksudnya menjadi pengertian, He.. he.

Pembaca yang budiman, tahukah anda bahwa emosi itu sebenarnya selain sumber malapetaka juga merupakan sumber kekuatan yang sangat dahsyat?

Anthony Dio Martin penulis buku Emotional Quality Managament (2003) dan Audio Book Emotional Power (2004), mengungkapkan bahwa kesuksesan itu ditentukan oleh visi, imajinasi, aksi dan emosi. Emosi berperan penting, karena manusia saling berhubungan satu dengan yang lain.

Seringkali kita menganggap bahwa emosi adalah hal yang begitu saja terjadi dalam hidup kita. Kita menganggap bahwa perasaan marah, takut, sedih, senang, benci, cinta, antusias, bosan, dan sebagainya adalah akibat dari atau hanya sekedar respon kita terhadap berbagai peristiwa yang terjadi pada kita.

Daniel Goleman dalam bukunya, Emotional Intelligence, mendivinisikan emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Sedangkan Anthony Robbins dalam Awaken the Giant Within menunjuk emosi sebagai sinyal untuk melakukan suatu tindakan.

Di sini ia melihat bahwa emosi bukan akibat atau sekadar respon, tetapi justru sinyal untuk kita melakukan sesuatu. Jadi dalam hal ini ada unsur proaktif, yaitu kita melakukan tindakan atas dorongan emosi yang kita miliki. Bukannya kita bereaksi atau merasakan perasaan hati atau emosi karena kejadian yang terjadi pada kita. Padahal sesungguhnya kemampuan kita dalam mengendalikan dan mengelola emosi kita merupakan faktor penentu penting keberhasilan atau kesuksesan dalam berbagai aspek kehidupan kita.

Sejak diperkenalkan Kecerdasan Emosi (Emotional Intelligence – EQ) oleh Daniel Goleman pada 1995 tersebut, perhatian masyarakat mulai beralih dari kecerdasan intelektual (IQ) semata kepada kecerdasan emosional. Dan tahukah anda bahwa kesuksesan seseorang itu 80% ditentukan oleh EQ ketimbang IQ.

Pembaca yang budiman, jelas bukan, seandainya mitra bulutangkis kita yang emosional tersebut tahu bahwa emosinya itu merupakan sumber kekuatan yang sangat dahsyat maka sebenarnya kelemahannya merupakan kekuatannya, tentu dengan catatan jika dia dapat mengelolanya dengan baik.

Lantas timbul satu pertanyaan, bagaimana mengelola emosi?

Dr. Patricia Patton dalam bukunya Emotional Quotient mengungkapkan bahwa untuk mampu mengatur emosi adalah dengan cara belajar.

  1. Belajar mengidentifikasikan apa saja yang bisa memicu emosi kita dan respon apa yang biasa kita berikan.
  2. Belajar dari kesalahan, belajar membedakan segala hal di sekitar kita yang dapat memberikan pengaruh dan yang tak dapat memberikan pengaruh pada diri kita.
  3. Belajar selalu bertanggung jawab pada setiap tindakan kita.
  4. Belajar mencari kebenaran, belajar memanfaatkan waktu secara maksimal untuk menyelesaikan masalah.
  5. Belajar menggunakan kekuatan sekaligus kerendahan hati.

Kelima hal inilah yang apabila kita pelajari akan memudahkan diri kita dalam menjalin hubungan dengan orang lain.

Dengan kelima hal inilah maka dengan mudah kita mampu mengendalikan emosi itu. Kita mampu mengelola emosi itu sehingga bisa kita endapkan dalam hati. Jika kita mampu mengelolanya maka jadilah emosi itu sebagai energi untuk memajukan diri. Contohnya, seorang Peter Gade yang mampu mengelola emosinya, menggunakan semangat dari kemarahan karena sering disepelekan karena usianya yang sudah tua) menjadi pemicunya dalam mengejar prestasi sehingga dia bisa membuktikan kalau dia bukan si pecundang tua yang dapat disepelekan dalam TUC kemarin.

Tetapi yang tak boleh dilupakan, sebagai makhluk sosial, manusia tak bisa menghindarkan diri untuk berinteraksi dengan manusia yang lain, dalam hal ini dengan kemampuan menggunakan emosi sebagai pembawa informasi, kita bisa melihat sisi, kadar intensitas emosi orang lain yang muncul dari komunikasi non-formalnya, berupa ekspresi, tekanan nada suara, gerakan ataupun bahasa tubuh yang dipakainya. Jika kita mampu membaca bahasa-bahasa itu maka bisa diupayakan tindakan kontra reaksi dari emosi orang tersebut. Umpamanya, jika kita lihat ada gejala mitra atau lawan bicara kita kurang suka, maka kita antisipasi dengan dengan berbicara yang bersifat menetralkan perasaan orang tersebut. Setelah kita pahami masalah emosi diri maupun emosi orang lain, maka secara mudah kita menjalin hubungan interpersonal dengan orang lain. Sehingga diharapkan muncul pribadi yang menyenangkan. Seseorang yang memiliki kecerdasan emosi yang baik akan peka terhadap situasi apapun yang sedang terjadi, serhingga dengan mudah menyiapkan strategi kontra situasi terhadap suatu konflik yang ada, termasuk dalam bermain bulutangkis.

Pembaca yang budiman, terakhir pesan yang ingin penulis sampaikan adalah, bulutangkis adalah sebuah olah raga permainan yang melibatkan fisik dan emosi, dengan pengelolaan emosi yang baik maka kita akan mendapatkan seluruh filosofi dalam olah raga. Tubuh yang sehat, tenang dan percaya diri, terbiasa bekerja sama dan berkomunikasi dengan mitranya. Terlatih untuk saling menutupi kelemahan mitra, saling melindungi, saling memberi semangat, saling pengertian dan saling memberi motivasi & apresiasi.

Sehingga bulutangkis tidak sekedar menjadi olahraga obat penghilang stress saja tetapi dengan bulutangkis kita bisa memiliki banyak teman sejati yang memiliki tingkat hubungan kekeluargaan tinggi serta prestasi. Dan tidak lupa sambil ngecengin si Suiti tentunya. He he he.

Salam olah raga dan tetap jaga emosi.

Posted in Berita | Leave a Comment »

STATEMENT RELEASE TAUFIK HIDAYAT

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on February 1, 2009


(Jakarta, 30 Januari 2009) dirilis dari http://sports.groups.yahoo.com/group/badminton-indonesia/

12 Tahun sudah saya mengalami berlatih, bermain, dan hidup di kompleks bulutangkis tercinta, Cipayung. Selama kurun waktu itu pula PB PBSI memberikan saya kesempatan untuk berbagi suka dan duka, merasakan kekalahan serta kemenangan. PB PBSI sebagai induk organisasi bulutangkis tertinggi di Indonesia telah mengajarkan saya banyak hal; tentang solidaritas, tentang jiwa besar, tentang kemandirian, tentang menyikapi baik dan buruk, serta yang paling utama adalah ajaran mengenai kebanggaan dengan harga diri yang tinggi saat memandang Bendera Merah Putih berkibar jauh di ujung tiang tertinggi, karena Menang adalah Sikap.

Solidaritas, kebersamaan dan ikatan batin yang terjalin antara saya dengan lingkungan di Pelatnas sangat tinggi. Kami berbagi banyak hal dan bermacam peristiwa kekalahan dan kemenangan. Setelah 12 tahun berada di Pelatnas, pada akhirnya semuanya sudah tidak terasa seperti hubungan pekerjaan, namun lebih seperti sebuah keluarga besar.

Untuk meninggalkan keluarga saya di Cipayung bukan hal yang mudah. Akan tetapi dengan maksud untuk mendorong regenerasi atlit yang berada dalam lingkup PB PBSI, Maka saya mengambil keputusan untuk bermain sendiridi luar naungan PB PBSI. Dengan harapan akan terciptanya estafet supremasi dan dapat mendorong “beban” akselerasi prestasi junior-junior saya. Mereka juga berhak mendapatkan kepercayaan untuk menjadi tumpuan harapan, seperti yang juga pernah saya alami. Saya harapkan bahwa dengan tanggung jawab yang lebih besar, mereka akan lebih termotivasi untuk menjadi yang terbaik.

Apabila dilihat dari umur dan pencapaian yang telah saya hasilkan selama ini, mungkin ini merupakan saat yang tepat bagi saya untuk bermain sendiri di luar Pelatnas. Rencana yang sudah menjadi wacana ini pada akhirnya dapat terwujud pada saat kredibilitas karir saya masih terbilang bagus. Hal ini mengingat pengalaman para senior, yang pada akhirnya dikondisikan untuk mengundurkan diri saat prestasinya pudar atau cidera. Hal ini membuat saya harus berpikir positif dan efektif untuk masa depan saya dan keluarga.

Namun demikian, tidak dapat dipungkiri fakta bahwa Saya menjadi Saya sekarang ini juga berkat dukungan PB PBSI. Terima Kasih yang tiada habisnya saya haturkan kepada PB PBSI beserta seluruh jajarannya, yang selama ini telah menjadi salah satu bagian terbesar dalam perjalanan hidup saya.

Dimanapun saya berada, saya akan berjuang demi harkat dan martabat Indonesia, karena Saya percaya, bahwa bukan “Dimana” saya berjuang, tetapi untuk “Siapa” saya tetap berjuang akan selalu seiring dengan misi dari PB PBSI sendiri, yaitu bagi Negara Indonesia.

Untukmu Indonesiaku,

Taufik Hidayat

Posted in Berita | Leave a Comment »

KALENDER KEJUARAAN PBSI 2009

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on February 1, 2009


Kalender Kejuaraan PBSI 2009 mungkin sudah ada yg tau, tapi sekedar mengingatkan mudah-mudah para pelatih dan atlitnya mempersiapkan diri semaksimal mungkin untuk kejuaraan tersebut.

kalender-1

Posted in Kejuaraan | Leave a Comment »

JADWAL TAYANGAN LIVE BADMINTON SUPER SERIES 2009

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on February 1, 2009


jadwal1

Posted in Kejuaraan | 23 Comments »

ARDY B WIRANATA : Bola Kukejar ke Mana Pun Menuju

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on February 1, 2009


Ardy Bernardus Wiranata, sering disebut dengan nama Ardi B.W. (lahir di Jakarta, 10 Februari 1970; umur 38 tahun) adalah pemain bulutangkis Indonesia di era tahun 1990-an, juara Indonesia Terbuka 6 kali dan peraih Medali Perak Olimpiade Barcelona 1992. Ia adalah salah satu pebulutangkis terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.

Ardy meraih Medali Perak di Olimpiade Barcelona 1992 setelah di final kalah dari Alan Budikusuma yang juga pemain Indonesia. Ia merupakan atlet berprestasi hasil binaan PB Djarum an pertandingan Ardy B. Wiranata melawan musuh-musuhnya adalah menyaksikan adu stamina. Ardy akan menyeret musuh ke dalam permainan-permainan panjang, hingga lawan tak kuasa lagi mengeluarkan senjata andalannya. Energinya terkuras habis meladeni stamina Ardy yang luar biasa. Dan itulah senjata andalan Ardy Bernadus Wiranata yang mengantarkanya ke tangga juara.

Permainan Ardy, panggilan akrabnya, sebenarnya belum begitu menarik ketika usianya belum mencapai 20 tahun. Baru setelah itu, permainan bungsu dari empat anak-anak keluarga Leo Wiranata dan Paula Maria Suryani ini membuat penonton bergembira. Semangat juangnya luar biasa tinggi, bola pun senantiasa dikejar ke mana pun melaju. Jatuh bangun menjadi pemandangan biasa bila Ardy sedang bermain. Luka-luka kecil juga bukan hal aneh pada Ardy. Ardy memang mengembangkan permainan bertahan yang membuat lawan kehabisan nafas. Ardy pun mampu menekan terus-menerus sampai lawan terjungkal. Ini tidak lain berkat stamina dan power yang tinggi yang dimilikinya.

Ardy mulai senang pada bulutangkis ketika suatu saat menonton pertandingan 17 Agustus-an bersama kedua orang tua dan saudara-saudaranya yang lain. Sang ayah kemudian membawa Ardy ke pelatnas bulutangkis di Hall C Senayan. Dari sanalah Ardy kemudia mulai mengayun raket. Ayahnya memasukannya ke klub yang juga dibinanya, PG 16. Kemudian ketika mulai bersinar Ardy dimasukan ke klub yang pembinaannya lebih terarah, yaitu PB Djarum.

ardy

Beberapa prestasi yang pernah diraih lelaki kelahiran Jakarta, 10 Februari 1970 ini adalah, pemegang rekor juara Tunggal Putra turnamen Indonesia Open sebanyak enam kali berturut-turut. Prestasi lainnya adalah, juara dunia Tunggal Junior Bimantara 1987, juara China Open 1993, medali perak Olimpiade Bercelona, juara Jepang Open 1991, 1992, dan 1994. Kemudian juara All-England 1991, juara Piala dunia 1991, anggota tim Piala Thomas 1988, 1990, 1992, dan 1994; juara Korea Open, juara Taiwan Open, runner-up All-England, runner-up World Championship 1989, juara China Open, semifinalis World Championship, semifinalis All-England.

Kini, ayah dari Shawn Wiranata ini menjadi kepala pelatih bulutangkis nasional di Kanada. Hal ini terungkap dari peberitaan situs resmi Federasi Badminton Internasional (WBF). Situs itu memberikan judul yang cukup fantastis soal Ardy, “Badminton Legend Now Canadian Coach.” (Legenda bulutangkis yang kini menjadi pelatih orang-orang Kanada –red)

Ardy yang akhirnya mundur dari tim nasional Indonesia, pergi dengan meninggalkan jejak prestasi yang gemilang. Sebagai pemain Tunggal Putra dengan segudang prestasi, dan kini ia nangkring di Amerika Serikat menjadi kepala pelatih tim negeri itu untuk tiga musim.

ardy_bw

“Sesuatu yang besar berada di Kanada,” kata Ardy. Lalu ia melanjutkan, “Ini merupakan peluang tentunya, negara ini sebenarnya memiliki tim yang bagus. Sesuatu dapat dibangun di sini sebab para pemain tampak ingin melakukan sesuatu yang baik,” katanya. Bulutangkis Kanada cukup disegani di zona Pan Amerika. Sayang, para pemainnya kurang mendapat pengalaman internasional dan kompetisi dengan negara-negara kuat di Eropa dan Asia. “Mereka harus banyak bertanding di turnamen internasional dan berlatih sebaik mungkin,” kata Ardy.

Demikianlah perjalanan Sang Legenda hidup kita. Ia besar di atas Tanah Air bulutangkis. Di lapangan ia adalah seorang pejuang yang gigih mengejar laju bola agar tak jatuh, di kehidupan ia adalah pejuang yang bijak mengikuti putaran roda kehidupan, yang bernama keluarga. Sungguh sebuah jejak baik yang layak untuk kita teladani.

Beberapa Prestasi Ardy B Wiranata :

(dikutip dari http://www.pbdjarum.com dengan beberapa penambahan)

Posted in Tokoh | Leave a Comment »

SUSI SUSANTI : Emas Pertama Olimpiade bagi Indonesia

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on February 1, 2009


Nama:
Lucia Francisca Susi Susanti
Lahir:
Tasikmalaya, Jawa Barat, 11 Februari 1971
Menikah:
9 Februari 1997
Suami:
Alan Budikusuma
Anak:
– Lourencia Averina (1999)
– Albertus Edward (2000)
– Sebastianus Frederick (2003)
Prestasi:
– Hall of Fame dari International Badminton Federation (IBF), Mei 2004
– Herbert Scheele Trophy, 2002
– Juara All England (1990, 1991, 1993, 1994)
– Juara dunia (1993)
– Juara Seri Grand Prix di Bali, 1990
– Tiga kali juara di Jepang Terbuka
– Juara Olimpiade Barcelona 1992
– Juara berbagai kejuaraan seri grand prix dan Piala Dunia

Masa keemasannya yang berlangsung cukup panjang, berpuncak pada juara tunggal putri bulutangkis Olimpiade Barcelona, Spanyol (1992). Dia peraih emas pertama Indonesia di Olimpiade. Ketika itu Alan, pacarnya, juga juara di tunggal putra sehingga media asing menjuluki mereka sebagai “Pengantin Olimpiade”. Predikat pengantin ini rupanya terus melekat, terbukti saat mereka dipercaya menjadi pembawa obor Olimpiade Athena 2004.

Prestasi yang mengharumkan nama bangsa juga diukir oleh Susi dengan meraih sederetan kejuaraan. Dia menjuarai All England empat kali (1990, 1991, 1993, 1994). Sang juara yang punya semangat pantang menyerah ini selalu menjadi ujung tombak tim Piala Sudirman dan Piala Uber. Juga juara dunia (1993) dan puluhan gelar seri grand prix.

Kiprah Susi Susanti di dunia olahraga bulutangkis Indonesia memang luar biasa. Dalam setiap pertandingan, ia menunjukkan sikap tenang bahkan terlihat tanpa emosi di saat-saat angka penentuan. Semangatnya yang pantang menyerah meski angkanya tertinggal jauh dari lawan membuat banyak pendukungnya menaruh percaya bahwa Susi pasti menang.

Berkat kegigihan dan ketekunannya, perempuan kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, 11 Februari 1971 ini turut menyumbang sukses tahun 1989 ketika Piala Sudirman direbut tim Indonesia untuk pertama kalinya dan sampai sekarang belum lagi berulang. Dia pun turut menorehkan sukses saat merebut Piala Uber tahun 1994 dan 1996 setelah piala itu absen lama dari Indonesia.

Semenjak SD, Susi sudah suka bermain bulutangkis. Kebetulan orang tuanya juga sangat mendukung dan memberinya kebebasan untuk menjadi atlit bulutangkis. Setelah menang kejuaraan junior, ia pindah dari Tasikmalaya ke Jakarta. Meski saat itu ia masih duduk di bangku 2 SMP, ia sudah mulai berpikir untuk serius di dunia bulutangkis.

Kegiatan Susi berbeda dengan remaja lain karena ia tinggal di asrama dan bersekolah di sekolah khusus untuk atlit. Ia mengaku menjadi kuper karena hanya berteman dengan sesama atlit. Bahkan pacaran pun dengan atlit.

Sebagai atlit, jadwal latihannya sangat padat. Enam hari dalam seminggu, Senin – Sabtu dari jam 7 sampai jam 11 pagi, lalu disambung lagi jam 3 sore sampai jam 7 malam. Makan, jam tidur, dan pakaian juga ada aturannya tersendiri. Ia tidak diperbolehkan memakai sepatu dengan hak tinggi agar kakinya terhindar dari kemungkinan keseleo. Jalan-jalan ke mal pun hanya bisa dilakukannya pada hari Minggu. Itu pun jarang karena ia sudah terlalu capek latihan.

Memang tidak ada pilihan lain, ia harus disiplin dan berkonsentrasi untuk menjadi juara. Ia akhirnya menyadari bahwa untuk meraih prestasi memang perlu perjuangan dan pengorbanan. “Kalau mau santai dan senang-senang terus, mana mungkin cita-cita saya untuk jadi juara bulutangkis tercapai? Sekarang rasanya puas banget melihat pengorbanan saya ada hasilnya. Ternyata benar juga kata pepatah: Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian,” kata Susi mengenang.

Ketika masih menjadi pemain, Susi berusaha menjadikan dirinya sebagai contoh bagi para pemain lainnya. Ia sangat berdisiplin dengan waktu saat berlatih atau di luar latihan. Sementara di lapangan ia memperlihatkan semangat pantang menyerah sebelum pertandingan berakhir. “Saya hanya berharap teman-teman pemain mengikuti yang baik-baik dari saya,” kata Susi.

Nyatanya, cara ini tidak melulu berhasil. Sepeninggal Susi (dan Mia Audina), sektor putri bulutangkis Indonesia mandek. Piala Uber semakin jauh dan puncaknya, tidak satu pun pemain tunggal puteri Indonesia lolos ke Olimpiade Athena 2004.

Susi yang telah mundur mengakui merosotnya prestasi karena memang kekurangan bibit pemain unggul. “Kita bisa saja memberi prasayarat pemain untuk berhasil, tetapi kalau bibitnya tidak ada bagaimana?” Susi melihat popularitas bulutangkis semakin merosot sementara proses seleksi melalui kejuaraan antarklub dan daerah semakin sedikit.

susi_susanti

susi

. .

…..

Merasa Sedih
Susi merasa sedih karena olahraga bulutangkis tidak lagi dipandang antusias oleh masyarakat. Ia mengingat betapa antusiasnya masyarakat menyambut kejuaraan bulutangkis seperti All England. Susi melihat hal ini disebabkan karena perhatian anak-anak muda masa kini lebih ke hiburan. Belum lagi maraknya kasus penyalahgunaan obat terlarang, seperti shabu dan narkotika. Masyarakat juga lebih banyak membaca, mendengar, menyaksikan berita kekalahan pebulutangkis Indonesia lewat media massa.

Itu tentu berbeda dengan era Tan Joe Hok cs, Liem Swie King, hingga Ardy B Wiranata cs yang banjir mahkota juara.
Keadaan semakin rumit karena orang takut serius terjun di dunia olahraga Indonesia karena tidak jelasnya jaminan akan masa depan. Susi sendiri sudah berniat tidak akan mengijinkan anaknya terjun ke dunia olahraga mengingat pengalamannya dulu. Ia melihat banyak rekannya yang pernah menjadi juara SEA Games, Asian Games, namun hidupnya terkatung-katung.
Selain itu, menjadi atlet olahraga membutuhkan banyak resiko misalnya sekolah yang terhenti, padahal olahraga yang ditekuni tidak mendapat perhatian dan dukungan dari pemerintah. Susi sendiri terpaksa mengorbankan sekolah (hanya sampai SMA). Ia pun menghadapi banyak halangan sebab ada pihak-pihak dari organisasi yang tidak menyukainya. Meski ia berprestasi namun kemudian berhenti, dari situlah ia mendapat pengalaman bahwa bulutangkis belum bisa menjamin masa depannya.
Ia berharap bagi para atet berprestasi yang sudah tidak bermain diberikan dana pensiun yang memadai. Ia khawatir kalau persoalan masa depan atlet belum terpecahkan atau tidak ada jaminan dari pemerintah, bibit-bibit potensial atlet akan sulit ditemukan karena mereka akan memilih jalur pendidikan. “Saya harap PBSI dan KONI memerhatikan persoalan ini. Kalau ini dibiarkan terus, hasilnya akan seperti sekarang ini,” ujarnya.
Ia menyesalkan masalah pembinaan yang membuat olahraga semakin terpuruk. Selama ini, hanya kesadaran dari

keluarga masing-masing yang ingin anaknya menjadi pemain bukan karena pemerintah ingin memajukan olahraga. Pemerintah dan PBSI hanya menunggu, bukan membina dari daerah, memantau, mencari yang berbakat, baru diambil. Mereka hanya terima jadi saja. Ia beranggapan, semua orangtua saat ini akan seratus kali berpikir untuk membiarkan anaknya menjadi atlet.
Susi mengaku mempunyai pengalaman yang mengecewakan terutama dalam organisasi. Ketika ia dan Alan berprestasi, ada pihak-pihak tertentu yang tidak senang. Mereka berusaha membagi bonus kepada Susi dan Alan dengan asumsi mereka berdua dianggap satu orang. Hal ini menunjukkan sikap tidak profesional pemerintah maupun PBSI yang mempunyai kepentingan-kepentingan tertentu.
Dari segi organisasi internal, Susi berharap agar orang-orang yang terlibat di PBSI (Persatuan Bulutangkis seluruh Indonesia) adalah orang yang benar-benar ingin memajukan perbulutangkisan, bukan untuk kepentingan pribadi.
Melihat keadaan dunia olahraga yang belum menjanjikan bagi para atlit, Susi belajar dari pengalaman kakak-kakak seniornya. Susi belajar me-manage keuangannya. Saat ia meraih berbagai prestasi dan hadiah seperti bonus, ia usahakan untuk diinvestasikan ke dalam bentuk tanah, rumah atau tabungan. Ia tahu bahwa prestasi olahragawan itu singkat dan tidak selamanya berada di atas.

Kedua orang tuanya pun sering berpesan agar ia tidak sombong dan hidup sederhana. Susi juga banyak mendapat masukan dari Ir. Ciputra, seorang pengusaha sukses yang dulu merupakan pimpinannya di Klub Bulutangkis Jaya Raya, agar mempergunakan waktu sebaik mungkin dan giat berprestasi sebisa mungkin.

susi-alan

Mulai dari Nol
Ketika berhenti dari dunia bulutangkis, Susi harus memulai dari nol lagi. Meski ada modal dari pendapatan saat aktif di bulutangkis, Susi masih harus belajar dan bersabar mencari usaha apa yang akan ia jalankan. Suaminya, Alan Budikusuma, berulang kali mencoba berbagai jalan untuk menghidupi keluarga mulai dari jual beli mobil, dibantu menjadi rekanan di sebuah instansi, belajar menjadi agen Gozen (alat olahraga bikinan Malaysia) dan menjadi pelatih di Pelatnas. Itu semua menjadi bukti bahwa bahwa setelah tidak berprestasi, mereka berdua harus memulai lagi dari nol.

Untunglah, Susi dan Alan mendapat dukungan dari orang-orang yang terdekatnya. Sedikit demi sedikit mereka belajar menimba pengalaman dan pengetahuan. Baru sekitar satu setengah tahun, mereka bisa berdiri sendiri dan mempunyai keyakinan membuat usaha sendiri.

Sebagai ibu rumah tangga yang mengasuh tiga orang anak, anak pertama perempuan bernama Lourencia Averina, sedangkan yang kedua dan ketiga adalah lelaki; Albertus Edward dan Sebastianus Frederick, Susi juga ingin ikut membantu keluarga. Bila anak-anaknya sekolah, ia ingin mempunyai kesibukan tetapi tidak menyita waktu untuk keluarga.

Oleh karena itu, ia membuka toko di ITC Mega Grosir Cempaka Mas dengan nama D&V dari nama kedua anaknya, Edward dan Verin. Ia menjual baju-baju dari Cina, Hongkong, dan Korea, dan sebagian produk lokal.

Sebagai mantan atlit bulutangkis, peraih penghargaan tertinggi bulutangkis dari International Badminton Federation (IBF) ‘Hall of Fame’ 2004 ini tetap peduli dengan dunia yang pernah membesarkannya ini. Bersama suaminya, Alan Budi Kusuma – peraih medali emas Olimpiade 1992 pula – ia mendirikan Olympic Badminton Hall di Kelapa Gading. Di gedung pusat pelatihan bulutangkis ini, Susi berharap akan muncul bibit pemain yang akan mengembalikan kejayaan bulutangkis Indonesia.

Selain itu, pada pertengahan tahun 2002, Susi dan Alan membuat raket dengan merek sendiri yaitu Astec, Alan-Susi Technology. Meski pabriknya ada di Taiwan, tetapi senar yang digunakan adalah senar Jepang. Cara pembuatan dan sebagainya, dikontrol oleh mereka sendiri. Pada awalnya mereka mencoba produknya ke teman-teman mereka untuk mencari tahu produk mana yang paling bisa diterima. Baru setelah itu, produk dipasarkan.

Saat yang tak terlupakan bagi Susi adalah saat ia berhasil menyumbangkan emas Olimpiade yang pertama bagi Indonesia di Barcelona (Olimpiade Barcelona 1992) bersama Alan Budikusuma yang juga mendapatkan emas. Sedangkan yang paling mengesalkan baginya adalah saat ia kalah hanya satu poin dari Sarwendah (Kusumawardhani) di final Piala Dunia di Jakarta.

Kini pasangan yang menikah pada 9 Februari 1997 ini tinggal di rumah mereka nan tenang di Gading Kirana Timur I Blok B2 No. 28, Komplek Gading Kirana, Jakarta Utara. Di komplek perumahan ini Susi dan Alan masih rutin main bulutangkis. ► e-ti/atur

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

susi-manager

Langganan Juara setelah Tangan Dipegang Nenek Misterius

Turnamen bulutangkis All England meninggalkan kesan mendalam bagi Susi Susanti. Bagi peraih emas tunggal wanita Olimpiade Barcelona itu, All England sangat berarti dalam perjalanan karirnya.

Karir bulutangkis Susi Susanti berhenti sejak 1997, bertepatan dengan kehamilan anak pertama. Nama Susi kembali beredar setelah PB PBSI menunjuknya menjadi manajer Tim Uber Indonesia.

Semasa menjadi pemain, sosok Susi sangat melegenda di peta persaingan tunggal wanita. Seabrek gelar dikoleksi istri Alan Budikusuma tersebut. Di turnamen All England, Susi empat kali tampil di podium juara tungal wanita edisi 1990, 1991, 1993, dan 1994.

”Dalam dua tahun pertama keikutsertaan saya di All England, ada kisah yang tak bisa dilupakan hingga saat ini,” kenang ibu tiga anak itu.

Pada 1988, kali pertama Susi mengikuti All England. Sayang, dalam kiprah perdana di turnamen bulutangkis tertua tersebut, dia belum berhasil menuai gelar juara. ”Saya sedih dan menangis waktu itu. Lantas, saya lari ke gereja terdekat yang kebetulan sedang menggelar komuni,” beber wanita kelahiran Tasikmalaya, 11 Februari 1971 tersebut.

Biasanya dalam acara tersebut, masing-masing pendoa, termasuk Susi, hanya dijatah satu roti dari pendeta yang memimpin komuni. Namun, entah kenapa Susi mendapatkan dua roti sekaligus. ”Saya juga kaget, biasanya hanya diberi satu-satu. Tetapi, kok waktu itu saya dapat dua. Kalau sudah menerima, harus dimakan, tidak boleh dikembalikan,” tutur pencetak enam kali juara final Grand Prix itu.

Tak dinyana, setahun kemudian, Susi kembali lagi ke All England. Meski belum menuai predikat juara, Susi mampu melaju ke final dan dikandaskan andalan Tiongkok Li Lingwei. Nah, pada 1989 itu, Susi memiliki cerita menarik. Dia bertemu dengan wanita lanjut usia sesaat setelah kontingen Indonesia tiba di London.

Kala itu, pertandingan masih dihelat di Wembley Arena, London. ”Kebetulan, kami bertiga, Koh Tong (Tong Sin Fu, pelatih Indonesia), Sarwendah, dan saya cari makan di McDonald’s yang lokasinya dekat dengan hotel,” ucap Susi memulai cerita.

Rasa lapar sangat mengganggu karena cuaca bersalju dan dingin sekali. Usai makan dan kembali ke hotel, mereka dicegat seorang nenek yang menanti belas kasihan di pinggir jalan. Tong pun meminta anak asuhnya itu untuk memberikan uang receh kepada nenek tersebut. Namun, nenek itu tak mau menerima lebih dari 1 pounsdterling.

”Saya ingin sekali memberinya 5 pounsdterling. Dia nggak mau terima. Eh, tangan saya dipegang. Saya kaget dan ada rasa takut juga. Kok, nenek itu tangannya hangat, padahal salju mulai turun dan dingin sekali,” bebernya.

Rasa kaget itu membuat Susi lebih ingin memperhatikan raut muka sang nenek. Dia tak peduli meski rekan-rekannya telah meninggalkannya dan kembali ke hotel. Entah kenapa, Susi ingin meneteskan air mata karena terharu. Dia pun berlari ke hotel untuk mencari Alan Budikusuma yang sudah menjadi kekasihnya selama dua tahun.

Dengan tersengal-sengal, Susi menyampaikan keinginan agar Alan mau mendatangi nenek misterius tersebut dan memberikan lebih banyak uang. Sayang, usaha Alan sia-sia. Sesampainya di tempat itu, Alan tak lagi menemukan nenek tersebut. ”Mungkin orang lain menganggap itu hal biasa. Tetapi setelah itu, tangan saya benar-benar membuahkan prestasi,” akunya.

Semua itu, lanjut dia, berkah sang pencipta yang memberikan kekuatan kepadanya untuk menorehkan sejarah indah bagi Indonesia. Kenangan di lapangan tentu lebih indah. ”Wembley Arena sangat megah. Penontonnya sangat santun dalam memberikan support,” ujarnya.

Sayang, setelah penampilan terakhirnya di All England pada 1997, Susi tak lagi sempat menengok turnamen tertua itu. ”Sudah kenyang dulu ke sana, sekarang membayangkan naik pesawatnya saja sudah malas,” katanya. (aww)

(jawapos.co.id)

Posted in Tokoh | 1 Comment »

RAHASIA TARIKAN SENAR

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on February 1, 2009


Rahasia tarikan senar-1
Pertama-tama anda harus menentukan jenis senar yang akan anda gunakan, simple-nya senar tebal untuk power player, senar tipis untuk control player. Trus, gimana anda tahu anda termasuk power player atau control player? Suruh teman anda mengamati saat anda lagi main. Jangan anda sendiri yang menentukan, mengapa? Karena kebanyakan mereka memikirkan apa yang mereka inginkan (cth: saya ingin jadi smasher ulung) dan bukan kenyataannya di lapangan (cth: kenyataannya jarang melakukan smash dan selalu drop shot melulu). Contoh beberapa senar untuk power player adalah bg-65, 95, 65ti, ashaway ML, R4×300, dll Contoh beberapa senar untuk control player adalah bg-66, 68ti, 85, asahaway MP, R4×100/200, gosen pro-66, dll.

Pedoman umum mengenai tarikan senar: Semakin kencang tarikan, power menurun (dalam batas tertentu), control meningkat Semakin longgar tarikan, power meningkat (dalam batas tertentu), control menurun Asumsi di atas berlaku di range tarikan 18 s/d 35 lbs (maksimum yg saya tahu sampai saat ini belum ada pemain pro yg lebih dari 35lbs). Apakah hal ini berarti 18 lbs memberikan power yang paling maksimal? Jawabnya tidak, maksimal power tiap pemain berbeda-beda. Semakin tinggi kekuatan ayunan pukulannya, maksimal power diperoleh dari tarikan yang lebih tinggi (dalam batas tertentu). Batas tertentu inilah yang menjadi pencarian para pemain terutama pemain pemula. Itulah sebabnya saya bilang tarikan senar tiap pemain tidaklah sama, dan salah satunya tergantung dari kekuatan ayunan pukulan.

Rahasia tarikan senar-2
Hal ini khusus buat yang awam mengenai tarikan senar, karena yang pro udah ngerti mengenai yang beginian. Jadi dipraktekkan aja tanpa banyak pertanyaan, karena semakin anda bertanya, semakin anda jadi bingung sendiri. Ikuti langkah-langkah berikut:
1. Cari sparing partner 1 orang, main setengah lapangan single.
2. Anda harus berdiri di garis baseline paling belakang, pukul cock menggunakan 75% tenaga dengan teknik clear to baseline.
3. Lihat hasil akhirnya, apakah cock jatuh di antara 2 garis baseline? Ulangi selama kurang lebih 5-6 kali percobaan. Bila out berarti tarikan anda kurang tinggi, dan bila tidak sampai garis baseline depan berarti tarikan anda terlalu tinggi (alias ketinggian).
4. Sekarang anda lakukan hal yang sama tapi kali ini dengan kekuatan ayunan pukulan 100% tenaga.
5. Lihat hasil akhirnya, apakah cock jatuhnya out lebih dari 20 cm di belakang garis baseline? Ulangi selama 5-6 kali percobaan. Apabila tidak sampai out lebih dari 20cm, maka tarikan anda terlalu tinggi, dan harus dikurangi.
6. Jika hasil no. 3 dan 4 sudah sesuai dengan prosentase lebih dari 80% berarti anda sudah menemukan tarikan yang cocok buat anda. Setelah anda menemukan angka tarikan (string tension) yang ideal untuk anda, coba anda rasakan apakah ada peningkatan dalam permainan anda. Sekian dan semoga bermanfaat.

Prinsip Dasarnya adalah:
Tarikan Kencang = Semakin enak buat kontrol
Tarikan Rendah = Semakin Powerfull

Selamat mencoba….

Posted in Teknik dan Latihan Bulutangkis | 3 Comments »

RUDY HARTONO KURNIAWAN : Kunci Sukses ‘Berdoa’

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on February 1, 2009


Rudy Hartono Kurniawan
Nama:
Rudy Hartono Kurniawan
Lahir:
Surabaya, 18 Agustus 1949
Agama:
Kristen Protestan
Isteri:
Jane Anwar (Menikah 28 Agustus 1976)
Anak:
Christoper dan Christine
Ayah:
Zulkarnaen Kurniawan
Saudara Kandung:
Freddy Harsono, Diana Veronica, Jeanne Utami, Eliza Laksmi Dewi, Ferry Harianto, Tjosi Hartanto, dan Hauwtje Hariadi.
Pendidikan:
– SMA
– Sarjana Muda, Fakultas Ekonomi Trisakti Jakarta
Prestasi:
– Juara tunggal putra All England delapan kali (1968, 1969, 1970, 1971, 1972, 1973, 1974, dan 1976):
1968: Menang mengalahkan Tan Aik Huang (Malaysia)
1969: Menang mengalahkan Darmadi (Indonesia)
1970: Menang mengalahkan Svend Pri (Denmark)
1971: Menang mengalahkan Muljadi (Indonesia)
1972: Menang mengalahkan Svend Pri (Denmark)
1973: Menang mengalahkan Christian (Indonesia)
1974: Menang mengalahkan Punch Gunalan (Malaysia)
1975: Kalah dari Svend Pri (Denmark)
1976: Menang mengalahkan Liem Swie King (Indonesia)
1978: Kalah dari Liem Swie King (Indonesia)
– Juara bersama Tim Indonesia dalam Thomas Cup (1970, 1973, 1976 dan 1979)
– Juara Dunia, 1980
– Japan Open, 1981
– Ketua Bidang Pembinaan PB PBSI (1981-1985)
Kegiatan lain:
– Main dalam film Matinya Seorang Bidadari (1971) bersama Poppy Dharsono
– Pengusaha/agen peralatan olahraga (1984-sekarang)
Penghargaan:
– Olahragawan terbaik SIWO/PWI (1969 dan 1974)
– IBF Distinguished Service Award 1985
– IBF Herbert Scheele Trophy 1986 – penerima pertama
– Honorary Diploma 1987 dari the International Committee’s “Fair Play” Award
Alamat:
Taman Radio Dalam I/6, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Telp 714000, 714565
Sumber:
Dari berbagai sumber, khususnya badmintoncentral.com
Penampilan yang memukau dan smash yang mematikan dalam olahraga bulutangkis, membawa ia menjadi juara All England delapan kali dan bersama-sama dengan tim Indonesia memenangkan Thomas Cup pada 1970, 1973, 1976, dan 1979. Atas prestasi itu, nama pria yang suka berdoa saat bertanding ini diabadikan dalam Guiness Book of World Records pada 1982.


Rudy Hartono Kurniawan yang lahir dengan nama Nio Hap Liang pada 18 Agustus 1949, adalah anak ketiga dari keluarga Zulkarnaen Kurniawan. Dua kakak Rudy, Freddy Harsono dan Diana Veronica juga pemain olahraga bulutangkis kendati baru pada tingkat daerah.

Saudaranya yang lebih muda adalah Jeanne Utami, Eliza Laksmi Dewi, Ferry Harianto, Tjosi Hartanto, dan Hauwtje Hariadi. Beberapa adiknya pun ada yang menjadi pemain di tingkat daerah. Keluarga besar ini tinggal di Jalan Kaliasin 49, sekarang Jalan Basuki Rachmat, kawasan bisnis di Surabaya. Tempat tinggal ini juga menjadi tempat usaha jahit-menjahit. Bisnis mereka yang lain termasuk pemrosesan susu dekat Wanokromo.

Seperti anak-anak lainnya, Rudy kecil juga tertarik mengikuti berbagai macam olahraga di sekolah, khususnya atletik. Saat masih SD, ia suka berenang. SMP, ia suka bermain bola voli dan SMA, ia menjadi pemain sepakbola yang baik. Meski demikian, bulutangkis menjadi minatnya yang paling besar.

Saat usia 9 tahun, Rudy sudah menunjukkan bakatnya pada olahraga ini. Namun ayahnya, Zulkarnaen Kurniawan, baru menyadari bakatnya ini saat Rudy berusia 11 tahun. Ayahnya adalah pemain bulutangkis yang ikut bertanding di masa mudanya.

Sang ayah, pertama kali bergabung di Persatuan Bulutangkis Oke yang ia dirikan pada 1951. Pada 1964 organisasi ini dibubarkan dan ia pindah ke Surya Naga Group. Di sini, sang ayah diminta melatih pemain-pemain muda. Dalam melatih, Zulkarnaen menerapkan empat standar: kecepatan, olah nafas, konsistensi, dan agresivitas. Oleh karena standar itulah, ia sering melatih para pemain agar mahir juga di bidang olahraga atletik khususnya lari jarak pendek dan jauh, melompat, dan sebagainya.

Saat di Oke, Rudy untuk pertama kali memulai program latihannya yang disusun sedemikan rupa. Sebelumnya Rudy lebih banyak berlatih dengan turun ke jalan. Ia berlatih di jalan-jalan beraspal yang seringkali masih kasar dan penuh kerikil, di depan kantor PLN di Surabaya, sebelumnya bernama Jalan Gemblongan.

Ia ceritakan pengalamannya ini dalam buku Rajawali Dengan Jurus Padi (1986). Saat itu, Rudi berlatih hanya hari Minggu dari pagi hingga pukul 10.00. Dengan penuh percaya diri, Rudy mulai mengikuti kompetisi di Surabaya, dari kampung ke kampung dalam penerangan petromaks.

Setelah pindah ke Persatuan Bulutangkis Oke yang dimiliki ayahnya, latihannya menjadi lebih sistematis. Ia dilatih di sebuah gudang dekat jalur kereta api di PJKA Karangmenjangan. Ia berlatih di sana hingga malam karena ada lampu. Lantainya cukup baik dan dekat dari situ berkumpul para penjual makanan. Bila ia lapar, ia bisa pergi ke sana untuk makan dan minum.

Tidak lama kemudian ia bergabung dengan Rajawali group yang telah banyak menghasilkan pemain bulutangkis internasional. Ia merasa bisa memberikan yang terbaik saat berlatih di Rawali. Namun, setelah mendapat masukan dari ayahnya, ia mengakui bahwa kemampuan teknis dan taktisnya baru dibangun lebih baik setelah bergabung dengan Pusat Pelatihan Nasional untuk Thomas Cup di akhir 1965. Sebelumnya, di usia 15 tahun, Rudy mulai mengukir nama pada saat menjuarai Kejuaraan Nasional Yunior.

Setelah bergabung dengan Pusat Pelatihan Nasional untuk Thomas Cup, kemampuannya meningkat pesat. Ia menjadi bagian dari tim Thomas Cup yang menang pada 1967. Setahun kemudian, di usia 18 tahun ia meraih juara yang pertama di Kejuaraan All England mengalahkan pemain Malaysia Tan Aik Huang dengan skor 15-12 dan 15-9. Ia kemudian menjadi juara di tahun-tahun berikutnya hingga 1974.

Namun, nampaknya kedigdayaannya tidak berlangsung lama. Pada 1975, ia kalah dari Svend Pri. Tetapi, gelar juara All England ia rebut kembali pada 1976. Bersama tim Indonesia, Rudy menjuarai Thomas Cup pada 1970, 1973 dan 1976. Setelah absen selama dua tahun, Rudy tampil kembali pada Kejuaraan Dunia Bulutangkis II di Jakarta, 1980. Semula dimaksudkan sebagai pendamping, ternyata secara mengagumkan Rudy keluar sebagai juara. Berhadapan dengan Liem Swie King di final, pada usia 31 tahun Rudy membuktikan dirinya sebagai maestro yang tangguh.

Stuart Wyatt, presiden dari Asosiasi Bulutangkis Belanda berkata, “Tidak diragukan lagi, Rudy Hartono adalah pemain tunggal terbesar di jamannya. Ia handal dalam segala aspek permainan, kemampuannya, taktiknya, dan semangatnya.” Juara tujuh kali berturut-turut dan yang ke delapan (1968-1976) menjadi bukti akan hal itu.

Rekornya ini merupakah hasil dari kemampuannya yang luar biasa di bidang kecepatan dan kekuatan dalam bermain. Gerakannya nyaris menguasai seluruh area lantai permainan. Ia tahu kapan harus bermain reli atau bermain cepat. Sekali ia melancarkan serangan, lawannya nyaris tidak berkutik. Namanya sudah menjadi jaminan untuk menjadi pemenang, sebab ia hampir tidak pernah kalah. Meski ia sudah mengundurkan diri, banyak orang masih percaya bahwa ia masih bisa menjadi pemenang. Mungkin inilah alasan mengapa orang menjulukinya ‘Wonderboy’.

Kunci Sukses ‘Berdoa’
Banyak orang ingin tahu kunci keberhasilannya. Rudi menjawab, “Berdoa.” Dengan berdoa, Rudy memperkuat pikiran dan iman. Berdoa tidak hanya sebelum bertanding, tetapi juga selama bertanding. Itu melibatkan kata-kata atau ekspresi yang akan membangkitkan percaya diri dalam hati dan pikiran.

Untuk setiap poin yang ia peroleh selama bertanding, ia ucapkan terima kasih kepada Tuhan, “Terima kasih Tuhan untuk poin ini.” Dia terus berkata seperti itu hingga skor terakhir dan pertandingan berakhir. Ia mengatakan kebiasaannya ini dalam biografinya yang diedit oleh Alois A. Nugroho. Ia percaya bahwa manusia berusaha namun Tuhan yang memutuskan.

“Saya melakukan itu dalam semua pertandingan besar khususnya All England. Bagi saya ini adalah kenyataan. Kita berusaha tetapi Tuhan yang memutuskan. Saya juga percaya bahwa kalau kita kalah memang sudah ditentukan demikian, dan kalau kita menang, itu juga adalah kehendak Tuhan. Kalah adalah hal yang alami, karena sebagai manusia kita semua pernah mengalami kekalahan. Pemahaman ini akan melepaskan stress selama bertanding, mengurangi ketakutan, dan kegusaran, ” kata Rudy menjelaskan.

Pada tahun 1968 saat pertama kali tampil di All England ia ingin mengikuti jejak Tan Joe Hok. Pada 1969, ia ingin menjadi orang Indonesia pertama yang memenangkan Kejuaraan All England dua kali. Sementara pada 1970, ia ingin memenangkannya untuk ketiga kali. Sebab jika ia tetap mempertahankan sikap ini, ia akan bisa mempertahankan piala yang diraihnya. “Jadi, dalam setiap pertandingan All England, seolah-olah sudah menjadi kewajiban bagi saya untuk terus memecah rekor terus-menerus,” kata pria yang meninggalkan kuliahnya di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga demi bulutangkis ini.

Musuh terbesarnya adalah Svend Pri dari Denmark yang mempunyai kemampuan memberi kejutan dan membuat bingung lawan. Sementara Rudy memiliki taktiknya sendiri dengan cara bermain cepat. “Itulah yang saya lakukan dalam bertanding. Untuk menghadapi lawan seperti Svend Pri, Anda tidak bisa memberikan dia kesempatan. Satu kesalahan kecil dan kita berikan dia kesempatan untuk mengolah permainannya, Anda bisa tamat!”

Meski punya ‘taktik’ sedemikian rupa, Rudy tidak bisa menghalangi Svend Pri menjadi juara All England pada 1975. Dalam pertandingan yang ketat dan menegangkan, Svend Pri mengalahkan Rudy dalam dua set langsung, 15-11 dan 17-14.

“Saya akui permainan Pri memang bagus. Ia sudah mempersiapkan diri dengan baik. Sepuluh tahun ia bertanding untuk memenangkan All England dan akhirnya ia berhasil, ” kata Rudi tentang kemenangan yang diraih Svend Pri. Svend Pri dikenal sebagai pemain temperamental yang mempunyai smash mematikan. Prinsipnya dalam bermain adalah memenangkan set pertama, kalah dalam set kedua dan menang dalam set ketiga.

Pada pertandingan Thomas Cup 1973 di Istora Senayan, Jakarta, Svend Pri kembali mengalahkan Rudy. Tahun itu, Indonesia mengalahkan Denmark 8-1 dan meraih juara. Ironisnya, Rudy menjadi pemain satu-satunya yang kalah melawan Denmark. Bagi Rudy, itu menjadi kekalahan yang paling menyakitkan sepanjang karir bulutangkisnya.

Ia kemudian menyadari bahwa semua keberhasilannya adalah hasil dari usaha berbagai pihak termasuk para ahli pijat yang bergabung dalam tim Indonesia. Biasanya, otot lebih mudah ‘menyerah’ dalam udara dingin. Sedikit lelah akan membuat asam laktat berkumpul di sejumlah bagian dalam tubuh. Untuk memperlancarnya dalam sistem peredaran darah, pijat otot menjadi penting. Soetrisno, yang memijat Rudy dalam berbagai pertandingan menyatakan bahwa setelah bertanding para pemain harus dipijat. “Biasanya, Rudy akan tidur di malam hari setelah saya memijatnya,” Soetrisno mengakui.

Terlepas dari faktor teknis yang mempengaruhi setiap pertandingan, terkadang muncul faktor non teknis. Rudy kadang kurang siap. Itu terjadi saat ia harus memberikan pidato dalam bahasa Inggris sebagai juara All England. Untunglah, ia ‘diselamatkan’ oleh Ferry Sonnevillewho yang sudah mempersiapkan teksnya.

Rudy juga bisa gelisah bila ia harus menghadiri undangan makan malam. “Setiap kali saya harus menghadiri makan malam, saya akan ketakutan melihat berbagai jenis sendok di atas meja. Di situ ada sendok makan, sendok sup, sendok teh, pisau, dan garpu. Mengapa banyak sendok? Itu (ketakutan dalam undangan makan malam -red) hanya semakin mempersulit saya menjadi juara,” kata Rudy.

Masalah non teknis juga muncul saat ia tampil dalam film Matinya Seorang Bidadari (1971) bersama Poppy Dharsono arahan sutradara Wahyu Sihombing. Sebuah adegan dalam film itu menimbulkan kehebohan. “Saya menyesal tidak memberi waktu pada diri saya untuk berpikir tentang itu, walaupun awalnya saya berpikir itu bisa menjadi suatu perubahan (terlibat dalam film),” kata pecinta film ini.

Sebagai pendekar bulu tangkis, ia juga berambisi menaklukkan jago-jago Cina yang tidak pemah dihadapinya sewaktu Rudy masih jaya. Keinginannya bertarung itu terpenuhi dalam perebutan Piala Thomas 1982, ketika usianya telah menua. “Ketemu sekali saja saya kalah,” ujarnya tertawa.

Kiprahnya di arena bulutangkis semakin meredup setelah ia kalah dari pemain India, Prakash Padukone, dalam semifinal All England pada 1989. “Saya menyadari, saya mulai kewalahan bermain,” ujarnya. Meskipun demikian, dengan namanya yang terabadikan di Guiness Book of World Records pada 1982, ia tetap terlibat dalam olahraga yang ia tekuni semenjak kecil ini, di pinggir lapangan. Olahragawan terbaik SIWO/PWI (1969 dan 1974) ini menjadi Ketua Bidang Pembinaan PB PBSI dalam kurun waktu 1981-1985 di bawah kepengurusan Ferry Sonneville.

Sejak itu, ia memusatkan perhatian pada pembinaan pemain-pemain yang lebih muda, yang diharapkan dapat menggantikannya. Dari klub yang dipimpinnya, misalnya, lahir Eddy Kurniawan yang, kendati belum berprestasi secara stabil, mampu membunuh raksasa bulu tangkis Cina seperti Zao Jianghua atau Yang Yang. Pemain-pemain belasan tahun seperti Hargiono, Hermawan Susanto. atau Alan Budi Kusuma, juga banyak menerima sentuhan Rudy, untuk bisa tampil dalam kancah pertarungan dunia kelak.

Sewaktu masih menjadi pemain, hadiah uang, tanah, rumah, dan mobil, mengalir untuknya. Beberapa di antaranya berupa tanah dari DKI, sebuah rumah di Kebayoran, Tabanas Rp 5 juta dari Presiden Soeharto, dan mobil Toyota Corrola dari PT Astra, yang presdimya, William Soerjadjaja, masih paman Jane Anwar.

Dengan materi yang dimilikinya, ditunjang oleh hubungan yang luas dengan banyak pengusaha, dan hasil kuliahnya di Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti Jakarta, Rudy mengembangkan bisnis. Peternakan sapi perah di daerah Sukabumi adalah awal mulanya ia bergerak dalam bisnis susu. la juga bergerak dalam bisnis alat olahraga dengan mengageni merk Mikasa, Ascot, juga Yonex. Kemudian melalui Havilah Citra Footwear yang didirikan pada 1996, ia mengimpor berbagai macam pakaian olahraga.

Berkat nama besarnya di dunia bulutangkis, United Nations Development Programme (UNDP) menunjuk Rudy sebagai duta bangsa untuk Indonesia. UNDP adalah organisasi PBB yang berperang melawan kemiskinan dan berjuang meningkatkan standar hidup, dan mendukung para perempuan. Di mata UNDP, Rudy menjadi sosok terbaik sebagai duta kemanusiaan. Kiprahnya di dunia olahraga dan kerja kerasnya menjadi juara dunia menjadi teladan bagi generasi yang lebih muda. “Ia menjadi teladan,” kata Ravi Rajan, Resident Representative of UNDP in Indonesia (Gatra 8 November 1997).

Kini, Rudy tidak lagi mengayunkan raketnya di udara. Faktor usia dan kesehatan membuat ia tidak bisa melakukannya. Sebab sejak ia menjalani operasi jantung di Australia pada 1988, ia hanya bisa berolahraga dengan berjalan kaki di seputar kediamannya. Walaupun demikian, dedikasinya pada bulutangkis tidak pernah mati. ► e-ti/mlp

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

rudi-h

Rudy Hartono ”Asian Hero”

Jakarta, (Analisa) – Mantan juara dunia bulutangkis delapan kali, Rudy Hartono dinobatkan sebagai Pahlawan Asia (Asian Hero) oleh majalah TIME.

Sebuah penghargaan dari media yang cukup bergengsi di dunia internasional yang diberikan kepada Rudy berkat prestasinya di bulutangkis yang sangat konsisten yaitu juara All England delapan kali, tujuh di antaranya berturut-turut.

Selain itu ia juga merupakan tulang punggung Indonesia dalam merebut dan mempertahankan Piala Thomas. Prestasi itu menempatkan Rudy sebagai orang kedua Indonesia yang memperoleh penghargaan Pahlawan Asia setelah Bung Hatta pada tahun 1987.

Sebagai ungkapan rasa syukurnya atas penghargaan itu, Rudy Hartono semalam di Hotel Borobudur Jakarta menggelar acara syukuran dengan mengundang komunitas bulutangkis termasuk pengurus teras PB PBSI seperti Sutiyoso, Ferial Sofyan, Tan Joe Hok dan MF Siregar.

Dari kalangan mantan pemain pun hadir diantaranya adalah Christian Hadinata, Hendrawan, Imelda Wiguna, Retno Kustiah, Susi Susanti, Rosiana Tendean dan Lanny Tedjo.

Dalam sambutannya, mata Rudy berkaca-kaca, suaranya pun terdengar gemetar saat menjelaskan penghargaan yang diterimanya. Menjadi salah satu orang yang terpilih mendapat penghargaan membuatnya terharu. Apalagi disejajarkan dengan sejumlah tokoh di Asia.

”Sungguh saya terkejut, apalagi TIME tak banyak mengulas bulutangkis dalam rubrik olahraganya,” kata Rudy yang kini menjabat salah satu anggota Staf Khusus/Akhli PB PBSI ini.

Menurut dia, ternyata penghargaan itu berangkat dari penilaian majalah Time tentang prestasinya yang konsisten. Rudy memang legenda dalam dunia bulu tangkis.

Hingga kini belum ada yang mampu menyamainya sebagai juara All England 8 kali. Bahkan belum ada cabang olahraga lainnya yang mampu mencetak atlit sehebat Rudy.

”Apapun penghargaannya sangat saya hargai,” kata Rudy sembari menambahkan bahwa penghargaan dari TIME tentu lebih istimewa karena dia menjadi orang kedua setelah Bung Hatta yang mendapatkan penghargaan ini.

Rudy pun tak menampik bila syukuran yang dibuatnya ini sebagai tanda terima kasih kepada semua pihak yang berada dibalik upayanya meraih prestasi.

Diceritakan Rudy, perjuangannya untuk memperoleh gelar juara All England sampai delapan kali tidaklah mudah. Apalagi kondisi bangsa kala itu secara finansial kurang mendukung. Rudy masih ingat, untuk membeli pasta gigi harus dengan uang pribadi.

”Tapi waktu itu diberangkatkan ke luar negeri saja sudah bersyukur, apalagi ada ancaman tak akan diberangkatkan lagi jika tak berprestasi,” ujar Rudy.

Ayah dua anak ini kemudian menggambarkan kondisi sekarang yang sangat berbeda di mana pembiayaan lebih mudah. Tapi yang membuat Rudy sedih atlet sekarang malah terkesan manja. ”Sudah disuapi terkadang untuk menelan saja sangat susah,” kata Rudy.

Begitu juga dengan hadiah yang disediakan. Rudy tak bisa membayangkan bila berjaya dimasa sekarang. Dengan menjadi juara 8 kali All England bisa menjadi jutawan. ”Tapi saya tak menyesal karena saya sudah menjadi jutawan meski dalam bentuk penghargaan,” katanya.

Tatkala menerima penghargaan di Hongkong November 2006 lalu, Rudy mengaku sangat terharu. Ribuan pasang mata tertuju padanya. Padahal masa sekarang menjadi masa sulit bagi Indonesia ditengah isu yang tak menguntungkan.

Bahkan majalah TIME sendiri dalam ulasannya mencantumkan Indonesia identik dengan produsen polusi dan teroris. ”Penghargaan ini membuat saya bangga, setidaknya mengharumkan nama bangsa ini,” lanjutnya.

Pada kalimat terakhirnya, Rudy sangat berterima kasih pada ayahnya, Kurniawan. Pasalnya ayah Rudy yang mengarahkannya untuk konsen di bulutangkis. ”Saat saya muda saya bisa banyak olahraga, bulutangkis, renang dan bola,” kata Rudy.

Juara dunia 1980 ini mengaku ayahnya meminta untuk memilih salah satu. Ketika dipilihnya renang, sang ayah melarang karena saingannya nanti berat, mereka berpostur dua meter dan Rudy kurang dari itu.

Begitu juga bola, Rudy diminta untuk menghindarinya karena cabang olahraga sering diwarnai perkelahian secara keroyokan. ”Akhirnya saya pilih bulutangkis. Dari situ saya menilai bangsa Indonesia bisa unggul dan lebih berpeluang menjadi juara dunia di pertandingan perorangan, bukan beregu,” tutur Rudy. (gun/analisadaily.com)

Posted in Tokoh | Leave a Comment »

CHRISTIAN HADINATA : LEGENDA HIDUP BULUTANGKIS INDONESIA

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on February 1, 2009


christian_hadinata
Nama:
Christian Hadinata
Lahir:
Purwokerto, 11 Desember 2003
Istri:
Yoke Anwar
Anak:
Mario Hadinata (20 tahun)
Mariska Hadinata (19 tahun)

Prestasi:
1971
Juara nasional ganda putra berpasangan dengan Atik Jauhari
Juara Asia ganda campuran berpasangan dengan Retno Kustijah.
1972
Juara All England ganda putra berpasangan dengan Ade Chandra
1973
Juara All England ganda putra berpasangan dengan Ade Chandra
1978
Juara Asian Games ganda putra berpasangan dengan Ade Chandra
1979
Juara All England ganda campuran berpasangan dengan Imelda Wiguna
1980
Juara Dunia ganda putra berpasangan dengan Ade Chandra
Juara Dunia ganda campuran berpasangan dengan Imelda Wiguna
1981
Juara Jepang Terbuka ganda putra berpasangan dengan Lius Pongoh
1982
Juara Aian Games ganda campuran berpasangan dengan Ivana Lie
1983
Juara All England ganda putra berpasangan dengan Boby Ertanto
1984
Juara Indonesia Terbuka ganda putra berpasangan dengan Boby Ertanto
Juara Indonesia Terbuka ganda campuran berpasangan dengan Ivana Lie
1985
Juara Piala Dunia ganda campuran berpasangan dengan Ivana Lie
1972-1986
Memperkuat Tim Piala Thomas selama enam kali dengan berganti-ganti pasangan antara lain dengan Hadibowo dan Liem Swie King.

Aktivitas Olahraga:
Pemain bulutangkis Pelatnas (1971-1986)
Pelatih
Pengurus PBSI
Direktur Pelatnas PBSI

Nama Christian Hadinata layak menjadi simbol kekuatan bulutangkis Indonesia. Dia adalah legenda hidup yang berhasil mengukir prestasi internasional baik ketika menjadi pemain, pelatih, maupun saat ini sebagai pengurus Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia.

Lahir di Purwokerto, 11 Desember 1949, Christian tidak menyangka akan menjadi pebulutangkis andal. Waktu kecil, cita-citanya justru menjadi pemain sepakbola. Sebagai keluarga sederhana, Christian merasa bulutangkis adalah olahraga yang mahal. Untuk bermain diperlukan raket, senar, sepatu, dan suttlekock. Hal itu belum ditambah dengan biaya menyewa tempat latihan.

Sampai lulus SMA di Purwokerto, Christian belum tertarik dengan bulutangkis. Padahal, saat itu usianya sudah 16 tahun, usia yang cukup tua untuk memulai olahraga sebagai prestasi. Bandingkan misalnya dengan Michael Owen yang sejak balita sudah muali menendang bola dan sebelum menginjak 17 tahun sudah mulai debut sebagai pemain profesional bersama klub Liverpool. Atau, Wayne Rooney yang bergabung dalam klub Everton di usia 17 tahun telah dipercaya pelatih nasional kesebelasan Inggris Sven Goran Erricson untuk membela The Three Lions.

Setelah lulus SMA, Christian diajak kakak sulungnya tinggal di Bandung. Di sanalah ia dimodali sang kakak untuk bermain bulutangkis, dan ia pun masuk klub Mutiara. Suatu kali ia diajak kakak sulungnya itu ke Jembatan Semanggi (Jakarta) untuk melihat Stadion Senayan. Ketika ia ingin mendekat menuju Stadion itu, kakaknya bilang, “Sudah, dari jauh saja, nanti juga engkau akan ke sana.”

Prestasi emas Christian dicetak pertama kali tahun 1971 sebagai pemain ganda putra dan ganda campuran. Di ganda putra berpasangan dengan Atik Jauhari menjadi juara nasional. Sedangkan di ganda campuran menjadi juara Asia berpasangan dengan Retno Kustijah.

Selanjutnya, dengan bergabti-ganti pasangan, Christian dapat mencapai prestasi terbaik seperti dengan Ade Chandra, menjuarai Asian Games 1978, All England 1972 dan 1973, serta juara dunia 1980. Bersama Boby Ertanto juara di All England 1983 dan Indonesia Terbuka 1984. Dengan Lius Pongoh menang di Jepang Terbuka 1981. Berpasangan dengan Imelda Wiguna memenangi All England 1979 dan juara dunia 1980. Main bersama Ivana Lie berjaya di Asian Games 1982, Indonesia Terbuka 1984, dan Piala Dunia 1985. Sepanjang enam kali memperkuat Tim Piala Thomas (1972-1986), Christian bersama pasangannya (siapa pun dia) selalu merebut poin. Di ajang beregu itu Christian pernah berjodoh dengan Hadibowo dan Liem Swie King.

Pada tahun 1986 atau dalam usia 37 tahun Christian pensiun sebagai pemain. Usia 37 adalah usia yang cukup tua untuk ukuran atlet bulutangkis. Hanya atlet tertentu yang rajin menjaga penampilan saja mampu bertahan di usia setua itu.

Setelah gantung raket, Christian beralih menjadi pelatih. Ia ingin mewariskan “tradisinya”: “menjadi pemain terbaik” kepada anak-anak asuhnya. Dari tangannyalah lahir pasangan-pasangan Ricky Achmad Subagdja/Rexy Mainaky, Gunawan/Bambang Suprianto, dan Denny Kantono/Antonius. Christian juga ikut membentuk Candra Wijaya/Sigit Budiarto, Tony Gunawan/Halim Haryanto, yang dengan kombinasi pasangannya telah merebut emas di Olimpiade 2000 dan dua gelar juara dunia, tahun 1997 dan 2001, serta memberi fondasi yang kuat bagi pemain-pemain muda saat ini.

Kemenangan Tim Piala Thomas Indonesia bulan Mei 2002 di Guangzhou semakin lengkap saat Christian Hadinata melangkah ke podium kehormatan dalam upacara yang khusus digelar baginya. Komposisi Pomp and Circumstances March karya Edward William Elgar (1857-1934) yang mengalun terasa megah mengiringi penganugerahan Hall of Fame-penghargaan tertinggi di dunia bulu tangkis-oleh Presiden Federasi Bulu Tangkis Internasional (IBF), Korn Dabaransi.

Christian adalah orang Indonesia ketiga penerima penghargaan itu setelah Rudi Hartono dan Dick Sudirman. Atas penghargaan itu ia bersyukur pada Tuhan karena diberi berkat dan anugerah bisa bermain bulu tangkis. Itu adalah sebuah proses yang panjang, mulai dari menjadi atlet, pelatih, dan sekarang menjadi pengurus. Ia juga berterima kasih kepada PBSI yang sudah memberikan fasilitas kepadanya untuk menjadi atlet, pelatih, lalu menjadi pengurus. Semua itu merupakan tambahan motivasi yang mendorong dalam karirnya.

Meskipun telah mencapai prestasi tertinggi, baik sebagai pemain, pelatih, dan kini pengurus, Christian merasa belum belum sampai pada batas maksimal. Dari segi pribadi, ia merasa belum merasa “penuh” (fulfilled). Justru pada saat ini bulu tangkis dalam negeri cenderung dalam penurunan prestasi. Gambaran utuh prestasi itu bukan hanya supremasi di Piala Thomas. Piala Uber belum direbut, Piala Sudirman hanya sekali diraih yaitu di Jakarta tahun 1989. Masih ada gap antara pemain putra dan putri dengan kekuatan yang tidak merata. Ia sebagai bagian yang turut bertanggung jawab di pelatnas mengaku masih tidak puas atas pencapaian saat ini. Semuanya masih belum all out. Masih banyak lubang-lubang yang harus dibereskan.

Pribadi Christian dikenal sebagai sosok yang sederhana namun berkemauan keras dan tidak pernah puas. Itu yang membuatnya selalu memaksa diri selalu belajar. Belajar menjadi pelatih yang baik, belajar mengurus organisasi dengan benar, memikirkan konsep pembinaan bulu tangkis yang ideal, dan bahkan, belajar menghadapi wartawan dan menyampaikan pernyataan dengan lugas dan utuh sehingga tidak ada ruang bagi tumbuhnya spekulasi.

Proses belajar itu tidak selalu mulus. Terkadang, ia menemui benturan dan konflik dengan orang lain termasuk dengan pengurus dan pelatih di lingkungan Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI). Bila sudah begitu, ayah dua anak, Mario (20) dan Mariska Hadinata (19) dan suami Yoke Anwar, ini memilih berintrospeksi dan berusaha memperbaiki diri lebih dulu.

Kesederhanaan itu ditunjukkannya dengan lebih mengutamakan pengabdian dan mencetak prestasi ketimbang mencari penghasilan yang lebih menjanjikan secara finansial. Hal itu yang membuatnya dari dulu sampai sekarang tidak tergiur dengan iming-iming melatih di luar negeri. Ia merasa inilah saatnya mengembalikan sesuatu bagi bulu tangkis, bagi organisasi PBSI. Karena, melalui bulu tangkis ia bisa mendapatkan banyak hal. Pengalaman pergi ke luar negeri, menjadi juara, mendapat penghargaan, dan lain-lain. Lalu ia berpikir, “apa yang bisa saya berikan dalam batas-batas kemampuan saya ini”. Kalau berkiprah di luar negeri, ada rasa tidak nyaman di perasaannya. Ada yang mengatakan, kalau bekerja profesional tidak masalah mau bekerja di luar negeri atau di mana pun. Namun, menurut hematnya ada hal-hal lain di luar sekadar profesionalisme. Bisa saja bekerja hebat di Hongkong, di Malaysia, atau di mana pun. Namun semua itu adalah realitas semu baginya. Ketika Piala Thomas berhasil direbut, waktu Hendrawan menjadi juara dunia, perasaan itu sulit digambarkan. Kalau itu bukan bendera Merah Putih yang naik, lalu apa rasanya?

Meskipun tidak terlalu mengejar materi, namun tidak berarti hal itu tidak penting. Dengan jujur Christian mengaku materi itu penting juga buatnya. Namun, yang ia temukan di dunia bulutangkis itu lain. Ia mendapatkan penghargaan sosial dari masyarakat, dari lingkungan, yang semua itu susah diukur dengan materi. Ketika berjalan-jalan ada yang menyapa “O Pak Christian.”

Penghargaan sosial itu ditemukan dalam sebuah pengalaman Christian yang cukup mengharukan. Ketika itu kejuaraan nasional di Banjarmasin tahun 2000. Ada seorang ayah dengan dua anaknya, kembar. Ditilik dari pakaiannya, mereka itu keluarga yang amat sederhana. Mereka lalu mendatanginya. Boleh foto? Ayahnya bertanya. Katanya, “Biar bisa jadi juara seperti Om Chris”. Usia anaknya sekitar 7-8 tahun. Ia merasa sangat terharu. Ia juga sering mengalami hal-hal yang menyentuh seperti itu. Sekarang ini penghargaan di bulu tangkis sudah lumayan meskipun tidak bisa mengharapkan seperti di tenis profesional. Namun, sebagai profesi, harus lain (pendekatannya). Ia bisa saja membuka sekolah bulu tangkis dengan menarik bayaran. Dari segi tanggung jawab tidak berat karena murid-murid itu datang karena kemauan mereka sendiri. Hasilnya, bisa didapat secara lebih langsung. Tapi, secara moral ia belum bisa berbuat begitu.

Pilihannya berkarir di bulutangkis sempat membuatnya gamang, terutama apakah ia berani mengambil tanggung jawab penuh atau tidak. Sebab, risikonya sangat tinggi karena tradisi dunia bulutangkis Indonesia adalah prestasi. Tugas itu menjadi berat, karena siapa pun yang memegang bulutangkis harus bisa mencetak prestasi. Ia memang merasakan menjadi atlet yang beberapa kali meraih juara. Namun, apakah itu jaminan bisa mencetak pemain menjadi juara? Tuntutan seperti itu dianggap umum, hal biasa. Kalau pemainnya tidak bisa juara, artinya tidak bisa melatih. Namun ia berpikir bahwa dirinya harus mengembalikan sesuatu pada bulutangkis dan organisasi, tidak bisa kalau organisasi yang memberi, lalu ia lepas tangan. Ia tahu, tanggung jawabnya sangat berat.

Ketika pertama kali melatih, yang dilakukannya adalah mengumpulkan atlet-atlet yang akan dilatihnya. Pertama-tama ditanyakan apakah mereka bisa menerima dirinya, mau atau tidak didampinginya. Jawabannya harus jujur dan jangan karena ia sudah “punya nama”, namun sebenarnya dalam hati mereka tidak setuju atau tidak cocok. Christian paham bahwa hal ini kelihatannya sepele, namun sebenarnya itu adalah inti masalah. Mau enggak bekerja sama, jadi sama-sama bertanggung jawab. Setelah itu ia menjabarkan program dan target yang akan dicapai. Anak asuhnya bebas mengemukakan kritik dan saran atas latihan yang dilakukan. Bersama-sama mendesain program. Mereka menjadi juara dan ia berkarier sebagai pelatih. Demikian juga soal menentukan pasangan di ganda didesain bersama-sama, lalu diadakan evaluasi bersama-sama pula. Dengan cara-cara itu, bisa dikatakan sedikit sekali ada masalah yang timbul.

Sekian lama malang melintang di sektor ganda, jelas memiliki resep tertentu yang dipraktikkan di lapangan. Christian menyebutkan, resep sukses bermain di ganda iatu adalah jangan sekali-kali merasa pintar sendiri, merasa lebih bagus dari pasangan. Diakuinya, bagaimana tidak gondok dan mangkel kalau pasangannya melakukan kesalahan melulu. Atau, ada semacam konflik kecil dengan pasangan karena sifat pribadi yang berbeda.

Ia juga senantiasa berusaha menyesuaikan diri dengan pasangannya. Ia pernah berpasangan dengan Liem Swie King dan juga dengan Icuk Sugiarto. King bertipe menyerang, sementara Icuk tipe bertahan. Dengan King, saya hanya memancing-mancing dengan bola-bola lemah sehingga lawan terpaksa mengangkat bola. King yang mengeksekusi. Ia selalu bertanya, pasangan mau main bagaimana? Jangan pasangan yang harus nurut pada saya. Kalau Icuk bertahan, ya, ia angkat-angkat saja bola biar dipukul lawan. Untuk itu, yang penting adalah bisa mengalah. Jangan sok pinter, karena nanti malah kalah. Jika kalah, maka dua-duanya kalah.

Sebagai pelatih, tak jarang Christian menghadapi pasangan yang bermasalah. Kepada mereka, ia mengambil kebijakan memanggil sendiri-sendiri dulu. Mencari letak persoalannya. Baru setelah itu mengajak bicara kedua pemain bersama-sama. Cara ini cukup ampuh meskipun tidak selalu berhasil. Ada pertimbangan dari sisi nonteknis, namun sisi teknis juga harus dipertimbangkan.

Sektor tunggal dan ganda putra Indonesia secara umum mengalami regenarasi yang lumayan mulus. Hal ini berbeda dengan sektor tunggal dan ganda putri. Problem sebaliknya terjadi dengan Cina di mana sektor putri lebih berkembang sementara ganda putra justru sedikit tertinggal. Negara-negara lain pun mengalami hal yang sama secara umum, yaitu tidak semua sektor mengalami regenerasi secara mulus. Dengan kondisi yang demikian, maka persaingan di dunia bulutangkis menjadi terbuka. Sebab, secara umum tidak ada yang menonjol sekali perkembangannya. Tugasnya sebagai Direktur Pelatnas PBSI adalah menyiapkan atlet yang siap bertanding dan kembali mengukir tradisi emas.

Sebagai orang yang bertanggung jawab mencetak pemain handal, Christian tentu perlu inspirasi mengenai figur yang sukses menelorkan para juara. Menurutnya, yang dianggap hebat adalah mereka yang bukan bekas juara, tapi bisa mencetak juara. Ini luar biasa. Seperti Angelo Dundee yang mampu melahirkan petinju legendaris Muhammad Ali sampai ke Mike Tyson. Kok bisa-bisanya, padahal karakter pemain bermacam-macam. Lalu, ia juga mengidolakan pemain sepak bola Franz Beckenbauer. Ketika dia bermain, Jerman juara dan ketika dia menjadi pelatih, Jerman juara lagi. Luar biasa.

Kritiknya ditujukan kepada banyak mantan pemain bulu tangkis nasional, meskipun dilakukan dengan maksud tanpa mengurangi rasa hormat kepada mereka, yang sudah tidak bermain lagi malah meninggalkan begitu saja. Yang paling tidak enak dirasakannya adalah mereka memberi komentar dari luar yang menyudutkan dia dan teman-temannya yang di PBSI. Padahal, mencetak juara itu tidak semudah kelihatannya dari luar. Di sisi lain, sebagian dari pelatih di pelatnas bukan pemain-pemain berprestasi. Lihat saja nama-nama Herry Iman Pierngadi (pelatih ganda putra), Agus Dwi Santoso (pelatih tunggal), dan Richard Mainaky (pelatih ganda campuran).

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

christianchandra

cover-1

Posted in Tokoh | Leave a Comment »

 
%d bloggers like this: