SEJAHTERA BADMINTON

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

  • Meta

  • TIRTA SPORT ONLINE SHOP

    Promo Tirta
  • WIDE SCREEN FORMATED

    February 2009
    M T W T F S S
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    232425262728  
  • JADILAH PEMENANG

    Pemenang selalu memiliki program

    Pecundang selalu memiliki alasan

    Ketika pemenang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Saya melakukan kesalahan”

    Ketika pecundang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Itu bukan kesalahan saya”

    Pemenang membuat komitmen-komitmen

    Pecundang membuat janji-janji

    Pemenang memilih seperti yang ia ingin lakukan

    Pecundang memilih sesuai pilihan orang banyak

    Pemenang membuat sesuatu terjadi

    Pecundang membiarkan sesuatu terjadi

  • BWF

    bwf-logo1
  • Archives

  • Top Posts

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 5,029 other followers

Archive for February 15th, 2009

ALVENT YULIANTO : Suka Bulutangkis karena kalah PORSENI

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on February 15, 2009


Oleh: Ferry Irawan

alvent(Bulutangkis.com) – Enerjik, defensif dan penempatan bola-bola yang akurat merupakan ciri khas permainan Alvent Yulianto Chandra saat beraksi di lapangan. Penampilannya yang justru ‘cool’ di luar lapangan ternyata mampu memikat daya tarik tersendiri bagi sosok Alvent di mata para penggemarnya.

Sukses bertengger di satu dunia bersama Luluk Hadiyanto di pertengahan tahun 2004, prestasinya sempat ‘mandeg’ sampai akhirnya menembus babak final Malaysia SS 2009 bersama Hendra Aprida Gunawan.

Persiapan Minim, Mental Juara

Di awal tahun 2009, Alvent membuka peruntungan baru bersama partner lamanya, Hendra Aprida Gunawan (AG). Penampilan pemain ganda kelahiran Glenmore, 11 Juli 1980 ini kembali mencuat dan menjadi fenomenal setelah berhasil menjadi runner up turnamen Malaysia SS 2009 sebulan yang lalu. Bersama AG, meski tanpa pelatih dan sponsor plus persiapan selama dua bulan terakhir keduanya berhasil menjegal tandem terbaik dunia saat itu yang juga merupakan juara bertahan, Markis Kido/ Hendra Setiawan di laga semifinal meskipun di partai pamungkas Alvent/AG harus menyerah dari duo Korea, Jung Jae Sung/Lee Yong Dae.

“Meskipun ga ada pelatih dan kok, tapi dimaksimalin yang ada aja” jelas Alvent saat diwawancarai oleh Bulutangkis.com mengenai persiapannya di turnamen Malaysia SS dan Korea SS tahun ini. Bahkan Alvent sempat mengungkapkan bahwa persiapannya cukup minim sebelum akhirnya berani mendaftarkan diri bersama AG. “Saya berusaha untuk ga menyia-nyiakan waktu aja buat persiapannya” tambah Alvent kemudian.

“Saya sempat bersama AG sebelumnya dari tahun 2001-2002”, kenang Alvent. “Bahkan kita sempat mengikuti pertandingan selama setahun dari awal masuk Pelatnas” lanjutnya. Duo Alvent/AG saat itu mampu mencuat hingga 16 dunia, bahkan keduanya sempat menembus babak semifinal dan peremptfinal di beberapa turnamen besar sebelum akhirnya Alvent disandingkan bersama Luluk Hadiyanto di akhir tahun 2003. Prestasi terbaik bersama Luluk adalah menjadi pasangan terbaik dunia setelah menjuarai Indonesia Open 2004 dan mengalahkan ganda terbaik dunia saat itu, Fu Haifeng/ Cai Yun (China).

Taji LuVent akhirnya mulai pudar seiring berjalannya waktu dengan beberapa masalah beruntun yang mengikuti keduanya. Sempat berpijar sejenak di awal tahun 2008 saat duetnya bersama Luluk Hadiyanto ditundukkan oleh tandem terbaik China, Fu Haifeng/Cai Yun pada babak final Korea SS. LuVent harus mengelus dada karena harus pupus menjadi ganda ke-2 tim Thomas Indonesia 2008. Kesempatan untuk tampil maksimal saat berlaga di kandang sendiri, Indonesia Open SS 2008 ternyata juga tak mampu terealisasi.

Olimpiade 2008 yang dirancangkan akan menjadi ajang pembuktian eksistensi keduanya untuk mencari sponsor ternyata berakhir tidak sesuai dengan yang diharapkan. Di babak 16 besar, LuVent harus menyerah atas ganda Jepang, Shuichi Sakamoto/Shintaro Ikeda, 21-19, 14-21, 14-21. “Ga ada perasaan menyesal sama sekali”, ungkapnya saat ditanya perihal kekalahan waktu itu. “Semua pasti ada sebabnya”.

‘Dipaksa’ Main Bulutangkis

Kembali bernostalgia ke masa lalu, ternyata Alvent memiliki cerita unik seputar awal kecintaannya di dunia bulutangkis. “Lucu juga kalo diinget-inget”, kenang Alvent sembari tersenyum. “Saya sekolah di kampung, SD Inpres. Satu kelas juga isinya cuma 12 orang” tuturnya lirih. Namun meskipun jauh dari pusat kota, pria yang berasal dari desa Banyuwangi, Jember ini mengaku tidak pernah patah semangat. “Waktu itu saya kelas 5 SD, tiba-tiba ditunjuk guru untuk main bulutangkis di acara PORSENI”, akunya.

Sejak saat itu Alvent kecil yang juga pengidola jagoan sepakbola sekampungnya, Hendro Kartiko ini meminta bantuan sang Papa untuk melatihnya. “Padahal sebelumnya belum pernah main bulutangkis sama sekali. Papa saya juga bukan atlet” cerita Alvent. Walaupun akhirnya kalah, ketekunan Alvent membuatnya mampu menjadi juara PORSENI sewaktu duduk di bangku kelas 6. Bahkan tidak beberapa lama kemudian Alvent sudah mampu menjadi juara 3 se-Jawa Timur.

Akhirnya beranjak dari sana beberapa klub langsung mengajaknya untuk bergabung dan serius menekuni bulutangkis. Alvent pun akhirnya memilih untuk berlatih di klub Jawa Pos. Namun sayangnya klub yang banyak melahirkan nama-nama besar di Jember inipun akhirnya mengalami kebangkrutan. “Latihannya bagus. Cuma sayangnya Jawa Pos udah ga mau kasih dana lagi, jadi ya bubar,” tutur Alvent perihal kepailitan yang dialami klubnya. Tepat di tahun 1995, Alvent akhirnya memutuskan untuk hijrah ke Surabaya dan bergabung dengan Suryanaga.

Enam tahun di Suryanaga, Alvent akhirnya mendapatkan kesempatan untuk bergabung dengan Pelatnas tepat di tahun 2001. “Di Suryanaga sih jarang juara, paling juga semifinalis” sahut Alvent. “Di Pelatnas juga hoki, setelah masuk seniornya pada hengkang. Tony ke Amerika, Halim akhirnya menyusul. Jadi saya cepat majunya karena sering dikirim” tambahnya kemudian.

“Park Joo Boong”, jawab Alvent singkat saat ditanya mengenai atlet dunia yang sangat diidolakannya untuk diajak berduet. “Mainnya bagus. Kim Doong Moon juga bagus, soalnya tipe permainannya mirip sama Park”, papar Alvent bersemangat. “Semua berat sekarang. Kekuatan atlet udah merata” lanjutnya saat ditanya mengenai siapa lawan tanding yang paling disegani saat ini.

Menyikapi perihal plot-plotan atlet yang sempat terjadi antara para pelatih di Pelatnas dan berujung pada ‘gontok-gontokan’ kepentingan pada saat rapat, Alvent hanya bisa tersenyum seraya berujar, “No comment deh klo soal itu, mestinya pertanyaan ini nanyanya sama Ko Lius deh”.

(Fey, http://www.bulutangkismania.wordpress.com)

Posted in Tokoh | 5 Comments »

PIALA SUDIRMAN, KEBANGGAAN YANG BELUM PERNAH KEMBALI

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on February 15, 2009


(Disadur dari kompas dengan sedikit editing dengan tanpa mengurangi maksud pemberitaannya)

Piala Sudirman, Kebanggaan yang Belum Pernah Kembali

sudirman-cupCabang olahraga bulu tangkis adalah salah satu cabang lain yang memiliki kejuaraan beregu campuran, selain tenis. Memperebutkan Piala Sudirman, kejuaraan bulu tangkis beregu campuran ini secara rutin diselenggarakan dua tahun sekali sejak 1989.

Terlihat dari namanya, Piala Sudirman memang berasal dari Indonesia. Nama piala ini diambil dari nama mantan pemain di era tahun 1940-an, Dick Sudirman (1922-1986).

Dick juga pernah menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PB PBSI) selama 22 tahun, pada periode 1952-1963 dan 1967-1981. Suharsono Suhandinata, yang merupakan rekan almarhum dalam lobi bulu tangkis internasional, adalah orang pertama yang mengusulkan agar nama Sudirman dijadikan sebagai nama kejuaraan.

Namun, ketika mengajukan ide itu ke dunia bulu tangkis internasional pada 1986, belum diketahui pasti nama Piala Sudirman akan digunakan sebagai lambang kejuaraan seperti apa.

Ide untuk menjadikan Piala Sudirman sebagai supremasi kejuaraan beregu campuran kemudian muncul pada sidang Dewan Federasi Bulu Tangkis Internasional (IBF)-sekarang telah berganti nama menjadi Federasi Bulu Tangkis Dunia/WBF-pada 1987, di sela-sela kejuaraan dunia yang berlangsung di Beijing, China. Format yang digunakan adalah dengan mempertandingkan lima nomor yang selama ini dimainkan dalam turnamen individu, yaitu tunggal putra dan putri, ganda putra dan putri, serta ganda campuran.

Usul tersebut muncul tak lain karena telah ada kejuaraan beregu putra Piala Thomas, yang diambil dari nama Sir George Thomas dan kejuaraan beregu putri Piala Uber dari Betty Uber.

Indonesia kemudian diputuskan menjadi tuan rumah kejuaraan Piala Sudirman yang pertama pada 24-29 Mei 1989, setelah menang dalam persaingan dengan Denmark. Digelar di Istora Senayan Jakarta, kejuaraan ini diikuti 28 tim.

Dalam perjalanannya, tim peserta terus bertambah dan hingga saat ini dalam setiap penyelenggaraannya, Piala Sudirman selalu diikuti tak kurang dari 50 negara. Tidak seperti Piala Thomas dan Uber, kejuaraan Piala Sudirman tak mengenal babak kualifikasi, melainkan menggunakan sistem promosi dan degradasi.

Tim peserta yang menempati posisi teratas di setiap grup, kecuali Grup I, mendapat promosi untuk berkompetisi pada dua tahun berikutnya. Sebaliknya, peserta terbawah di setiap grup, kecuali Grup 7, akan terdegradasi. Setelah Sepuluh kali terselenggara, hanya ada tiga negara yang pernah membawa pulang piala yang terbuat dari emas 22 karat tersebut dan ketiganya berasal dari Asia, yaitu Indonesia, Korsel, dan China.

Indonesia menjadi juara pada penyelenggaraan pertama, setelah itu pada dua penyelenggaraan berikutnya piala direbut Korsel yang juga menjadi juara pada tahun 2003.

Dalam enam kali pelaksanaan lainnya, China mendominasi dengan lima kali memboyong piala tersebut.

Dengan demikian, hingga saat ini Piala Sudirman hanya menjadi kebanggaan supremasi kejuaraan dunia dari Indonesia dan belum lagi menjadi kebanggaan prestasi bulu tangkis Tanah Air. Bagaima di tahun 2009 ini ? Mudah mudahan keberuntungan di kandang harimau terus berlanjut … Semoga.

Posted in Berita | Leave a Comment »

PIALA SUDIRMAN

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on February 15, 2009


dick-sudirmanPiala Sudirman adalah kejuaraan bulutangkis internasional untuk nomor beregu campuran, mempertandingkan nomor tunggal pria, tunggal wanita, ganda pria, ganda wanita, dan ganda campuran. Kejuaraan ini digelar setiap dua tahun sekali. Nama Sudirman diambil dari nama tokoh perbulutangkisan Indonesia, almarhum Dick Sudirman, yang dikenal sebagai bapak bulu tangkis Indonesia.

Piala Sudirman tidak memperebutkan hadiah uang. Para pemain bertarung hanya untuk membela nama negara dan memperoleh poin peringkat IBF.

Kejuaraan ini pertama kali dicetuskan oleh Indonesia pada tahun 1986. Sepanjang sejarahnya, hanya lima negara yang telah berhasil mencapai babak semifinal di seluruh kejuaraan: Indonesia, Korea Selatan, Inggris, China dan Denmark.

Piala Sudirman yang pertama digelar di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta pada 24-29 Mei 1989. Pada kejuaraan tersebut, Indonesia berhasil tampil sebagai juara dengan mengalahkan Korea Selatan dengan nilai 3-2. Itulah satu-satunya gelar Piala Sudirman yang pernah diraih Indonesia.

Sejak tahun 1991, Piala Sudirman secara bergantian direbut Korea Selatan dan China. Korea menjadi juara pada tahun 1991, 1993, dan 2003 sedangkan Tiongkok juara pada 1995, 1997, 1999, 2001, 2005 dan 2007.

Piala Sudirman yang mempunyai tinggi 80 cm dirancang oleh Rusnadi dari Fakultas Seni Rupa ITB dan terdiri dari lima bagian. Tutup piala berbentuk Candi Borobudur yang merupakan salah satu monumen bersejarah yang terletak di Indonesia. Badan piala berbentuk kok (bola bulutangkis) yang berlapiskan emas 22 karat dengan berat 600 gram.

Pegangan piala berbentuk benang sari. Bagian keempat berbentuk daun sirih yang merupakan ornamen ucapan selamat datang. Bagian kelima berupa alas berbentuk segi delapan yang melambangkan arah mata angin yang terbuat dari kayu jati. Piala ini dikerjakan PT. Masterix Bandung dengan harga USD 15 ribu (sekitar Rp. 27 juta) kala itu.

Tahun ke tahun

sudirman

Posted in Berita | Leave a Comment »

HOME TOURNAMENT PB DAHLIA BANDAR LAMPUNG : Aswata A Juara

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on February 15, 2009


Tim Aswata A tampil sebagai juara pada home tournament PB Dahlia. Pada all Aswata final yang berlangsung di GOR PB Dahlia, Jalan Kramat, Labuhan Ratu, Jumat (30-1) malam, Aswata A mengalahkan “adik kandungnya” Aswata B 2-1.

Turnamen yang mempertandingkan nomor ganda itu berlangsung ketat. Ganda pertama Aswata A Hendrik/Aldo harus mengeluarkan segenap kemampuan untuk menundukkan “adiknya” Edwin/Solihin. Lewat pertarungan melelahkan, Hendrik/Aldo menang rubber set 17-21, 21-7, dan 21-19.

Namun, keunggulan Aswata A diimbangi Aswata B yang merebut poin di ganda kedua. Imam/Felix menang atas Raden/Saiful juga dalam pertarungan tiga set 21-6, 23-21, dan 21-13.

Di partai penentuan, Galih/Pur memastikan Aswata A merebut gelar juara dengan mengalahkan Ferly/Eka. Pertarungan harus dilalui Galih/Pur rubber set dengan skor 14-21, 21-12, dan 25-23.

Dengan keberhasilan itu, Aswata A merebut hadiah pembinaan Rp750 ribu. Aswata B harus puas dengan uang pembinaan Rp500 ribu. Posisi ketiga ditempati tuan rumah Dahlia dengan hadiah Rp250 dan keempat Auto 2000 mendapatkan Rp200 ribu.

Menurut ketua panitia penyelenggara, Faiz, turnamen tersebut merupakan yang pertama kali digelar PB Dahlia. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan silaturahmi antarpemain di PB Dahlia serta dengan peserta yang berasal dari luar tuan rumah.

Peserta yang ikut serta pada turnamen yang digelar sejak 13 Januari itu berjumlah 24 tim. Mereka berasal dari 13 klub dan 11 instansi yang ada di Bandar Lampung.

“Antusias peserta untuk mengikuti turnamen ini cukup tinggi. Padahal, turnamen ini baru pertama kali kami gelar,” kata dia.

Sementara itu, pemilik gedung, H. Syaiful, mengatakan untuk ke depan kegiatan ini akan digelar rutin.

“Mungkin akan kita gelar enam bulan sekali. Acara ini juga sekaligus untuk mempersiapkan para pemain guna mengikuti turnamen di luar,” kata dia. n LUG/U-1

Sumber : Lampost

Posted in Berita | Leave a Comment »

 
%d bloggers like this: