SEJAHTERA BADMINTON

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

  • Meta

  • TIRTA SPORT ONLINE SHOP

    Promo Tirta
  • WIDE SCREEN FORMATED

    February 2009
    M T W T F S S
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    232425262728  
  • JADILAH PEMENANG

    Pemenang selalu memiliki program

    Pecundang selalu memiliki alasan

    Ketika pemenang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Saya melakukan kesalahan”

    Ketika pecundang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Itu bukan kesalahan saya”

    Pemenang membuat komitmen-komitmen

    Pecundang membuat janji-janji

    Pemenang memilih seperti yang ia ingin lakukan

    Pecundang memilih sesuai pilihan orang banyak

    Pemenang membuat sesuatu terjadi

    Pecundang membiarkan sesuatu terjadi

  • BWF

    bwf-logo1
  • Archives

  • Top Posts

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 5,029 other followers

PELATNAS CIPAYUNG DAN ANCAMAN EKSODUS PEMAIN

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on February 17, 2009


Oleh: Nurwahid

Pelatnas Cipayung begolak. Sejumlah pemain senior memilih keluar dari kawah Candradimuka yang dikelola PB PBSI itu. Diawali sang fenomenal Taufik Hidayat, langkah mundur tersebut diikuti pemain ganda wanita dan campuran, Vita Marissa, serta ganda pria senior yang baru dipasangkan, Alven Yulianto dan Hendra A. Gunawan.

Sebelumnya, ancaman mundur juga dikeluarkan tiga bersaudara, Markis Kido (ganda nomor satu dunia berpasangan dengan Hendra Setiawan), Bona Septano (ganda pria berpasangan dengan Muhammad Ahsan), dan Pia Zebadiah (tunggal wanita).

Selain Taufik yang mundur dengan alasan regenerasi dan tidak dipakainya sang pelatih Mulyo Handoyo, pemain lain yang mundur dan mengancam mundur lebih disebabkan ketidakcocokan nilai kontrak yang disodorkan PB PBSI.

Gejolak di pelatnas Cipayung tersebut menjadi polemik di kalangan insan bulutangkis tanah air. Di antaranya, pengurus PBSI, pelatih, hingga mereka yang sekadar penggemar. Mereka khawatir prestasi bulutangkis Indonesia di ajang internasional melorot bila para pemain senior yang selama ini menjadi andalan merah putih tak lagi tinggal di Cipayung.

Kekhawatiran tersebut cukup beralasan. Sebab, pengkaderan di pelatnas saat ini berjalan lambat. Tengok saja jajaran tunggal pria utama. Sekitar lima tahun, Taufik, Sony Dwi Kuncoro, dan Simon Santoso tidak memiliki pelapis yang memadai.

Sempat muncul nama Wimpie Mahardi, Alamsyah, dan Tommy Sugiharto. Namun, mereka tak kunjung ”jadi”. Bahkan, Wimpie yang menjadi tunggal keempat Tim Thomas 2006 akhirnya terlempar dari pelatnas sebelum sempat masuk ”tim inti”.

Kekhawatiran serupa terjadi di ganda pria dan campuran. Setelah pasangan Luluk Hadiyanto/Alven Yulianto bubar, belum ada ganda putra yang benar-benar tangguh untuk melapis Kido/Hendra. Padahal, dalam beberapa dekade, Indonesia selalu memiliki lebih dari dua ganda tangguh.

Hal serupa terjadi di ganda campuran. Nomor tersebut hanya memiliki Nova Widiyanto/Lilyana Natsir setelah pasangan Flandy Limpele/Vita Marissa diceraikan.

Tunggal dan ganda wanita saat ini memang sedang paceklik pemain bagus. Kecuali, Maria Kristin yang beberapa bulan terakhir memberi harapan di sektor tungal.

Lantas, haruskan kita khawatir bila banyak pemain pelatnas keluar dari Cipayung? Mestinya tidak. Bahkan, pantas disyukuri. Siapa tahu, hal itu merupakan tanda awal bahwa pemain bulutangkis mulai bersikap profesional.

Tak perlu diragukan lagi, semua pemain bulutangkis kita sudah ”terlanjur” menjadikan cabang olahraga ini sebagai pilihan hidup. Mereka pasti akan berusaha menjaga dan mempertahankan performa agar tetap bisa bersaing dengan pemain dunia lain.

Berlatih di pelatnas atau luar pelatnas, hampir tak ada bedanya. Sebab, mereka adalah pemain yang sudah jadi. Jika harus didampingi pelatih, tugasnya tak lebih untuk memompa motivasi, memantau kondisi fisik, dan hanya sedikit memoles teknik.

Ketika mereka berada di luar pelatnas, bisa jadi motivasi semakin berlipat. Sebab, mereka harus membiayai sendiri semua aktivitas mulai dari mengontrak pelatih, sewa lapangan, hingga membuat prioritas turnamen yang akan diikuti. Semua biaya yang dikeluarkan harus ditanggung sang pemain.

Dari mana uang itu? Tentu, hadiah dari kejuaraan yang diikuti dan kalau laku, sponsor. Dengan demikian, mereka tak akan main-main dengan prestasi. Motivasi lain, mereka tentu tidak mau kalah dari pemain pelatnas. Sebab, mereka secara sadar telah meninggalkan tempat itu dan memilih mandiri yang diyakini sebagai jalan yang lebih baik.

Itulah profesionalitas. Para pemain tenis kelas dunia telah lama melakukannya. Mereka berhasil. Karena itu, harus ada pemain bulutangkis yang berani memulai.

Contoh lain sebenarnya ada. Ingat, pasangan Candra Wijaya/Tony Gunawan masih bisa berprestasi meski tidak di pelatnas. Usia mereka tak lagi muda. Bahkan, 2007 Tony Gunawan bisa menjadi juara dunia ganda putra.

Yang mencengangkan, pasangan yang digandeng bukan pemain kelas dunia. Melainkan, pemain ”antah berantah”. Yakni, Howard Bach, pemain Amerika Serikat berdarah Vietnam.

Contoh lain adalah pasangan Flandy Limpele/Eng Hian yang semakin moncer justru ketika keluar pelatnas di awal 2000-an. Pada Olimpiade Athena 2004, mereka masih mampu meraih perunggu.

Anggap saja mereka yang keluar Cipayung adalah atlet yang telah lulus. Mereka telah naik kelas. Dengan demikian, tempat di Cipayung yang mereka tinggalkan bisa diisi pemain muda lain.

Harapannya, semakin banyak pemain yang berkesempatan mendapat fasilitas latihan bagus, pelatih bagus, dan bisa mengikuti kejuaraan internasional. Sesuatu yang jarang didapat bila tidak bergabung dengan pelatnas.

Ingat, salah satu kelemahan Indonesia dalam pembibitan adalah minimnya kesempatan mengikuti kejuaraan internasional. Itu merupakan sebuah momen yang akan mengasah mental pemain.

Kalau kita merelakan mereka keluar pelatnas, tinggal satu hal yang terpenting. Ketika dipanggil untuk memperkuat tim merah putih untuk even-even penting, mereka harus bersedia.

Catatan : Nurwahid (wartawan Jawa Pos)

(Sumber: Jawapos.co.id)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: